Tag Archives: pembelajaran

Paradigma Pembelajaran Abad 21

20160126_101713

Kompetensi masa depan yang diperlukan dalam menghadapi arus globalisasi antara lain berkaitan dengan kemampuan berkomunikasi, kemampuan berpikir jernih dan kritis, kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan, kemampuan menjadi warga negara yang bertanggungjawab, kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda, dan kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal. Disamping itu generasi Indonesia juga harus memiliki minat luas dalam kehidupan, memiliki kesiapan untuk bekerja, memiliki kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya, dan memiliki rasa tanggung-jawab terhadap lingkungan.

Baca lebih lanjut

Iklan

Pembelajaran Digital

 
 
KOMPAS.com
— Saat ini, kemajuan dunia teknologi tak terelakkan lagi. Era digital seakan “meresap”, mau tidak mau, ke sendi-sendi kehidupan kita.
 
Berita media massa, pembayaran transaksi, aplikasi penunjang kerja, dan sebagainya dapat diakses dengan mudah via telepon pintar atau smartphone yang kita genggam.
 
Untuk dunia pendidikan, khususnya bagi sekolah, penggunaan gadget (gawai) di kalangan pendidik ataupun siswa tentu semakin mudah dilihat. Penyesuaian untuk penerapannya, agar fungsinya positif, pun perlu persiapan yang baik dan matang.
 
Oleh karena itu, untuk menghadapi laju era digital yang kian deras, Penerbit Grasindo, Pesona Edu, dan Samsung berkolaborasi menyelenggarakan “Seminar Mempersiapkan Sekolah Memasuki Era Pembelajaran Digital” yang diadakan di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Rabu (31/8/2016).
 
Acara seminar ini dihadiri oleh Marketing Manager Kompas Gramedia Agustinus Harsono, Manager Education and Government Samsung Indonesia Banu Afwan Pribadi, Chief Marketing Officer Pesona Edu, Ira Anindita, dan Waka Kurikulum SD Yos Sudarso Batam Didiek Dwi A.
 
Dalam pemaparannya, Harsono mengatakan bahwa barang digital, termasuk buku digital, berkembang dengan cepat. Oleh karena itu, hal-hal pokok dalam pembelajaran sebaiknya dibuat menjadi digital.
 
“Barang digital, termasuk buku digital, itu perkembangannya sangat cepat dan nyaris tidak dapat diikuti oleh dunia pendidikan. Hal-hal yang pokok harus dibuat menjadi digital, bukan pengayaan lagi,” kata Harsono.
 
“Buku pokok dibuat menjadi digital. Dengan demikian, siswa bisa belajar dengan memakai tablet karena semua ada situ. Dengan catatan, safety (keselamatan dan keamanan) menjadi kunci,” ujarnya.
 
Adapun yang menjadi pilot project penerapan sekolah digital ini ialah SD Yos Sudarso Batam, Kepulauan Riau, dan SD Santa Theresia I Pangkal Pinang, Bangka Belitung, yang berada di bawah naungan Yayasan Tunas Karya.
 
Didiek mengatakan, penerapan pembelajaran digital ini membutuhkan persiapan dan sosialisasi yang matang.
 
“Sekolah mulai menerapkan pembelajaran digital mulai tahun ajaran sekarang, 2016-2017. Kami memulainya dari jenjang kelas IV. Sebelumnya, kami melakukan sosialisasi, baik kepada orangtua siswa maupun guru-guru,” ujar Didiek.
 
“Selain itu, kami melakukan psikotes terhadap siswa untuk mengetahui kondisi emosi dan intelektual dari siswa agar bisa mengikuti kelas media digital. Tak lupa, pelatihan terhadap guru pun dilakukan. Sejauh ini, respons orangtua dan siswa cukup antusias,” katanya.
 
Media pendukung
 
Dalam praktiknya, untuk pembelajaran digital ini, media yang digunakan ialah tablet. Tablet ini pun telah diatur atau di-setting sedemikian rupa sehingga aman digunakan oleh siswa.
 
“Dalam penerapan penggunaan tablet, ada geofencing area dan time based. Untuk geofencing area, ketika siswa keluar sekolah, device tabletnya akan terblokir. Jika tablet hilang pun, itu akan terblokir, tidak bisa digunakan. Intinya alat itu akan jadi barang rongsokan,” kata Banu.
 
“Untuk time based, penggunaan fungsi dari tabletnya diatur sesuai dengan ketentuan waktu, misalnya dari pukul 07.00-16.00 sore, Senin hingga Jumat,” katanya.
 
Dalam penyediaan konten edukasi dalam tablet tersebut, Pesona Edu mengambil peran. Selama ini, Pesona Edu memang fokus dalam pengembangan software di bidang pendidikan.
 
