Tag Archives: PTK

Belajar dan Berbagi Ilmu PTK di Kampus UNJ Rawamangun

Sabtu, 11 Agustus 2018 pukul 08.00-17.00 wib saya diundang untuk menjadi narasumber Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di Gedung Ki Hajar Dewantara lantai 8 dan 9 Kampus A UNJ Rawamangun Jakarta Timur. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Ikatan Alumni (IKA) UNJ dan Kelompok Peneliti Muda (KPM) UNJ. Ada sekitar 70 orang guru hadir dalam kegiatan ini.

peserta-ptk-unj

Selain saya, ada pak Dr. Khaerudin dan pak Dr. Uwes Chaeruman yang juga ikut memberikan materinya. Selain itu, ada beberapa dosen dan alumni UNJ yang ikut menjadi pembimbing penulisan PTK yang dipimpin oleh bapak Dr. Muhammad Yusro. Peserta sangat antusias kalau dilihat dari wajah dan tubuh mereka. Saya sempat memotretnya saat mereka sedang menonton film PTK.

peserta-ptk-unj1

PTK sangat penting dikuasai oleh guru dalam rangka meningkatkan pembelajarannya di kelas. Saya mendapatkan kesempatan memberikan materi teknik penyusunan proposal PTK. Adapun materi yang saya sampaikan dapat diunduh di sana dan di sini.

Belajar dan Berbagi Ilmu PTK di SMP Islam Al Azhar 25 Pamulang Tangsel

omjay-al-azhar25.jpg

Sabtu, 21 Juli 2018 kami diundang untuk mengisi pelatihan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di SMP Islam Al Azhar 25 Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel). Pelatihan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini diaksanakan dengan tema “Menuju Sekolah Unggul Berbasis Riset”. Bersama Omjay Wijaya Kusumah dan Dedi Dwitagama serta Ikhsan Abdusyakur kami meluncur ke arah Serpong dari Labschool Rawamangun.

Tema yang diambil cukup menarik. Pukul 07.30 wib kami sudah tiba disekolah yang megah dan bagus ini. Anda bisa melihat websitenya di http://smpia25.al-azhar.sch.id/ dan membuat kita kagum dengan prestasi sekolah ini. Kami diterima pak Casidin yang menjabat sebagai kepala sekolah. Beliau adalah adik kelas saya di pascasarjana UNJ Rawamangun.

Kami ngobrol-ngobrol sebentar di ruang kepala sekolah. Sambil diskusi dengan materi yang akan kami berikan dan menikmati secangkir teh manis hangat. Padahal Sebelum kami sampai sekolah al azhar, kami sempat mampir sarapan nasi uduk di dekat sekolah. Nasi uduk semur jengkol menjadi menu sarapan saya pagi itu.

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan Sekolah unggul Berbasis Riset (SBR)? Istilah ini barangkali baru di Indonesia, tetapi di beberapa negara maju, istilah ini sudah diperkenalkan sejak tahun 1980an-1990an. Pada intinya, konsep ini memiliki sebuah target tersembunyi yaitu membangun semangat dan budaya meneliti di kalangan guru. Budaya meneliti bisa dilakukan dengan melakukan penelitian tindakan kelas (PTK).

Konsep SBR bermula dari dua komponen utama yaitu, guru dan kegiatan riset. Ide untuk melibatkan guru dalam kegiatan penelitian pendidikan dan dalam pengembangan kurikulum telah dikampanyekan oleh beberapa pakar pendidikan, misalnya Lawrence Stenhouse pada tahun 1960-1970an, yang merupakan pakar pendidikan Inggris, Jean Rudduck pada tahun 1980an, dan Donald McIntyre pada era 1990an. Mereka adalah para dosen terkenal di universitas cambridge.

