Tag Archives: save tik

Belajar dan Berbagi Ilmu Elearning di UBH Padang Sumatera Barat

Sabtu, 29 Juli 2017 tim elearning KOGTIK berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang ilmu elearning kepada kawan-kawan guru TIK di Fakultas Teknik Universitas Bung Hatta Padang, Sumatera Barat.

suardi-padang

Lebih dari 70 orang guru TIK hadir dalam workshop elearning yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru TIK dan KKPI yang disingkat KOGTIK. Kegiatan ini bekerjasama dengan EPSON. Salah satu produk unggulannya adalah slide proyektor.

Baca lebih lanjut

Olimpiade TIK Nasional (OTN)

Yuk ikut Olimpiade TIK Nasional tanggal 4 sampai 6 Agustus 2017 di Aula Gedung A Kemdikbud Senayan Jakarta. Info lengkap bisa dilihat di http://kogtik.or.id

poster-otn-2017

Slide2

Slide11.JPG

Slide12.JPG

Slide13

Slide15

Slide16

Slide29.JPG

Urgensi Mata Pelajaran TIK & Terputusnya Mata Rantai Digital

[URGENSI MAPEL TIK, PUTUSNYA MATA RANTAI DIGITAL]

Saat dialog sudah dijalankan, saat diskusi sudah dilakukan, saat bertukar pikiran sudah dilaksanakan, bahkan beberapa rekan guru rela dan ikhlash hati pergi ke Senayan untuk bertemu langsung dengan Pak Menteri saat itu sampai saat ini dan belum juga membuahkan sesuatu hal yang baik, maka kekuatan Media Sosial menjadi sedikit jalan kecil untuk menyuarakan suara hati para guru TIK/ KKPI di seluruh Indonesia.

Sudah hampir 4 tahun saat digulirkan oleh Menteri Pendidikan kala itu, TIK menjadi polemik. Entah apa yang ada di benak Pak Menteri saat itu saat menggulirkan Kurikulum baru dengan dana yang sebegitu besarnya tetapi menepikan TIK dalam posisi terkucilkan.

Barulah saat pro kontra bermunculan dengan berbagai isu dan kepentingan terbitlah Permendikbud No. 68 Tahun 2014 ketegangan dan kepanikan para Guru TIK/KKPI mulai agak mereda walau sebenarnya masih banyak yang berharap mapel TIK/KKPI dimasukkan kembali dalam struktur kurikulum bukan “sekedar bimbingan”. Permendikbud No. 68 Tahun 2014 yang kemudian “diperkuat dan diperjelas” lagi dengan Permendikbud No. 45 Tahun 2015 sangat jelas menerangkan “nomor kursi” tempat duduk guru TIK dalam Bis “Kurikulum 13”.

Tapi yang terjadi di lapangan benar seperti yang sudah diperkirakan oleh banyak Guru TIK/KKPI sebelumnya, para pemangku kepentingan pendidikan di tingkat daerah atau sekolah belum sepenuhnya memahami kejelasan regulasi tersebut. Tidak mengherankan jika sampai sekarang banyak guru TIK/KKPI merasa “terdzalimi” dengan Regulasi tersebut akibat belum dijalankannya amanat regulasi tentang Peran Guru TIK/KKPI di sekolah dalam Kurikulum 13 ini.

Berkaca pada kenyataan di lapangan saat implementasi Kurikulum 13 ini dijalankan yang terjadi adalah : BK/TIK tidak dijalankan entah dengan alasan tidak ada jam, implementasi kurang jelas, tenaga dibutuhkan untuk mengajar mata pelajaran lain, atau beragam alasan yang lain. Walau sebagian sekolah sudah “terbuka” wawasan dalam memahami arti regulasi guru TIK/KKPI dalam memberikan 1 jam pelajaran dalam waktu 1 minggu pelajaran masuk kelas, bukan hanya sekedar masuk jam “ekstra krikuler”.

Banyak guru TIK/KKPI yang beralih profesi menjadi guru mata pelajaran lain dengan alasan jam mapel tersebut kelebihan. Inilah potret pendidikan di Indonesia, bagaimana sebuah ilmu diberikan tanpa keluasan ilmu dari sang pemberi ilmu, kalau dalam agama Islam ilmu itu terputus sanad-nya. Meminjam istilah barat “The Right Man in The Wrong Place”.