“Ketersediaan konten pendidikan sangat penting. Kami mengutamakan konten-konten yang paling butuh untuk disimulasikan. Penyediaan konten butuh proses yang panjang,” kata Ira Anindita, Chief Marketing Officer Pesona Edu.
 
Eris Peserta Seminar Mempersiapkan Sekolah Memasuki Era Pembelajaran Digital mengikuti simulasi proses pembelajaran digital yang berlangsung di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (31/8/2016).
 
Dalam acara ini, peserta seminar pun mendapat kesempatan untuk mencoba menggunakan tablet yang dipakai dalam pembelajaran digital. Simulasi dilakukan layaknya ketika proses pembelajaran dilakukan.
 
Secara umum, proses praktiknya berjalan lancar, meski terkendala koneksi internet, dan peserta simulasi dapat mengikuti dengan baik.
 
Dengan adanya sinergi dan kolaborasi, seperti yang dilakukan oleh pihak–pihak yang disebutkan di atas dan juga perhatian pemerintah, pembelajaran digital, tentu dengan persiapan yang matang, dapat dilakukan dengan baik.
 
Hal ini terbukti dengan keberlangsungan pembelajaran digital di SD Yos Sudarso Batam, Kepulauan Riau, dan SD Santa Theresia I Pangkal Pinang, Bangka Belitung.
 
Bisa jadi sekolah-sekolah lain pun kemudian akan menyusul….
 

Guru dan Siswa

Kalau anda bertanya kepada para siswa, apa bedanya guru dan siswa maka mereka akan dengan seragam mengatakan kalau guru mengajar, siswa diajar dan heeeem……harus belajar. Benarkah jawaban para siswa tersebut?

13490228661854076049

Guru dan Siswa (dok: Pribadi)

 

Guru adalah orang yang bertugas mendidik dan mentransferkan ilmunya kepada para peserta didiknya. Siswa adalah peserta didik yang berhak mendapatkan bimbingan dari seorang guru. Guru dan siswa adalah satu kesatuan dalam proses pendidikan. Guru dan siswa berperan dengan fungsi dan tugasnya masing-masing dalam pembelajaran. Guru dan siswa sama-sama memiliki hak dan kewajiban.

Hak seorang guru adalah mengajarkan ilmunya, sedangkan kewajiban seorang guru adalah mentransferkan ilmu yang dimilikinya dengan gaya mengajar yang unik. Anda boleh berbeda dengan saya, karena banyak hak dan kewajiban seorang guru yang bisa dituliskan di sini. tapi intinya guru berhak mendapatkan kesejahtaeraan yang layak setelah segala kewajibannya telah dia penuhi. Sama halnya dengan seorang warga negara yang baik. Dia memiliki kewajiban membayar pajak kepada negara, tetapi setiap warga negara berhak mendapatkan pelayanan yang layak dari negara.

Hak seorang siswa adalah mendapatkan bimbingan dan pelayanan prima dari guru. Sedangkan kewajiban siswa yang utama adalah belajar, berusaha memahami ilmu pengetahuan yang disampaikan oleh gurunya. Di sinilah terjadi proses interaksi guru dan siswa. Siswa dan guru sebenarnya sama-sama belajar. Mereka melakukan apa yang disebut proses pembelajaran. Dari proses pembelajaran inilah didapatkan potensi unik siswa dan hasil belajar yang diharapkan. Guru mengajar, siswa diajar. Guru mengawasi, siswa mengerjakan kegiatan yang diperintahkan guru. Semua perintah guru itu tertulis dalam apa yang disebut rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

Namun, seiring berjalannya waktu, peran dan fungsi mereka tidak lagi diajar dan mengajar. Guru dan siswa sebenarnya sama-sama belajar. Di sanalah terjadi proses pembelajaran yang ideal. Sebuah proses yang membawa guru dan siswa saling berinteraksi dalam memahami materi pelajaran. Guru dan siswa sama-sama mengupas kebenaran yang terjadi dalam khasanah ilmu pengetahuan yang beragam. Di sanalah terjadi proses yang disebut saling memberi informasi dan saling berkomunikasi. Dimana siswa bertanya, guru menjawab. Guru bertugas sebagai fasilitator, dan bukan sebagai orang yang terlalu dominan di kelas. Begitupun sebaliknya, bila guru ingin menguji sampai dimana pemahaman siswa tentang materi yang diberikannya, ia bisa langsung mewawancarainya, atau melakukan ulangan atau tes sebagai alat evaluasi dalam pembelajaran.

Sebenarnya dalam era TIK sekarang ini banyak guru yang belajar dari siswa. Banyak guru yang belum melek TIK, dan belajar dari para siswanya. Akhirnya siswa mengajar guru, dan guru diajar siswa. Dimana pernah terjadi ada siswa SMK yang mengajari gurunya berinternet ria. Salahkah? Tidak. Itu sudah biasa. Sebab banyak guru belum melek internet.