omjay memberikan materi PTK
omjay memberikan materi PTK

Konsep penelitian di kalangan guru harus terus dikembangkan di sekolah. Sehingga dengan cepat guru dapat memperbaiki cara mengajarnya.  Sheldon mengemukakan empat hal penting yang harus dikritik dalam pengajaran yaitu, materi, metode, guru dan siswa. Poin kritikan terhadap guru misalnya, class management, cara berdiri, bahasa yang dipergunakan, dll, yang kesemuanya menjadi konsep-konsep ptk yang sekarang ini kita kenal. Sekolah Guru di Tokyo pada tahun 1883 mengawali konsep jugyou kenkyuu, yaitu guru mengobservasi kelas guru yang lain, dan sejak saat itu menyebar ke semua sekolah di Jepang, dan pada tahun 1960-an ditetapkan sebagai strategi wajib dalam in-service training untuk guru di Jepang. Saat ini, jugyou kenkyuu telah menjadi tradisi di sekolah-sekolah di Jepang. Namanya dikenal dengan lesson studi.

pak dedi memberikan materi motivasi
pak dedi memberikan materi motivasi

Dengan demikian pelibatan guru dalam riset pendidikan di sekolah bukanlah barang baru di beberapa negara. Tetapi, dari gambaran sejarah di atas, kita dapat memahami bahwa menjadikan penelitian/riset sebagai sebuah tradisi atau budaya di sekolah memakan waktu yang cukup lama.

Alangkah bagusnya setiap sekolah mengembangkannya dalam bentuk riset dengan melakukan ptk. Dengan ptk guru dpt merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang berkualitas karena selalu ada refleksi dan kolaborasi dengan teman sejawat.

Apa itu PTK?

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan ragam penelitian pembelajaran yang berkonteks kelas yang dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru, memperbaiki mutu dan hasil pembelajaran dan mencobakan hal-hal baru pembelajaran demi peningkatan mutu dan hasil pembelajaran.

Berdasarkan jumlah dan sifat perilaku para anggotanya, PTK dapat berbentuk individual dan kaloboratif, yang dapat disebut PTK individual dan PTK kaloboratif. Dalam PTK individual seorang guru melaksanakan PTK di kelasnya sendiri atau kelas orang lain, sedang dalam PTK kaloboratif beberapa orang guru secara sinergis melaksanakan PTK di kelas masing-masing dan diantara anggota melakukan kunjungan antar kelas.

PTK memiliki sejumlah karakteristik sebagai berikut :

Bersifat siklis, artinya PTK terlihat siklis-siklis (perencanaan, pemberian tindakan, pengamatan dan refleksi), sebagai prosedur baku penelitian.

Bersifat longitudinal, artinya PTK harus berlangsung dalam jangka waktu tertentu (misalnya 2-3 bulan) secara kontinyu untuk memperoleh data yang diperlukan, bukan “sekali tembak” selesai pelaksanaannya.

Bersifat partikular-spesifik jadi tidak bermaksud melakukan generalisasi dalam rangka mendapatkan dalil-dalil. Hasilnyapun tidak untuk digenaralisasi meskipun mungkin diterapkan oleh orang lain dan ditempat lain yang konteksnya mirip.

Bersifat partisipatoris, dalam arti guru sebagai peneliti sekali gus pelaku perubahan dan sasaran yang perlu diubah. Ini berarti guru berperan ganda, yakni sebagai orang yang meneliti sekali gus yang diteliti pula.

Bersifat emik (bukan etik), artinya PTK memandang pembelajaran menurut sudut pandang orang dalam yang tidak berjarak dengan yang diteliti; bukan menurut sudut pandang orang luar yang berjarak dengan hal yang diteliti.

Bersifat kaloboratif atau kooperatif, artinya dalam pelaksanaan PTK selalu terjadi kerja sama atau kerja bersama antara peneliti (guru) dan pihak lain demi keabsahan dan tercapainya tujuan penelitian.

Bersifat kasuistik, artinya PTK menggarap kasus-kasus spesifik atau tertentu dalam pembelajaran yang sifatnya nyata dan terjangkau oleh guru; menggarap masalah-masalah besar.

Menggunakan konteks alamiah kelas, artinya kelas sebagai ajang pelaksanaan PTK tidak perlu dimanipulasi dan atau direkayasa demi kebutuhan, kepentingan dan tercapainya tujuan penelitian.