Urgensi TIK bagi siswa tidak hanya sekedar siswa mampu bermain media sosial di HP karena TIK tidak hanya sekedar “mengetik”. Kalaupun mungkin TIK hanya sekedar mengetik tentulah anak-anak seperti Mbak Afi tidak akan mudah melakukan plagiasi sehingga dijuluki “AFI (Asli Flagiator Indonesia)”. TIK mengajarkan moral dan akhlaq bagaimana menghormati HAKI sehingga tidak mungkin bangsa Indonesia menjadi Bangsa Plagiator kalau betul belajar TIK-nya.

Siswa sekarang yang mengalami K13 akan menjadikan mata rantai digital TIK di dalam karakter pendidikan akan hilang, sehingga jangan salahkan mereka jika kelak dewasa dalam pekerjaan mereka mereka akan bingung mengoperasikan komputer jangankan saat bekerja, sebagai persiapan Ujian Nasional Berbasis Computer pun mereka akan bingung.

Jangan bandingkan kemampuan satu anak dalam bidang TIK sama dengan yang lain, karena masih banyak anak-anak yang bahkan sampai kelas IX SMP masih belum pernah mengoperasikan komputer karena ketakutannya memegang mouse atau mengetik menggunakan keyoard.

Inilah yang seharusnya disadari khususnya pemangku kepentingan dalam pendidikan, walau mungkin TIK bukan lagi sebuah mata pelajaran dan itu sudah menjadi kebijakan yang boleh dibilang “blunder” fatal dan menggantinya dengan “BK/TIK”. Apapun regulasinya seharusnya diterapkan bukan mengabaikannya dan menjadikan guru TIK sebagai guru “hangabehi”.

Bayak rekan guru TIK khususnya yang GTT ataupun di mengajar di sekolah swasta akhirnya tidak mendapatkan jam (NOL JAM) karena sekolah menganggap BK/TIK tidak begitu penting. Hanya karena rasa kemanusiaan saja mereka masih diperkerjakan dengan diberi jam mata pelajaran lain semisal prakarya atau seni budaya. Lagi-lagi guru TIK seakan menjadi korban “kesemrawutan” Kurikulum 13. Lagi-lagi seseorang dengan kompetensi yang berbeda “dipaksakan” untuk bekerja dengan “kompetensi” lain. Bagaimana kemampuan anak bisa optimal jika kompetensi gurunya bukan di bidangnya?

Pemenuhan guru TIK sebagai guru BK/TIK bukan hanya sekedar menjadikan tunjangan profesi guru tersebut akan berjalan dengan lancar, bukan itu pokok permasalahannya. Tetapi pemenuhan hak sebagai seorang pengajar untuk mengajar sesuai dengan kompetensi dan keahliannya bukan sebagai “penambal” untuk mata pelajaran lain. Andaikan berjalan sebagai guru TIK dan menjadi BK/TIK, logikanya bagaimana bisa membimbing? Ketemu anak saja tidak pernah?

Akhir tulisan ini, saya hanya ingin menegaskan buat rekan-rekan guru TIK, katakan dengan tegas SAYA Guru TIK, bukan guru olahraga, bukan guru seni budaya, bukan guru prakarya! Kembalikan mapel TIK atau jalankan amanat regulasi dengan memberi waktu 1 jam masuk kelas bukan sekedar ekstra kurikuler!

Penulis adalah Guru TIK

Tak Ada Lagi Lulusan Terbaik Mata Pelajaran TIK di Kurikulum 2013

Hari ini, Minggu 11 Juni 20017 ada acara pelepasan siswa kelas 9 SMP Labschool Jakarta. Satu per satu dibacakan lulusan terbaik setiap mata pelajaran oleh kepala sekolah. Siswa yang dipanggil namanya maju satu per satu menuju panggung acara.

