Tag Archives: pgri

Pengembangan Aspek Fisik Motorik pada Anak Usia Dini

PENGEMBANGAN ASPEK FISIK MOTORIK PADA ANAK USIA DINI

Oleh : Fitri Handayani, S.KM, M.Pd

Dunia yang mendigital membawa pengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat. Seperti pisau bermata dua, keberadaan teknologi digital ini memiliki manfaat kebaikan dan juga efek buruk bagi penggunanya. Kemudahan dalam hidup dapat diperoleh dengan teknologi terkini, namun dampak buruknya juga tidak luput mengiringi. Pengaruh terhadap perkembangan anak usia dini pun tidak dapat dianggap ringan. Saat ini anak usia dini tidak lagi asing dengan berbagai gawai canggih, mulai dari telepon genggam, laptop, ipad, computer dan lainnya, yang tersambungkan dengan internet. Bukan hal aneh kita melihat anak usia dini terlihat asyik dengan gawainya. Istilah kuota, internet, wifi bahkan download bukan hal baru bagi mereka.

Layar yang berwarna, suara yang menarik, dan kemudahan penggunaan gawai menjadi daya magis tersendiri untuk anak usia dini. Mereka sudah teralihkan dari permainan-permainan di dunia nyata, dan lebih menikmati permainan daring di gawai dalam genggaman tangan mungil mereka. Padahal belum saatnya mereka terpapar karena banyak efek buruk dalam aspek kesehatan, maupun aspek perkembangan anak lainnya. Salah satunya yaitu dalam aspek perkembangan fisik dan motorik anak.

Anak usia dini yang sudah terpapar dengan gawai, biasanya lebih cenderung menyendiri, duduk tenang dengan tangan yang bergerak di atas layar gawainya. Mereka kuat berjam-jam tanpa pindah posisi, tanpa melepas pandangan mata bahkan bisa menahan rasa lapar saking asyiknya bermain. Mereka kurang suka bergerak, dan tidak terstimulus anggota tubuhnya kecuali jempolnya saja. Padahal di usia tersebut, semua bagian tubuh harus aktif bergerak agar bisa optimal tumbuh kembangnya.

Hal ini terjadi tidak hanya pada satu atau dua orang saja. Banyak anak usia dini yang menunjukkan gejala tersebut. Termasuk anak usia dini yang masuk ke lembaga pendidikan TK Muslimat 2, tempat kami mengabdikan diri. Kondisi ini menjadi tantangan bagi para pendidik di TK Muslimat 2, untuk bisa kembali mengajak anak bergerak, berjalan, berlari dan melompat namun dalam kondisi yang menyenangkan. Oleh karena itu muncul ide untuk kembali menggalakkan permainan tradisional anak yang pernah dimainkan oleh para guru di masa kecilnya.

Dari hasil diskusi maka muncul ide untuk menjadwalkan permainan tradisional anak setiap seminggu sekali di sekolah, yakni permainan tradisional yang banyak merangsang gerak anak. Diantara permainan tradisional tersebut yakni ; ular naga, lompat tali, engklek (tapak gunung), kakak mia, boy-boyan, petak umpet dan sebagainya.

Selain bergerak untuk merangsang seluruh anggota gerak tubuhnya, anak-anak juga diajarkan tentang aturan permainan. Berikut ini tahapan yang bisa dilakukan dalam pelaksanaan permainan :

  1. Guru mengajak anak untuk berkumpul di lokasi permainan , misalnya di halaman sekolah atau di aula sesuai kebutuhan permainan.
  2. Guru memperkenalkan nama permainan, beri sekilas informasi mengenai permainan yang akan dilaksanakan.
  3. Guru menyiapkan peralatan, bila permainan memerlukan alat dan penanda area permainan.
  4. Guru memberi informasi tentang aturan permainan, mengajarkan lagu yang dimainkan bila memang ada lagu yang dinyanyikan saat permainan.
  5. Guru memberikan contoh langsung pelaksanaan permainan.
  6. Memulai permainan dengan pembacaan basmalah
  7. Pelaksanaan permainan
  8. Mengakhiri permainan dengan pembacaan hamdalah.
  9. Melakukan evaluasi pada saat recalling di akhir pembelajaran pada hari tersebut. Misalkan dengan menanyakan perasaan anak-anak, bagian yang disukai dan tidak disukai, rencana permainan selanjutnya dan tugas agar anak juga memainkannya bersama ayah-bunda, dan adik-kakak atau teman di rumah.