Mengutamakan adanya kecukupan data yang diperlukan untuk mencapai tujuan penelitian, bukan kerepresentasifan (keterwakilan jumlah) sampel secara kuantitatif. Sebab itu, PTK hanya menuntut penggunaan statistik yang sederhana, bukan yang rumit.

Bermaksud mengubah kenyataan, dan situasi pembelajaran menjadi lebih baik dan memenuhi harapan, bukan bermaksud membangun teori dan menguji hipotesis.

Tujuan PTK sebagai berikut :

Memperbaiki dan meningkatkan mutu praktik pembelajaran yang dilaksanakan guru demi tercapainya tujuan pembelajaran.

Memperbaiki dan meningkatkan kinerja-kinerja pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru.

Mengidentifikasi, menemukan solusi, dan mengatasi masalah pembelajaran di kelas agar pembelajaran bermutu.

Meningkatkan dan memperkuat kemampuan guru dalam memecahkan masalah-masalah pembelajaran dan membuat keputusan yang tepat bagi siswa dan kelas yang diajarnya.

Mengeksplorasi dan membuahkan kreasi-kreasi dan inovasi-inovasi pembelajaran (misalnya, pendekatan, metode, strategi, dan media) yang dapat dilakukan oleh guru demi peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran.

Mencobakan gagasan, pikiran, kiat, cara, dan strategi baru dalam pembelajaran untuk meningkatkan mutu pembelajaran selain kemampuan inovatif guru.

Mengeksplorasi pembelajaran yang selalu berwawasan atau berbasis penelitian agar pembelajaran dapat bertumpu pada realitas empiris kelas, bukan semata-mata bertumpu pada kesan umum atau asumsi.

Apa saja Manfaat PTK

Menghasilkan laporan-laporan PTK yang dapat dijadikan bahan panduan guru untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Selain itu hasil-hasil PTK yang dilaporkan dapat menjadi bahan artikel ilmiah atau makalah untuk berbagai kepentingan, antara lain disajikan dalam forum ilmiah dan dimuat di jurnal ilmiah.

Menumbuhkembangkan kebiasaan, budaya, dan atau tradisi meneliti dan menulis artikel ilmiah di kalangan guru. Hal ini telah ikut mendukung professionalisme dan karir guru.

Mampu mewujudkan kerja sama, kaloborasi, dan atau sinergi antar-guru dalam satu sekolah atau beberapa sekolah untuk bersama-sama memecahkan masalah pembelajaran dan meningkatkan mutu pembelajaran.

Mampu meningkatkan kemampuan guru dalam menjabarkan kurikulum atau program pembelajaran sesuai dengan tuntutan dan konteks lokal, sekolah, dan kelas. Hal ini memperkuat dan relevansi pembelajaran bagi kebutuhan siswa.

Dapat memupuk dan meningkatkan keterlibatan , kegairahan, ketertarikan, kenyamanan, dan kesenangan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas yang dilaksanakan guru. Hasil belajar siswa pun dapat meningkatkan.

Dapat mendorong terwujudnya proses pembelajaran yang menarik, menantang, nyaman, menyenangkan, dan melibatkan siswa karena strategi, metode, teknik, dan atau media yang digunakan dalam pembelajaran demikian bervariasi dan dipilih secara sungguh-sungguh.

Demikianlah kegiatan kami hari ini. Terima kasih atas undangannya. Foto lengkapnya bisa dilihat di sini.

Belajar dan berbagi ilmu PTK di FBS UNJ Rawamangun Jaktim

Rabu, 24 Mei 2017, Federasi Profesi Guru Indonesia (FPGI) mengadakan kegiatan workshop Penelitian Tindakan Kelas (PTK di ruang 115 gedung O Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Kampus A Rawamangun Jakarta Timur.

dedi-omjay

Kegiatan ini merupakan kegiatan PTK angkatan kedua yang menghadirkan penulis buku mengenal PTK, Wijaya Kusumah dan Dedi Dwitagama. Mereka saling berkolaborasi mengisi materi ini hingga sore hari. Seru dan banyak diskusi yang terjadi dalam acara ini. Banyak ilmu yang didapatkan dan peserta sangat antusias dalam kegiatan ini.

