Tag Archives: sertifikasi guru

Berkat Menulis Aku Dapat Ipad

Tak banyak orang tahu kalau saya mempunyai ipad baru dari menulis. Menulis sebuah buku yang diperuntukkan para guru. Para guru yang ingin meneliti di kelasnya sendiri dengan menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK).

Ketika membuat dan menyusun naskah buku PTK itu, banyak halangan dan rintangan saya lalui. Untunglah berkat berbagi tugas dengan Pak Dedi Dwitagama, akhirnya buku itu tersusun juga. Kami pun langsung mencari penerbit yang bisa menerbitkan buku PTK yang telah disusun. Penolakan demi penolakan datang bertubi-tubi.

Kami dianggap bukan pakar yang mampu menulis buku-buku tentang PTK. Waktu itu, penerbit lebih suka menerima buku dari seorang guru besar atau penulis yang berprofesi sebagai dosen. Saya dan Pak Dedi tak patah semangat.

Kami menghubungi Prof. Conny Semiawan, dan berguru langsung kepada beliau tentang penelitian tindakan kelas. Dari masukan-masukan beliau, kami memperbaiki draft buku yang telah disusun. Kami pun melengkapinya dengan contoh-contoh PTK dari para juara nasional. Dari informasi Prof Conny, draft naskah buku mengenal PTK yang disusun kami tawarkan ke penerbit Indeks. Tak beberapa lama kemudian, ada kabar baik dari penerbit indeks. Mereka bersedia menerbitkan buku yang kami susun.

Kami pun bersyukur, karena buku ini ternyata mendapatkan sambutan hangat dari pembaca. Terutama para guru yang benar-benar ingin memperbaiki kinerjanya sebagai guru melalui PTK. Setelah launching buku di pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ), kami banyak menerima permintaan untuk mengisi seminar dan workshop PTK. Kami pun akhirnya berbagi ilmu PTK ke pelosok nusantara. Bahkan Rektor UNJ, Ketua Jurusan Teknologi Pendidikan UNJ, dan jajaran birokrat di kemendiknas turut memberikan sambutan dalam buku PTK ini.

Buku PTK kami pun habis, dan dicetak ulang. Dari penulis menjadi pembicara ternyata bukanlah pekerjaan mudah. Saya belajar dan terus belajar bagaimana menjadi pembicara yang baik. Di akhir sesi setiap kali memberikan materi, kami selalu meminta peserta memberikan masukan sebagai evaluasi diri. Rata-rata dari peserta sangat puas dengan cara-cara kami dalam memberikan materinya. Kami pun mendapatkan kritik dan saran dari mereka untuk menjadi lebih baik lagi. Terus berbagi ilmu PTK ke pelosok negeri.

Ketika Mas Iskandar Zulkarnaen (admin kompasiana) menuliskan tentang ipad di kompasiana, saya pun langsung jatuh cinta dengan gadge baru ini. Saya harus melakukan aksi nekat bila ingin punya ipad seperti mas Iskandar. Saya pun terus menerus mempromosikan buku yang disusun melalui berbagai media, terutama blog di internet. Alhamdulillah, royalti penjualan buku mengenal PTK cukup banyak.

Saya dan pak Dedi langsung membeli ipad dari royalti pertama buku kami. Wah bahagia sekali rasanya. Dari menulis aku dapat ipad. Setiap kali memberikan materi, ipad selalu saya bawa untuk memberikan motivasi kepada para peserta. Mereka saya ajak untuk aktif menulis, dan membuat karya tulis berbentuk buku. Dengan menulis banyak pesan yang kita sampaikan, dan dengan menulis pula akan banyak keajaiban yang akan ditemui bila kita komitmen, dan konsisten dalam melakukannya.

Menulis sebelum tidur menjadi pekerjaan rutin yang dilakukan oleh alam bawah sadar saya setiap harinya. Menulis setiap hari telah menjadi motto hidup saya. Hasilnya sungguh luar biasa. Lebih dari 1000 artikel tercipta begitu saja. Andapun pasti bisa seperti saya.