Tapi sayang tak ada lagi lulusan terbaik mata pelajaran TIK dibacakan. Hal ini terjadi semenjak kurikulum 2013 diberlakukan di sekolah kami. TIK dihapuskan dalam kurikulum dan diganti mata pelajaran baru yang bernama prakarya di SMP. TIK dianggap bukan sebuah ilmu yang harus dipelajari, tetapi hanya sebagai alat bantu dalam pembelajaran. Akibatnya TIK dipelajari siswa secara alami dan mandiri.

Sedih rasanya ketika siswa menanyakan kok tak ada lulusan terbaik mata pelajaran TIK? Padahal semangat mereka belajar TIK sangat luar biasa. Apalagi antusias mereka belajar TIK di Lab komputer sekolah. Mereka sangat senang belajar TIK. Terkadang mereka sudah antri di depan lab komputer sekolah menunggu waktu pelajaran TIK.

Padahal tahun-tahun sebelumnya ada nilai terbaik mata pelajaran TIK dibacakan sebelum kurikulum 2013 diberlakukan. Orang tua juga bertanya hal yang sama. Kami tak sanggup menjawabnya, karena ini regulasi dari pemerintah di era mendikbud dijabat M. Nuh. Kemudian terus berlanjut hingga mendikbud baru saat ini.

TIK terus kami perjuangkan sebagai mata pelajaran. Guru-guru TIK yang tergabung dalam komunitas guru TIK dan KKPI terus memperjuangkannya. Begitu juga guru KKPI di SMK. Namun apa daya TIK tetap dihapus dalam kurikulum 2013 sebagai mata pelajaran dan posisinya diganti prakarya. Sebuah mata pelajaran baru yang diciptakan untuk menggusur mata pelajaran TIK.

Sedih rasanya karena tak ada lagi lulusan terbaik mata pelajaran TIK. Kenangan itu tak ada lagi. Guru TIK tak melihat lagi anak-anak hebat yang naik ke atas panggung dengan predikat lulusan terbaik mata pelajaran TIK. Semoga pemerintah mengembalikan mata pelajaran TIK yang kami sukai. Demi kemandirian dan kedaulatan bangsa di bidang TIK. Aamiin.

IMG_5078

Workshop Elearning di IKIP PGRI Pontianak

Komunitas guru TIK/KKPI bekerjasama dengan EPSON INDONESIA dan IKIP PGRI Pontianak, menyelenggarakan Workshop Elearning di Pontianak, Sabtu, 25 Maret 2017 pukul 08.00 -16.00 WIB.

Kegiatan ini bertempat di IKIP PGRI Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Jl. Ampera Raya Kotabaru Pontianak.Acara akan dibuka langsung Rektor IKIP PGRI Pontianak, dengan para pembicara dari tim Trainer Komunitas Guru TIK dan KKPI.

Info lengkap kegiatan ini dapat sms pak Ardian di 085391142721. Biaya Workshop Rp. 150.000,- (Untuk sertifikat 32 jam, pembinaan online, konsumsi, ilmu, dan doorprize peserta).

Dapatkan doorprize printer epson senilai Rp. 3.000.000,- (Tiga Juta Rupiah).

pontianak

Inilah contoh pemanfaatan elearning di Labschool.

Inilah elearning di Labschool http://www.labschool-unj.sch.id/elearning/

Kalau TIK itu Penting Kenapa Tidak Dirancang Kurikulumnya?