ptk-unj

Para Peserta kegiatan Workshop PTK ini adalah:

  1. MEKAR SETIA WAHYUNI, SMPN 4 DEPOK,
  2. PESTA LIANA, SMAN 36 JAKARTA,
  3. CEPI RAHMANSAH, SMKN 1 KOTA TANGSEL,
  4. SRI RAHAYU SMPN 20 KOTA BOGOR.
  5. RADEN SETIAWAN SMPN 20 KOTA BOGOR.
  6. HARTIJAH, SDN PONDOK BETUNG 01 TANGSEL,
  7. Feni Yuninasari, SMPN 99 Jakarta
  8. RIDWAN ARMANSYAH SMP NEGERI 13 KOTA BOGOR
  9. INA RISNAWATI, MTS ASSASUL ISLAMIYAH, SUKABUMI,
  10. ABDULLAH SYAIFUL, MA ASSASUL ISLAMIYAH, SUKABUMI.
  11. NURMASARI SMP NURUL ILMI, JAKARTA. 12. Irmah yuliatin mts 31.
  12. Latif Pramudiana, guru SMAS Mandiri Balaraja, kab tangerang.
  13. Hirman Trihandoyo Putra SDN Menteng Atas 02 Pagi
  14. Dian Octaviani: 1. DIAN OCTAVIANI, SDN JATINEGARA KAUM 11 PG
  15. UKI KARTOYO, SDN JATINEGARA KAUM 11 PG
  16. Radiah SMA Negeri 8 Malinau
  17. Susi Sufiyani, S. Pd, SDN Menteng Atas 11 Pagi
  18. Prasetyaningsih, S. Pd SDN Menteng Atas 11 Pagi
  19. SITI AMALIA SMP NEGERI 17 KOTA BOGOR.
  20. Wawan ahmad dahlan dari sdif alfikri depok
  21. Muhammad Sumardi,M.Pd ,asal sekolah :Smp Negeri 18 Depok
  22. Subandiyah sdn ciracas 03 pagi
  23. Ratna komalasari. Sma it insan mandiri
  24. Drs.Saifudin Zuhri ,mtsn 16 Jakarta.
  25. Edi irfan SMA N 5 DEPOK
  26. Mensia, S.Pd. SD Persis Matraman
  27. Mukhlisotin, SDN Pondok Bambu 02 Jakarta Timur
  28. Suharti, SDN Kelapa Dua Wetan 03 pagi.

Info kegiatan workshop PTK silahkan sms omjay di 08159155515

Kiat Sukses Menulis Karya Tulis

Motivasi dari kawan-kawan yang masuk final lomba kreativitas guru (LKG) tahun 2016 menyemangati saya untuk membuat sebuah karya tulis  Ilmiah yang  dihasilkan dari penelitian di kelas sendiri.

Tulisan ini saya buat sebagai  bahan presentasi saya dalam Seminar nasional di MAN Islam Cendekia Serpong, pada 21 September 2016. Undangannya ada di sini.

Saya hanya ingin mengajak para guru untuk meneliti di kelasnya sendiri melalui PTK dan menemukan potensi unik siswa sehingga dari PTK itulah guru  dapat meningkatkan mutu pembelajaran di kelasnya masing-masing.

Baca lebih lanjut

Belajar dan Berbagi Ilmu PTK di SMKN 18 Jakarta

Sabtu, 17 September 2016 omjay diminta menjadi nara sumber penelitian tindakan kelas di SMKN 18 Jakarta. Ada sekitar 20 orang guru bersemangat melakukan penelitian tindakan kelas atau PTK. Senang sekali bisa bertemu para guru hebat di sekolah ini. Semoga bisa kembali belajar di sekolah yang mutu lulusannya diterima banyak perusahaan terkenal.

omjay-smkn18jakarta

5 Alasan Guru Takut Lakukan PTK

– Dewasa ini banyak dijumpai guru yang belum melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di dalam proses pembelajarannya. Mengapa? Ada 5 alasan utama yang menyebabkan guru takut melakukan PTK:Kurang memahami profesi

Profesi guru adalah profesi yang sangat mulia, sehingga hendaknya mereka menyadari ini. Guru harus dapat memahami peran dan fungsinya di sekolah, karena guru sekarang bukan hanya guru yang mampu mentransfer ilmu dengan baik, tetapi juga mampu digugu dan ditiru untuk memberi tauladan yang tidak hanya sebatas ucapan, tapi juga tindakan.