Berawal dari kegiatan permainan di sekolah ini, kemudian anak mulai terkikis sedikit demi sedikit ketergantungan terhadap gawai. Namun tentunya keberhasilannya tidak lepas dari kerjasama dan keterlibatan orang tua. Bila di rumah tidak diberi kesempatan dan ruang untuk melakukannya, anak tetap akan pasif dan semakin ketergantungan dengan gawai dan sejenisnya.

Inilah Bukti Perjuangan PGRI

Komentar pak Undang Koswara, bagus juga:
Sebetulnya banyak sekali perjuangan PGRI baik pengurus pusat maupun pengurus daerah dalam memperjuangkan nasib guru pada khususnya dan dunia pendidikan pada umumnya.
Ada beberapa hasil perjuangan PGRI yang perlu ditunjukan untuk menghindari fitnah dan dapat mengurangi peran serta sebagai anggota PGRI.
Secara umum Pengurus PGRI pusat yang lebih aktif melakukan perjuangan dan desakan baik dikalangan eksekutif maupun legislatif untuk mengoalkan apa yang menjadi usulannya.
Beberapa perjuangan PGRI yang telah dilakukan selama ini antara lain sebagai berikut :
  1. Mengusulkan kenaikan gaji pada tahun 1999 kepada Presiden, dan hasilnya gaji PNS naik Rp 155.250,00.
  2. Tahun 2000 PGRI mengusulkan tunjangan pendidikan bagi guru, hasilnya tunjangan fungsional guru naik 150%.
  3. Mengusulkan honor guru wiyata bakti, hasilnya guru wiyata bhakti baik di sekolah negeri maupun swasta mendapat tunjangan dari pemerintah sebesar Rp 75.000,00 per bulan.
  4. Memperjuangkan bantuan untuk sekolah swasta, hasilnya bantuan pendidikan untuk sekolah swasta mengalami peningkatan yang signifikan.
  5. Mengusulkan agar guru TK mendapat perhatian, hasilnya ada Direktur PAUD, pengangkatan guru TK dan peningkatan kesejahteraan guru TK.
  6. Mengusulkan agar tunjangan beras PNS diganti dengan uang agar tidak merugikan PNS. Hasilnya sekarang PNS telah menerima tunjangan beras dalam bentuk uang tunai yang dibayarkan bersamaan dengan penerimaan gaji.
  7. Pemaksimalan penggunaan ASKES agar dapat digunakan di RS Swasta. Hasilnya sekarang ASKES bisa digunakan di RS Swasta.
  8. Untuk kenaikan golongan IV/a ke atas ditinjau kembali agar tidak diproses sampai ke pusat sehingga memakan waktu lama. Hasilnya kenaikan pangkat IV/a ke atas cukup di tingkat provinsi, kecuali guru di lingkungan Departemen Agama tetap di pusat.
  9. Tunjangan THR dan tambahan kesejahteraan bagi guru. Hasilnya pemerintah kabupaten/kota telah mencairkan tunjangan THR dan dana kesejahteraan bagi seluruh PNS di jajarannya.
  10. Rekruitmen PNS khususnya guru, hasilnya dilakukan secara nasional. Mengusulkan agar Guru GTT di sekolah negeri diangkat menjadi PNS. Hasilnya guru kontrak secara otomatis diangkat menjadi PNS meskipun secara bertahap. Bahkan di Depag seluruh data guru yang masuk dalam data Dbase secara bertahap akan diangkat menjadi PNS.
  11. Perlindungan dan pembelaan terhadap anggota PGRI yang tersandung masalah hukum oleh LKBH tanpa dipungut biaya.
  12. Mengawal dan mendorong lahirnya UU Sisdiknas.
  13. Mendesak lahirnya PP tentang Sisdiknas.
  14. Mengusulkan agar guru ditangani oleh sebuah badan independen langsung di bawah presiden.
  15. Mengusulkan adanya sistem penggajian guru tersendiri pada pemerintah.
  16. Mengusulkan kenaikan tunjangan fungsional guru.
  17. Mengusulkan sistem pembinaan PNS secara nasional, termasuk pemberian kesejahteraannya.
  18. Mengusulkan agar jabatan struktural di bidang pendidikan ditempati oleh pegawai yang menguasai bidang pendidikan, meniti karir, dan berlatar belakang pendidikan.
  19. Telah ikut secara aktif yang berada di barisan paling depan jajaran organisasi guru dan bekerja sama dengan organisasi politik yang memiliki otoritas, berusaha menyiapkan dan memperjuangkan UU Guru dan Dosen. Secara kelembagaan perjuangan untuk melahirkan UU Guru dan Dosen telah dimulai pada saat konggres ke XVIII tahun 1998 di Lembang,Bandung. Sebelumnya baru berupa wacana yang berkembang sejak tahun 1960.
