Tag Archives: paud

Meningkatkan Kemampuan Sosialisasi Anak Melalui Kegiatan Bermain Air

MENINGKATKAN KEMAMPUAN SOSIALIASI ANAK
MELALUI KEGIATAN BERMAIN AIR
DI SENTRA BAHAN ALAM DI TKIT AL-HIKMAH

DI SUSUN OLEH
IFAT LATIFAH,S.Pd
0857-80945251
Kepala Sekolah TKIT AL-Hikmah

Untuk memenuhi Tugas akhir sebagai peserta Workshop
Menulis Praktik Berhasil Pengembangan Tumbuh Anak Usia Dini
Selasa, 28 Agustus 2018
Gedung Guru Indonesia

PENDAHULUAN
BAB I
Anak usia dini berada dalam masa keemasan di sepanjang rentang usia perkembangan manusia. Masa ini merupakan periode sensitif(sensitive periods). Selama masa inilah anak secara khusus mudah menerima stimulus dari lingkungannya. Usia keemasan merupakan masa di mana anak mulai peka untuk menerima berbagai stimulasi dan berbagai upaya pendidikan dari lingkungannya baik disengaja atau tidak disengaja. Pada masa peka inilah terjadi kematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis sehingga anak siap merespon dan mewujudkan semua tugas-tugas perkembangan yang diharapkan muncul pada pola perilakunya sehari-hari.

Baca lebih lanjut

Pentas Operet Membangun Karakter Anak Usia Dini

Nama Peserta : Kurrotu Aini, S. Psi

No WA : 085101745988

Lembaga : PAUD Salsabila Baby School

Tugas    :  Best Practise bidang Pengembangan Seni

Melalui pentas Operet membangun karakter anak usia dini

           OPERET SALSABILA 2018 – IBRAHIM Baca lebih lanjut

Pengembangan Fisik Motorik Dalam Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

PENGEMBANGAN FISIK MOTORIK DALAM TUMBUH KEMBANG ANAK USIA DINI

Disusun oleh : Asmani

Dari : TK Islam Arafah

 

Pengembangan fisik motorik pada anak usia usia dini dapat melalui kreatifitas anak melalui permainan. Pendekatan permainan kreatif digunakan sebagai dasar untuk merancang sebuah kurikulum. Guru dapat mengembangkan kurikulum sesuai dengan pengalamannya mengajar di kelas.

Pendekatan permainan kreatif berhubungan dengan potensi kreatifitas yang dimiliki tiap anak. Permainan kreatif akan mendukung pengembangan fisik motorik anak dalam beberapa aspek seperti berikut ini :

  1. Koordinasi mata dengan tangan atau mata dengan kaki, meliputi kegiatan menggambar, menulis, memanipulasi atau memainkan objek, latihan ingatan visual, melempar, menangkap dan menendang.
  2. Keterampilan gerakan lokomotor meliputi berjalan, melompat, melonjat, berlari, berguling, merayap dan merangkak.
  3. Keterampilan gerakan nonlokomotor meliputi duduk, berdiri, melambaikan tangan, hadap kanan – kiri, merentangkan tangan, membungkuk dan jongkok.
  4. Pengelolaan dan pengendalian tubuh, meliputi berjalan di atas papan titian, mengikuti jejak, senam irama, mengukur jarak dengan melangkah atau melompat, berlari.

Bermain merupakan sarana bagi anak untuk mengungkapkan kreatifitasnya. Melalui bermain anak dapat menganalisis berbagai situsi atau benda dan mencoba menemukan cara baru untuk menatanya kembali. Misalnya, saat bermain bongkar pasang dengan balok, anak bisa membuat bentuk mercusuar, kemudian di bongkar lagi membuat sebuah terowongan bawah tanah, dibongkar lagi, lalu membuat gedung perkantoran.

Guru memegang peran penting dalam proses kreatif saat anak – anak bermain. Guru diharapkan mempunyai kepekaan yang tinggi untuk tidak membuat anak – anak ngambek di tengah – tengah proses kreatif mereka. Guru semestinya faham kapan saatnya membiarkan pembelajaran kreatifitas tetap berjalan dan bagaimana menjaga supaya pemikiran dan gagasan anak tetap lancar mengalir.