Salam blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/wijayalabs/berkat-menulis-aku-dapat-ipad_5500e90aa33311be0b510d59

Iklan

Panik Sertifikasi dan Pendidikan Minus Kebudayaan

Panik Sertifikasi dan Pendidikan Minus Kebudayaan

Usai berolah raga pagi dan menikmati nasi uduk mpok Minah, saya membaca koran kompas hari ini, Sabtu 4 Mei 2013.

Seperti biasanya, saya selalu membaca kolom opini di halaman 6 dan 7 terlebih dahulu. Ada judul yang menarik di halaman 7. Panik Sertifikasi yang dituliskan Doni Koesuma. Sedangkan di halaman 6, Acep Iwan Saidi menuliskan Pendidikan Minus Kebudayaan.

Bagi saya, kedua artikel opini itu bagus sekali, langsung menohok ke persoalan pokok, dan sangat penting dibaca oleh pejabat pemerintah yang berkantor di Kemdikbud Senayan Jakarta. 

Terus terang selama seminggu ini ada sesuatu yang tidak enak di kalangan guru. Kami menjadi berebutan jam mengajar untuk memenuhi syarat 24 jam mengajar. Sebuah syarat yang harus diverifikasi di dapodik secara online agar tunjangan sertifikasi guru yang kami terima cair.

Tentu saja, ketentuan baru yang lagi-lagi tak berpihak kepada guru diberlakukan. Telah terjadi hukum rimba dalam dunia pendidikan kita. Guru tak lagi diajak berdialog. Pokoknya, harus 24 jam mengajar dan tak peduli jumlah kelas di sekolahnya sedikit. Terutama buat sekolah swasta yang muridnya memang sedikit, dan guru yang mengajar mata pelajarannya hanya 2 jam per minggu.

Kebijakan yang baru itu tentu saja menuai panik dan kontroversi di kalangan guru di Indonesia. Buat mereka yang jam mengajarnya sudah memenuhi 24 jam akan adem ayem saja, dan telah mendapatkan haknya sebagai guru profesional. Namun buat mereka yang jumlah jam mengajarnya sebenarnya sudah 24 jam, tetapi harus mengajar mata pelajaran lainnya tidak bisa dihitung oleh sistem yang dibuat oleh dapodik. Para guru pun dibuat panik untuk mencari tambahan jam mengajar di sekolah lain.

Saya bersetuju dengan solusi yang ditawarkan oleh Doni Koesuma dalam artikelnya. Hendaknya pemerintah membuat kebijakan pendidikan berdasarkan kondisi konkret di lapangan. Jangan mempersulit urusan guru di bidang administrasi ini. Sebab urusan ini tentu akan mengganggu kinerja guru, dan kebijakan 24 jam adalah kebijakan yang jelas tidak fair. Coba bandingkan dengan dosen yang sudah tersertifikasi. Waktu merekapun tidak full di kampus seperti kondisi guru di sekolah.

Melihat akan hal ini, tentu saja saya sebagai guru menjadi bingung sendiri dengan kebijakan pemerintah. Haruskah seorang guru mengajar di dua sekolah demi untuk memenuhi jam mengajar 24 jam? Mohon kiranya pemerintah memperhatikannya. Jangan sampai ada pemberontakan di kalangan guru yang akan jauh lebih dahsyat dari demo buruh di bundaran hotel indonesia beberapa hari lalu. Mereka akan membawa peserta didiknya untuk ikutan demo karena guru adalah penguasa di kelas. (hehehe)

Dari paniknya sertifikasi, jelas akan berdampak kepada pendidikan minus kebudayaan. Saya menjadi terinspirasi dengan artikel guru besar ITB ini. Acep Iwan Saidi menuliskan bahwa pemimpin itu harus paham. Dia harus “blusukan” seperti Jokowi yang akhirnya mengerti permasalahan. Bukan hanya menunggu laporan yang pada akhirnya ujian nasional menjadi amburadul seperti tahun ini. Giliran diminta tanggung jawabnya untuk mundur, langsung menyerahkannya kepada presiden.