Dalam sebuah pembelajaran yang efektif, guru dan siswa akan saling melengkapi. Dimana guru bertugas merencanakan pembelajaran dan siswa adalah peserta didik yang akan mendapatkan pembelajaran dari yang direncanakan guru. Ketika guru merencanakan pembelajarannya dengan sangat matang, maka terjadilah proses pembelajaran yang sangat menantang siswa untuk mengeksplore pengetahuan itu. Tetapi, bila guru tak matang dalam membuat perencanaan pembelajaran, maka pembelajaran menjadi terkesan membosankan. Tak terlihat lagi suasana yang saling menyenangkan, menyenangkan siswa, dan juga menyenangkan guru. Kalau itu sampai terjadi, guru harus melakukan instropeksi diri dan lakukanlah sebuah penelitian tindakan kelas (PTK).

Pembelajaran yang berkualitas dapat tercapai karena adanya guru yang memahami perannya dengan baik, sehingga siswa merasakan bahwa gurunya adalah guru yang bisa mendampinginya dalam memahami khasanah ilmu pengetahuan yang bertebaran di muka bumi ini. Guru memerlukan siswa, siswa memerlukan guru. Ada saling memberi, dan menerima.

Adakah guru tanpa siswa? Lalu adakah siswa tanpa guru? Guru dan siswa seperti romeo dan yuliet yang saling menyayangi dan membutuhkan. Kalau ada kasus, dimana guru sampai menampar siswa, itu tandanya nilai-nilai kasih dan sayang telah berkurang di hati guru. Mungkin guru itu perlu belajar dan menonton film Romeo and Yuliet. Atau juga perlu menonton film best seller laskar pelangi berkali-kali.

Guru dan siswa adalah pasangan pembelajaran yang ideal dan tak akan pernah hilang dalam dunia pendidikan kita. Tinggal kita mengolahnya menjadi pasangan yang indah, penuh warna-warni bak pelangi, dan disanalah para guru akan lebih mengenal karakter para siswanya dengan baik.

13490234991788664127

Kegiatan Upacara Bendera di SMP-SMA Labschool Jakarta

 

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

 

 

 

Pembelajaran Aktif

Pembelajaran Siswa Aktif

Saya sempat bertanya kepada diri saya sendiri, apakah yang dimaksud dengan  pembelajaran siswa aktif? Pembelajaran yang kata orang membuat siswa aktif. Aktif bertanya, aktif melakukan gerakan tangan dan mata, lalu gurunya asyik memandangi para siswanya. Benarkah yang aktif itu hanya siswa saja? Benarkah guru tak dituntut juga aktif seperti siswa? Ah, rasanya saya lihat di persekolahan kita gurulah yang aktif, dan siswa pasif mendengarkan guru berbicara. Guru masih menjadi pusat sumber belajar siswa.

Baca lebih lanjut

Proses Pembelajaran

PROSES BELAJAR-PEMBELAJARAN : SUATU PROSES KOMUNIKASI
Oleh: Prof. DR. Sudarsono Sudirdjo, M.Sc Ed.

Pengantar
Sering dikatakan bahwa proses belajar pembelajaran adalah merupakan proses komunikasi dimana terjadi proses penyampaian pesan tertentu dari sumber belajar (misalnya guru, instruktur, media pembelajaran,dll.) kepada penerima (peserta belajar, murid, dsb), dengan tujuan agar pesan (berupa topik-topik dalam mata pelajaran tertentu) dapat diterima (menjadi milik, di-shared) oleh peserta didik / murid-murid.

Kesadaran yang demikian ini tidaklah dijumpai dalam penyelenggaraan pendidikan yang telah berlangsung dari abad ke abad, melainkan baru terjadi pada sekitar tahun 1950-an, pada waktu Berlo mengembangkan suatu model komunikasi yang disebutnya SMCR, singkatan dari Source, Message, Channel dan Receiver. Model SMCR dimaksudkan untuk menunjukkan terjadinya proses komunikasi antar manusia (human communication) yang diilhami oleh model komunikasi yang telah dikembangkan lebih dahulu oleh Shannon-Weaver pada tahun 1946 dalam bidang matematika dan elektronik dengan unsur-unsur komunikasi seperti Source (Sumber), Transmitter (pemancar), Message (pesan), Signal, Noise (gangguan), Receiver (pesawat penerima) dan Destination (tujuan yaitu orang yang diharapkan dapat menerima pesan yang disampaikan).

Adanya kesadaran bahwa proses belajar dan pembelajaran adalah merupakan proses komunikasi membawa implikasi-implikasi yang sangat penting dan mendasar bagi penyelenggaraan dan pelaksanaan serta hakikat proses belajar dan pembelajaran itu sendiri.

Baca lebih lanjut

BELAJAR, PEMBELAJARAN DAN SUMBER BELAJAR

sumberbelajar1

Silahkan di download, semoga bermanfaat!