Pada pembelajaran di TK, permainan kreatif untuk mengembangkan fisik motorik anak dapat dilakukan dengan 3 jenis kegiatan bermain yaitu :

  1. Latihan

Jenis permainan ini banyak digunakan untuk bayi atau anak dibawah usia 3 tahun.

 

  1. Bermain Symbolik

Permainan symbolik banyak dilakukan saat anak berusia 2-7 tahun, yang terbagi menjadi 2 tahap, yaitu bermain pura – pura untuk anak usia 2-4 tahun dan bermain drama untuk anak usia 4-7 tahun.

 

  1. Perlombaan

Jenis permainan perlombaan biasanya dilakukan saat anak berusia 7-12 tahun, namun juga dapat dilakukan untuk anak – anak usia TK.

Mengembangkan fisik motorik di TK melalui bermain kreatif memerlukan perencanaan yang matang agar pelaksanaannya sesuai dengan apa yang kita inginkan. Untuk memulai rancangan permainan tersebut, terlebih dahulu kita perlu mengidentifikasi aspek tujuan pengembangan fisik motorik yang diinginkan, kemudian mencari jenis permainan yang sesuai, setelah itu pikirkan apa saja alat atau perlengkapan yang dibutuhkan untuk permainan tersebut dan kelompok mana yang melakukan permainan tersebut.

Berikut ini adalah beberapa contoh permainan kreatif sesuai dengan aspek tujuan yang diinginkan :

  1. Permainan kreatif untuk motori halus
  2. Aku dapat memakai naju sendiri (jenis : latihan)
  3. Topeng / boneka piring kertas (jenis : seni)

 

  1. Permainan kreatif untuk gerakan lokomotor
  2. Berkunjung ke kebun binatang (jenis : drama)
  3. Ayo dorong terus (jenis : perlombaan)
  4. Sedang apa sekarang? (jenis : latihan)
  5. Bermain cermin (jenis : bermain simbolik)

 

  1. Permainan kreatif untuk olah dan kontrol tubuh
  2. Burung – burung di pohon (jenis : dramatisasi irama bebas)
  3. Kereta dorong (jenis : perlombaan)

 

Bahasa Anakku

Best Practice Kemampuan Berbahasa Anak Usia Dini

Nama             : Fatimah, S.Pd.AUD

Instansi         : TK.’Aisyiyah 48

BAHASA ANAK KU

Baca lebih lanjut

Mengembangkan Potensi Anak Usia Dini Melalui Tari

MENGEMBANGKAN POTENSI ANAK USIA DINI MELALUI TARI DI TK PERMATA INSANI ISLAMIC SCHOOL

tari-paud

Menari adalah ungkapan ekspresi perasaan dan ekspresi jiwa manusia yang diungkapkan melalui gerakan yang indah. Menari tidak hanya diminati oleh orang dewasa,anak – anak, orangtua, semua suka menari. Anak usia dini adalah masa dimana mereka penuh dengan imajinasi dan juga masa aktif dimana mereka senang bergerak dan mengekplorasi diri. Maka saya sebagai pendidik paud memanfaatkan kegiatan menari sebagai bentuk pembelajaran yang menyenangkan untuk mengembangkan potensi diri serta kecerdasan anak usia dini.

            Baca lebih lanjut

Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Field Trip

MENINGKATKAN KREATIVITAS ANAK

USIA   5-6 TAHUN MELALUI KEGIATAN FIELD TRIP

 workshop

Nama                         : Hartati, S.Pd

Asal TK                     : Tk Pertiwi IV

  Baca lebih lanjut

Pengembangan Aspek Fisik Motorik pada Anak Usia Dini

PENGEMBANGAN ASPEK FISIK MOTORIK PADA ANAK USIA DINI

Oleh : Fitri Handayani, S.KM, M.Pd

Dunia yang mendigital membawa pengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat. Seperti pisau bermata dua, keberadaan teknologi digital ini memiliki manfaat kebaikan dan juga efek buruk bagi penggunanya. Kemudahan dalam hidup dapat diperoleh dengan teknologi terkini, namun dampak buruknya juga tidak luput mengiringi. Pengaruh terhadap perkembangan anak usia dini pun tidak dapat dianggap ringan. Saat ini anak usia dini tidak lagi asing dengan berbagai gawai canggih, mulai dari telepon genggam, laptop, ipad, computer dan lainnya, yang tersambungkan dengan internet. Bukan hal aneh kita melihat anak usia dini terlihat asyik dengan gawainya. Istilah kuota, internet, wifi bahkan download bukan hal baru bagi mereka.