Profesi guru adalah profesi yang bukan hanya mulia di mata manusia, tetapi juga di mata Tuhan. Karena itu guru harus dapat mengajar dan mendidik dengan hatinya agar dapat menjadi mulia. Hati yang bersih dan suci akan terpancar dari wajahnya yang selalu ceria, senang, dan selalu menerapkan 5 S dalam kesehariannya, yaitu Salam, Sapa, Sopan, Senyum, dan Sabar.

Malas membaca buku dan malas menulis

Masih banyak guru yang malas membaca, padahal dari membaca itulah akan terbuka wawasan luas. Kesibukan-kesibukan mengajar membuat guru merasa kurang sekali waktu untuk membaca. Ini nyata, dan terjadi di sekolah kita.

Bukan hanya di sekolah, di rumah pun guru malas membaca. Guru harus dapat melawan kebiasaan malas membaca. Pengalaman mengatakan, siapa yang rajin membaca, maka ia akan kaya akan ilmu, namun bila kita malas membaca, maka kemiskinan ilmu akan terasa.

Guru yang rajin membaca, otaknya ibarat mesin pencari google di internet. Bila ada siswa yang bertanya, memori otaknya langsung bekerja mencari dan menjawab pertanyaan para siswanya dengan cepat dan benar.

Guru yang terbiasa membaca, maka akan terbiasa menulis. Dari membaca itulah guru mampu membuat kesimpulan dari apa yang dibacanya, kemudian kesimpulan itu ia tuliskan kembali dalam gaya bahasanya sendiri. Guru yang rajin menulis, maka ia mempunyai kekuatan tulisan yang sangat tajam, layaknya sebilah pisau.

Kurang sensitif terhadap waktu dan terjebak rutinitas

Guru yang kurang memanfaatkan waktunya dengan baik tidak akan banyak meraih prestasi dalam hidupnya. Dia akan terbunuh oleh waktu yang disia-siakan, sehingga guru harus sensitif terhadap waktu. Ia harus selalu terjaga dari sesuatu yang kurang bermanfaat.

Guru juga harus pandai mengatur rutinitas kerjanya. Jangan sampai terjebak rutinitasnya, yang justru tidak mengantarkan dia menjadi guru dan tidak dapat diteladani anak didiknya.

Guru harus pandai mensiasati pembagian waktu kerjanya. Buatlah jadwal yang terencana. Buang kebiasan-kebiasaan yang membawa guru untuk tidak terjebak di dalam rutinitas kerja, misalnya, membuat diari atau catatan harian yang ditulis dalam agenda guru, di dalam blog internet, dan lain-lain. Rutinitas kerja tanpa sadar membuat guru terpola menjadi guru yang kurang berkualitas.

Kurang memahami PTK

Banyak guru kurang memahami penelitian tindakan kelas atau PTK. Guru menganggap PTK itu sulit. Padahal, PTK itu tidak sesulit yang dibayangkan, karena PTK dilakukan dari keseharian mereka mengajar.

Tidak ada yang sulit. Guru hanya perlu merenung sedikit dari proses pembelajarannya, mencatat masalah-masalah yang timbul, dan mencoba mencari solusinya. Ajaklah teman sejawat agar proses observasi dan refleksinya tidak terlalu subyektif.

PTK adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan jalan merencanakan, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.

(Penulis: Wijaya Kusumah/Guru TIK SMP Labschool, Jakarta)

http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/03/1951046/5.Alasan.Guru.Takut.Lakukan.PTK

Berkat Menulis Aku Dapat Ipad

Tak banyak orang tahu kalau saya mempunyai ipad baru dari menulis. Menulis sebuah buku yang diperuntukkan para guru. Para guru yang ingin meneliti di kelasnya sendiri dengan menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK).