Dialog nanpaknya kurang dikedepankan dalam kebijakan pendidikan. Selalu saja pemerintah menunjukkan kuasanya. Sama halnya dengan pemberlakuan kurikulum 2013. Guru harus patuh dan diminta menerima begitu saja tanpa ada proses dialog. Mereka berkampanye kalau kurikulum 2013 lebih bagus dari kurikulum sebelumnya. Padahal kalau “diobok-obok”, cuma ganti casing saja. Mirip ponsel yang diganti casingnya, sementara mesinnya masih sama saja.

Mereka yang mengkritik kurikulum dianggap melawan kekuasaan atau dibilang bukan pemain inti. Padahal sudah sangat jelas guru adalah pemain inti dalam pembelajaran. Pendidikan berubah menjadi pendidikan kuasa. Siapa yang tak suka silahkan minggir dan pemerintah selalu saja merasa tidak bersalah. 

Untunglah, tahun ini mendikbud sudah meminta maaf akan pelaksanaan un yang amburadul itu, dan hanya meminta maaf pelaksanaan un di tingkat sma saja, padahal di tingkat smp pun masih banyak kesalahan dan pelanggaran yang dibuat oleh pemerintah. Anda dapat membacanya secara lengkap di berbagai media.

Pada akhirnya, pendidikan yang dibuat oleh kita menjadi pendidikan tanpa nilai. Kepongahan penguasa begitu sombongnya, dan kami para guru hanya diminta mengajar saja yang baik, dan siapkan administrasi pembelajaran dengan lengkap. Giliran evaluasi siswa, pemerintah dengan seenaknya mengambilnya. Para kroni pemerintah pun akhirnya mendapatkan rezeki dari proyek kemdikbud yang terkadang membuat kita mengelus dada. Dibutuhkan kesabaran tingkat tinggi untuk mengingatkannya. 

Panik sertifikasi dan pendidikan minus kebudayaan semestinya tak perlu terjadi di negeri ini. Para guru semestinya sudah happy atau bahagia dengan tunjangan sertifikasinya. Biarkan dia malu sendiri ketika dapat uang sertifikasi, tetapi dirinya tidak menjadi guru profesional. Masyarakat yang akan menilainya.

Bagi kami para guru yang terus memperbaiki diri dan terus belajar sepanjang hayat akan terus berjuang agar pendidikan ini menjadi berbudaya dan berkarakter. Anak-anak harus dididik dengan keteladanan. Kebudayaan dibagun dari kesadaran dan bukan pemaksaan yang terus menerus dipaksakan. Saya pun tidak tahu apa yang akan terjadi nanti bila kurikuum 2013 yang belum siap itu dipaksakan juga diterapkan tahun ajaran baru ini.

Kita tunggu saja jalan ceritanya, dan izinkan saya bernyanyi lagu Betharia Sonata, “AKU MASIH SEPERTI YANG DULU”.

Salam blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com/

Rumahku Surgaku

Istriku, Intan, dan Berlian
Istriku, Intan, dan Berlian

Hampir dua minggu ini, saya merapihkan rumah. Memanggil tukang untuk mengecat rumah dengan tampilan yang baru. Rasanya enak benar melihat suasana rumah yang berbeda dari sebelumnya. Penuh dengan warna-warni seperti melihat pelangi yang ada di langit. Kadang susah juga ya memadukan keinginan anggota keluarga.
Baca lebih lanjut

Setelah Sertifikasi Guru Lalu Apalagi?

Guru-guru di SMP Labschool Jakarta

Guru-guru di SMP Labschool Jakarta

Pertanyaan itu selalu menghantui saya sebagai orang yang berprofesi sebagai seorang guru. Setelah lulus sertifikasi guru dalam jabatan di tahun 2008, ada serasa beban yang harus saya jaga baik-baik setelah mendapatkan tunjangan sertifikasi (TPP) dan mendapatkan sertifikat “Guru Profesional”.
Baca lebih lanjut

Pengarahan Penilaian Kinerja Guru dan Kepala Sekolah

Rabu, 14 Oktober 2009 guru-guru di SMP Labschool Jakarta yang telah lulus sertifikasi guru mendapatkan pengarahan dari bapak Asrom, salah seorang pengawas di Jakarta Timur. Ada 19 orang guru di sekolah kami yang telah lulus sertifikasi guru dan mendapatkan tunjangan sertifikasi guru.