  20. Mengawal dan mendesak pemerintah agar segera mengeluarkan PP tentang Guru sesuai dengan amanat UU GD, hiingga terbitlah Permendiknas No. 18/2007 tentang pelaksanaan sertifikasi guru.
  21. PGRI selama ini menjadi mitra aktif, strategis, dan kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah tentang pendidikan, terutama yang terkait dengan kebijakan tentang guru.
  22. Mengawal agar pelaksanaan sertifikasi guru tidak menciderai kepentingan guru di dalam berkarya dan memperoleh hak-haknya.
  23. Mensosialisaikan tentang pelaksanaan sertifikasi guru dari tingkat pusat hingga cabang (tingkat kecamatan).
  24. Mengawal pelaksanaan sertifikasi guru secara objektif dan transparan.
  25. Menerima sejumlah pengaduan dan melaksanakan kajian terhadap kemungkinan model pelaksanaan sertifikasi guru yang lebih bermutu, efisien dan memenuhi rasa keadilan guru.
  26. Melakukan kajian terhadap peningkatan profesi dan kesejahteraan guru.
  27. Mengawal penerimaan tunjangan profesi guru.
  28. Perjuangan yang paling hangat dan merupakan kemenangan PGRI adalah lahirnya keputusan Mahkamah Konstitusi RI nomor 026/PUU/III/2005 yang menetapkan batas tertinggi dalam APBN tahun 2006 sebesar 9,1% untuk pendidikan tidak memiliki kekuatan hukum tetap dan bertentangan dengan pasal 31 UUD 1945.
  29. Menuntut kepada pemerintah untuk memberikan uang lauk pauk kepada semua PNS termasuk guru.
Masih banyak lagi perjuangan PGRI baik yang telah berhasil maupun yang belum yang telah dilakukan PGRI baik tingkat pusat maupun daerah.
Akan tetapi harus diakui bahwa perjuangan PGRI belum maksimal. Hal ini disebabkan karena dua faktor, yaitu :
a. Belum kuatnya PGRI sebagai kekuatan penekan.
b. Kurangnya political will dari pemerintah dan birokrasi pendidikan.
Kegigihan PGRI dalam memperjuangkan hak-hak guru baik negeri maupun swasta berdasarkan UUD 1945 beserta segenap peraturan pelaksanaannya belumlah surut.
Sekalian ancaman, gangguan, hambatan dan tantangannya terus menerpa PGRI.
Cakupan perjuangan itu antara lain :
realisasi anggaran 20% dari APBN maupun APBD untuk pendidikan sesuai amanat UUD 1945, jaminan pengembangan karier dan keprofesionalan guru, tunjangan fungsional, tunjangan profesi, tunjangan pendidikan, tunjangan khusus, kemaslahatan lain, tunjangan kelebihan jam mengajar bagi guru SD, insentif dan peningkatan kesejahteraan bagi guru swasta dan tenaga honorer. Status karier dan kesejahteraan guru GTT, guru wiyata bhakti, guru honorer juga terus diperjuangkan melalui berbagai pendekatan dan cara.
Evaluasi sementara, perjuangan PGRI tersebut ada yang berhasil, tetapi masih banyak juga yang harus tetap diperjuangkan.
Ketidakberhasilan perjuangan itu menurut analisis sementara penyebabnya adalah karena kader PGRI belum menempati posisi kunci dalam mengambil kebijakan dalam sistem pemerintahan.
PGRI mengamati masih banyak pejabat pemerintah belum banyak memahami kebutuhan profesional riil para guru. Parapejabat mempersepsikan pekerjaan guru sama saja dengan jenis pekerjaan administrasi perkantoran lainnya, sehingga tidak perlu perhatian khusus. Padahal guru memiliki peranan strategis untuk memajukan dan mencerdaskan bangsa ini.
Menulislah terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi
salam
Omjay

Suka Duka Menjadi Guru

SUKA DUKAKU MENJADI GURU
Oleh: Dismi Fitri
 
Mendengar kata “Guru” tidak pernah terbayangkan olehku semasa kecil untuk menjadikan pekerjaan guru sebagai profesiku, apalagi menjadi seorang pendidik yang memiliki kharisma, berwibawa, profesional dan dapat menjadi inspirator untuk banyak orang khususnya bagi siswa siswinya.
 