Ketika membuat dan menyusun naskah buku PTK itu, banyak halangan dan rintangan saya lalui. Untunglah berkat berbagi tugas dengan Pak Dedi Dwitagama, akhirnya buku itu tersusun juga. Kami pun langsung mencari penerbit yang bisa menerbitkan buku PTK yang telah disusun. Penolakan demi penolakan datang bertubi-tubi.

Kami dianggap bukan pakar yang mampu menulis buku-buku tentang PTK. Waktu itu, penerbit lebih suka menerima buku dari seorang guru besar atau penulis yang berprofesi sebagai dosen. Saya dan Pak Dedi tak patah semangat.

Kami menghubungi Prof. Conny Semiawan, dan berguru langsung kepada beliau tentang penelitian tindakan kelas. Dari masukan-masukan beliau, kami memperbaiki draft buku yang telah disusun. Kami pun melengkapinya dengan contoh-contoh PTK dari para juara nasional. Dari informasi Prof Conny, draft naskah buku mengenal PTK yang disusun kami tawarkan ke penerbit Indeks. Tak beberapa lama kemudian, ada kabar baik dari penerbit indeks. Mereka bersedia menerbitkan buku yang kami susun.

Kami pun bersyukur, karena buku ini ternyata mendapatkan sambutan hangat dari pembaca. Terutama para guru yang benar-benar ingin memperbaiki kinerjanya sebagai guru melalui PTK. Setelah launching buku di pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ), kami banyak menerima permintaan untuk mengisi seminar dan workshop PTK. Kami pun akhirnya berbagi ilmu PTK ke pelosok nusantara. Bahkan Rektor UNJ, Ketua Jurusan Teknologi Pendidikan UNJ, dan jajaran birokrat di kemendiknas turut memberikan sambutan dalam buku PTK ini.

Buku PTK kami pun habis, dan dicetak ulang. Dari penulis menjadi pembicara ternyata bukanlah pekerjaan mudah. Saya belajar dan terus belajar bagaimana menjadi pembicara yang baik. Di akhir sesi setiap kali memberikan materi, kami selalu meminta peserta memberikan masukan sebagai evaluasi diri. Rata-rata dari peserta sangat puas dengan cara-cara kami dalam memberikan materinya. Kami pun mendapatkan kritik dan saran dari mereka untuk menjadi lebih baik lagi. Terus berbagi ilmu PTK ke pelosok negeri.

Ketika Mas Iskandar Zulkarnaen (admin kompasiana) menuliskan tentang ipad di kompasiana, saya pun langsung jatuh cinta dengan gadge baru ini. Saya harus melakukan aksi nekat bila ingin punya ipad seperti mas Iskandar. Saya pun terus menerus mempromosikan buku yang disusun melalui berbagai media, terutama blog di internet. Alhamdulillah, royalti penjualan buku mengenal PTK cukup banyak.

Saya dan pak Dedi langsung membeli ipad dari royalti pertama buku kami. Wah bahagia sekali rasanya. Dari menulis aku dapat ipad. Setiap kali memberikan materi, ipad selalu saya bawa untuk memberikan motivasi kepada para peserta. Mereka saya ajak untuk aktif menulis, dan membuat karya tulis berbentuk buku. Dengan menulis banyak pesan yang kita sampaikan, dan dengan menulis pula akan banyak keajaiban yang akan ditemui bila kita komitmen, dan konsisten dalam melakukannya.

Menulis sebelum tidur menjadi pekerjaan rutin yang dilakukan oleh alam bawah sadar saya setiap harinya. Menulis setiap hari telah menjadi motto hidup saya. Hasilnya sungguh luar biasa. Lebih dari 1000 artikel tercipta begitu saja. Andapun pasti bisa seperti saya.

Salam blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/wijayalabs/berkat-menulis-aku-dapat-ipad_5500e90aa33311be0b510d59