Slide1
Kalau TIK itu penting, kenapa tidak dirancang kurikulumnya?
Oleh: Wijaya Kusumah.
Terus terang saya tidak setuju TIK dihapuskan sebagai matpel. Sebab TIK penting untuk kemandirian dan kedaulatan kita sebagai bangsa. Bangsa yang kuasai tik akan menjadi negara adi daya dan super power.
Kalau kita ingin anak anak menguasai TIK dan tidak tertinggal dengan negara lain, maka harus dirancang kurikulumnya dan tidak bisa materinya dititipkan pada matpel lain.
Sebab TIK sebagai ilmu tidak bisa dipisahkan dengan TIK sebagai alat bantu. Kalau dipisahkan, maka selamanya kita akan menjadi bangsa pengguna TIK. Harapan untuk menjadi bangsa produsen TIK atau pencipta produk TIK hanya mimpi di siang bolong.
Apa itu TIK? Banyak yang belum paham bahwa TIK adalah teknologi informasi dan komunikasi. Artinya ada 2 teknologi di sana yang saling terkait yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Kalau saya jabarkan di sini bisa jadi 2 buku untuk membahas secara detail kedua teknologi ini.
Kalau indonesia ingin menjadi bangsa yang berdaulat dan mandiri di bidang TIK, maka harus mempersiapkan generasi emasnya untuk belajar TIK dan menggunakan TIK untuk belajar. Kedua hal tersebut tidak boleh dipisahkan karena TIK untuk belajar dan belajar TIK sangat penting dikuasai agar mereka mampu mandiri dalam belajar. Kemandirian dalam belajar harus disampaikan kepada generasi emas indonesia.
TIK sebagai sebuah ilmu seharusnya terus dikembangkan seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Namun kenyataan yang ada justru malah dihilangkan dalam kurikulum. TIK masih dipahami hanya sebagai alat bantu pembelajaran. Bukan TIK sebagai sebuah ILMU.
Kalau sudah begitu maka indonesia hanya akan menjadi bangsa pengguna TIK. Bukan bangsa yang mulai memproduksi peralatan TIK karena TIK sebagai sebuah ilmu pondasinya sangat lemah dan kurang kokoh di sekolah. Ibarat bangunan rumah, akan mudah goyah bila pondasinya tidak kokoh.
Saya melihat peluang TIK bisa masuk kembali dalam kurikulum 2013. Sebab selama kurikulum 2013 diberlakukan, sekolah kami tetap memberikan materi TIK selama 2 jam di SMP Labschool Jakarta. Hanya saja masih berbentuk bimbingan TIK sesuai permen 45 tahun 2015 dan bukan matpel tik seperti kurikulum 2016 sehingga penilaian siswa tidak ada. Guru TIK tidak diberikan hak untuk menilai kemampuan siswa.
Regulasinya tidak mencantumkan TIK masuk raport siswa. Padahal sebenarnya bisa. Kalau regulasinya diperbaiki. Sebab dalam Undang-undang Guru dan Dosen nomor 14 tahun 2005 dituliskan salah satu tugas guru adalah menilai dan mengevaluasi pembelajaran. Seorang guru TIK harusnya diberikan hak yang sama dengan guru matpel lainnya. Permen 45 tahun 2015 tentang peran guru TIK dan KKPI harus segera direvisi.
Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. (Pasal 1 ayat 1). Sangat jelas sekali dituliskan tugas utama seorang guru.
Kalau TIK dianggap penting, tak ada cara lain selain memasukkan kembali TIK ke dalam kurikulum 2013. Materi TIK akan diberikan secara sistematik dan terstruktur setiap jenjangnya. Kemampuan guru TIK jadi terarah dan kalibrasinya menjadi lebih mudah. Tidak seperti sekarang ini, materinya tidak sama antar sekolah karena tidak berada dalam struktur kurikulum 2013.
Kurikulum 2006 sudah sangat bagus memasukkan TIK sebagai matpel, namun sayang tidak dikembangkan oleh pusat kurikulum dan perbukuan. TIK sebagai center pembelajaran seharusnya diperlakukan sebagai sebuah ilmu karena sudah sangat jelas aksilogisnya, ontologisnya, dan epistemologisnya. TIK sudah memenuhi kaidah filsafat ilmu. Sampai saat ini tak ada yang bisa membantahnya. Bahkan terus dipelajari hingga perguruan tinggi.
Beberapa alasan pentingnya TIK sudah pernah saya tuliskan di http://www.kompasiana.com/wijayalab…
TIK sebagai matpel adalah sebuah keniscayaan. Mereka yang mengatakan TIK sulit dimasukkan sebagai matpel masih beragumentasi dengan paradigma lama. Paradigma pembelajaran abad ke 21 memposisikan TIK harus dikuasai guru dan siswanya di sekolah. Kenapa kita tak merancangnya dalam kurikulum?

Baca lebih lanjut

Terbitkan Bukumu!

Inilah presentasi omjay untuk siswa SMP Labschool Jakarta, http://www.slideshare.net/wijayakusumah/terbitkan-bukumu