Layar yang berwarna, suara yang menarik, dan kemudahan penggunaan gawai menjadi daya magis tersendiri untuk anak usia dini. Mereka sudah teralihkan dari permainan-permainan di dunia nyata, dan lebih menikmati permainan daring di gawai dalam genggaman tangan mungil mereka. Padahal belum saatnya mereka terpapar karena banyak efek buruk dalam aspek kesehatan, maupun aspek perkembangan anak lainnya. Salah satunya yaitu dalam aspek perkembangan fisik dan motorik anak.

Anak usia dini yang sudah terpapar dengan gawai, biasanya lebih cenderung menyendiri, duduk tenang dengan tangan yang bergerak di atas layar gawainya. Mereka kuat berjam-jam tanpa pindah posisi, tanpa melepas pandangan mata bahkan bisa menahan rasa lapar saking asyiknya bermain. Mereka kurang suka bergerak, dan tidak terstimulus anggota tubuhnya kecuali jempolnya saja. Padahal di usia tersebut, semua bagian tubuh harus aktif bergerak agar bisa optimal tumbuh kembangnya.

Hal ini terjadi tidak hanya pada satu atau dua orang saja. Banyak anak usia dini yang menunjukkan gejala tersebut. Termasuk anak usia dini yang masuk ke lembaga pendidikan TK Muslimat 2, tempat kami mengabdikan diri. Kondisi ini menjadi tantangan bagi para pendidik di TK Muslimat 2, untuk bisa kembali mengajak anak bergerak, berjalan, berlari dan melompat namun dalam kondisi yang menyenangkan. Oleh karena itu muncul ide untuk kembali menggalakkan permainan tradisional anak yang pernah dimainkan oleh para guru di masa kecilnya.

Dari hasil diskusi maka muncul ide untuk menjadwalkan permainan tradisional anak setiap seminggu sekali di sekolah, yakni permainan tradisional yang banyak merangsang gerak anak. Diantara permainan tradisional tersebut yakni ; ular naga, lompat tali, engklek (tapak gunung), kakak mia, boy-boyan, petak umpet dan sebagainya.

Selain bergerak untuk merangsang seluruh anggota gerak tubuhnya, anak-anak juga diajarkan tentang aturan permainan. Berikut ini tahapan yang bisa dilakukan dalam pelaksanaan permainan :

  1. Guru mengajak anak untuk berkumpul di lokasi permainan , misalnya di halaman sekolah atau di aula sesuai kebutuhan permainan.
  2. Guru memperkenalkan nama permainan, beri sekilas informasi mengenai permainan yang akan dilaksanakan.
  3. Guru menyiapkan peralatan, bila permainan memerlukan alat dan penanda area permainan.
  4. Guru memberi informasi tentang aturan permainan, mengajarkan lagu yang dimainkan bila memang ada lagu yang dinyanyikan saat permainan.
  5. Guru memberikan contoh langsung pelaksanaan permainan.
  6. Memulai permainan dengan pembacaan basmalah
  7. Pelaksanaan permainan
  8. Mengakhiri permainan dengan pembacaan hamdalah.
  9. Melakukan evaluasi pada saat recalling di akhir pembelajaran pada hari tersebut. Misalkan dengan menanyakan perasaan anak-anak, bagian yang disukai dan tidak disukai, rencana permainan selanjutnya dan tugas agar anak juga memainkannya bersama ayah-bunda, dan adik-kakak atau teman di rumah.

Berawal dari kegiatan permainan di sekolah ini, kemudian anak mulai terkikis sedikit demi sedikit ketergantungan terhadap gawai. Namun tentunya keberhasilannya tidak lepas dari kerjasama dan keterlibatan orang tua. Bila di rumah tidak diberi kesempatan dan ruang untuk melakukannya, anak tetap akan pasif dan semakin ketergantungan dengan gawai dan sejenisnya.