Hal Yang ada dalam benakku ingin menjadi pegawai kantoran, karena menurutku pegawai kantoran merupakan pekerjaan yang mempunyai banyak uang dan bisa berpenampilan menarik serta cantik. Namun seiring berjalannya waktu sampai waktu setelah menyelesaikan Pendidikan Strata Satu jurusan Teknik Informatika saya mulai mencoba masuk menjadi Guru Honorer atau sebagai Guru Tidak Tetap disalah satu Sekolah Menengah Atas Negeri yang ada di Kabupatenku tepatnya Kabupaten Bengkulu Utara.
 
Disinilah menurutku pertualangan dalam babak baru hidupku dimulai resmi menjadi guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
 
Tanpa memiliki bekal ilmu yang cukup dalam kegiatan belajar mengajar, cara mengajar yang baik, cara penguasaan kelas, peserta didik atau apapun yang berhubungan dengan belajar mengajar karena memang bukan dari basic keguruan ilmu pendidikan, semua terasa meraba, samar dan sulit bagiku.
 
Beruntung dan bersyukurnya sifat mau mencoba dan mau berlajar dalam diriku mulai perlahan merubah semua keadaan sedikit mencair meskipun di sana sini sangat banyak sekali kekurangan. Dengan banyak bertanya dengan rekan-rekan sejawat yang senior menurutku sangatlah membantu.
 
Dalam perjalananku menjadi seorang guru khususnya guru mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi tentunya banyak kendala yang dihadapi salah satunya pasilitas atau sarana prasarana di sekolah tempatku mengajar yang tidak memadai hingga kemampuan siswa siswi yang masih awam sekali dengan komputer. Karena memang tempat tinggalku merupakan sebuah desa yang rata-rata penghasilan penduduknya adalah dari bertani. Jangankan untuk memiliki barang yang mewah untuk makan dan biaya sekolah anak-anak saja untung bisa terpenuhi.
 
Minimnya fasilitas serta sarana dan prasarana komputer yang ada di sekolah memaksaku bekerja ekstra untuk membuat siswa siswiku mengerti dan bisa menerapkan akan materi-materi Teknologi informasi dan Komunikasi yang kuajarkan. Tak heran kadang diri ini merasa seperti mengajarkan siswa siswi menghayal, karena materi yang seharusnya di praktekkan malah di ajarkan dengan cara teori dan hanya melihat gambar-gambar saja.
 
Di sisi lain dengan pekerjaan ini besaran honor yang diterima dari sekolah tempatku mengajar terbilang lumayan kecil itupun dibayar kadang tiga bulan sekali bahkan lebih. Sehingga bagaimana caraku semua kebutuhanku bisa terpenuhi mulai dari biaya transport, biaya pulsa dan biaya untuk makan.
 
Gejolak dalam hati ini sudah pasti ada. Walaupun dengan kondisi penghasilan yang terbilang minim anehnya profesi ini kujalani dengan rasa senang dan timbul dalam dadaku menyukai pekerjaan ini. Apalagi jika bertemu dengan siswa siswiku yang beraneka ragam pola tingkah laku dan kebiasaannya. Mulai dari yang baik, rajin, butuh perhatian, senang di sanjung atau bahkan butuh motivasi yang lebih. Ini semua membuatku semakin menjadi pribadi yang ingin terus belajar dan semakin merasa tertantang. Terlebih lagi dorongan hati merasa siswa siswiku butuh pengetahuan tentang Teknologi khususnya berhubungan dengan komputer. Karena yang kita ketahui yang namanya perkembangan teknologi selalu mengalami perkembangan yang sangat pesat.
 
Akhirnya profesi ini kujalani dari tahun ke tahun dan saat ini sudah hampir 10 tahun masa pengabdianku di sekolah ini. Banyak hal yang sudah kulalui dan sudah silih berganti pergantian pemimpin dengan berbagai macam karakter kepemimpinan yang diterapkan. Saat inipun dengan rasa syukur yang tiada duanya menyatakan senang bangga menjadi guru karena pekerjaan ini sungguh mulia. Dalam hati inipun tertanam ini adalah ladang amal bagiku, karena tidak bisa beramal lewat uang yang banyak, membangun sebuah masjid yang mewah namun beramal lewat ilmu yang bermanfaat. Aku ingin terus belajar dan semoga bisa menjadi manusia yang bisa menginspirasi banyak orang terutama bagi siswa siswiku.

Asosiasi Profesi & Keahlian Sejenis (APKS) PGRI

apks-poster
Kepada Yth
Bapak/ Ibu Guru
di
Tempat
 
Dengan hormat,
 
Sehubungan akan diselenggarakan pelantikan Asosiasi Profesi dan Keahlian Sejenis (APKS) dan Seminar Nasional dengan tema “PERAN APKS PGRI DALAM PENINGKATAN
PROFESIONALISME GURU DALAM REVOLUSI INDUSTRI 4.0” maka dengan ini Kami mengundang Bapak/ Ibu guru untuk hadir pada kegiatan tersebut, yang diselenggarakan pada:
 
Hari /Tanggal : Sabtu, 7 April 2018
Pukul : 08:00 – 16:00 WIB
Tempat : Gedung Guru PGRI Pusat Jl. Tanah Abang III no 24 Gambir Jakarta Pusat, Indonesia. 10160
 
Demikian undangan ini Kami sampaikan. Atas perhatian, kehadiran dan kerjasamanya Kami sampaikan Terima Kasih. Info kegiatan bisa sms omjay di WA 08159155515
 
Ketua Pelaksana
Bambang Susetyo, S.Kom
NPA 3173050103610004
*Catatan:
 
1. Setiap peserta semnas wajib memberikan donasi Rp. 50.000,- / orang.
 
2. Donasi dapat ditransfer ke panitia :
Nama : Yayasan Insan Kamil Nomer Rekening : 7710024323 Bank : Bank Syariah Bukopin Capem Bekasi
Fasilitas peserta: – Seminar Kit – Snack – Lunch – Sertifikat 8 jam dan DOORPRIZE.
 
3. Panitia membantu menyediakan akomodasi per kamar dengan biaya sewa kamar di gedung Guru PGRI Pusat bagi anggota PGRI sebesar Rp. 300.000,- (tiga
ratus ribu rupiah) untuk 3 orang guru dari luar kota dan segera sms panitia di 08159155515 (omjay)
 
SUSUNAN ACARA PELANTIKAN DAN SEMINAR NASIONAL APKS PGRI:
 
NO / WAKTU / KEGIATAN
1) 07.30 – 08.30
Registrasi peserta
 
2) 08.30 – 08.45
Pembukaan, Lagu Indonesia Raya dan Doa
 
3) 08.45 – 09. 15
Pelantikan dan Pengukuhan APKS oleh Ketua Umum PB PGRI
 
4) 09.15 – 9.45
Sambutan-sambutan
1. Laporan Ketua Pelaksana Semnas
2. Ketua Umum PB PGRI Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd.
3. Dirjen GTK KEMENDIKBUD (masih dalam konfirmasi)
 
5) Kegiatan Seminar Nasional APKS
Tema: “PERAN APKS PGRI DALAM PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU DALAM REVOLUSI INDUSTRI 4.0”
 
6) 10.00 – 11.00
Materi I : Indra Charismiadji, Phd
 
7) 11.00 – 12.00
Materi II : Prof. Agus Suradika, M.Pd
 
8) 12.00 – 13.00
ISTIRAHAT (ISOMA)
 
9) 13.00 – 14.00
Materti III: Prof. Eko Indrajit (Pengurus PB PGRI)
 
10) 14.00 – 15.00
Materi IV : H. Dr. Eko Djuniarto, M.Psi
 
11) 15.00 – 15.30
Tanya Jawab
 
12) 15.30 – 16.00
Penutup
 
Bagi bapak dan ibu guru yang belum menjadi anggota PGRI, dapat mendaftarkan diri secara online di http://pgri.or.id atau http://anggota.pgri.or.id/keanggotaan.php