Ada beberapa hal penting yang disampaikan oleh bapak Asrom yaitu:

  1. Penilaian kinerja guru akan segera dilaksanakan
  2. Bagi guru yang tidak benar dalam memberikan informasi sertifikasi, maka akan dimonitoring, khususnya yang jam mengajarnya kurang dari 24 jam
  3. Ada 1181 guru di Jakarta timur yang telah mendapatkan tunjangan sertifikasi guru dan akan segera dimonitoring melalui penilaian kinerja guru.
  4. Asesor akan meminta 3 guru, 3 siswa, 2 karyawan, dan 1 orang kepala sekolah untuk mengisi kuesioner penilaian kinerja guru.
  5. satu KD, satu RPP, dan satu nilai ulangan harian yang sesuai dengan permen 22, permen 41, permen 20
  6. Guru melaksanakan 8 standar kompetensi pendidikan
  7. Ulangan harian adalah ulangan yang mewakili satu RPP, sehingga dapat diketahui kemampuan siswa
  8. Dalam permen no 39 tahun 2009 dikatakan guru yang bertugas pada satuan pendidikan harus minimal 24 jam tatap muka sesuai dengan kewenangannya, silahkan download permen no. 39 di bawah ini.
  9. Penilaian kinerja guru terdiri dari dimensi kepribadian, sosial, penyusunan RPP, pelaksanaan pembelajaran, pelaksanaan membuka dan menutup pelajaran, variasi stimulus pembelajaran, dan keterampilan bertanya.

bersambung

silahkan unduh permen 39 tahun 2009 di sini

Sertifikasi Guru antara Anugerah dan Musibah

Kemarin, saya mendapatkan telepon dari teman kuliah di pascasarjana UNJ. Namanya Diah Alfaningtyas. Saya biasa memanggilnya Mbak Poppy. Beliau adalah guru berprestasi tingkat nasional tahun 2007 yang pernah diundang oleh Presiden SBY ke istana. Ada kabar buruk tentang pengelolaan sertifikasi guru. Temannya mbak Popi sudah 2 bulan ini gelisah, karena berkas-berkas sertifikasi gurunya hilang entah kemana. Sementara teman-teman guru lainnya berkasnya sudah masuk. Temannya mbak Popi itu sudah ke sana kemari mencari berkasnya itu, tetapi tetap tidak ditemukan. Beliau sangat cemas karena berkas-berkas itu adalah berkas-berkas yang asli, sebab untuk sertifikasi guru sekarang ini, semua berkas harus asli. Termasuk semua ijasah yang pernah didapatinya di perguruan tinggi atau universitas.

Kabar buruk kedua, sebelum lebaran saya mendapatkan komentar dari ibu Sri Nurhayati, dengan No.peserta sertifikasi 08026108710410, No.sertifikat pendidik 090808702783. Dalam komentarnya beliau menuliskan, Hingga saat ini saya masih dibuai harapan menunggu pencairan TPP, di mana teman2 yg lulus th 2007 mereka sudah bersuka-cita menerima tunjangan yg sudah cair untuk kesekian kalinya, sementara saya dan teman2 seangkatan hingga detik ini tunjangan yg sangat kami harapkan masih dalam bayang2 mimpi. Kami sangat berharap kepada para pejabat terkait dg masalah ini sgr dapat merealisasikan apa yg sudah menjadi hak kami, karena saat ini uang tsb betul2 sangat kami butuhkan demi kelangsungan hidup kami baik secara profesi maupun secara individual. Demikian, semoga para pejabat terkait tergugah hatinya untuk segera mencairkan tunjangan tsb sebelum hari raya Idul Fitri 1430 H. Terimakasih.

Lalu beliau mengirimkan kabar buruk kembali kepada saya,

Yth Bpk Wijaya Kusumah. Kabar terakhir yang saya dengar, kesalahan terletak pada beberapa guru yg sudah dinyatakan lulus, namun masih memiliki kekurangan jam mengajarnya, yakni kurang dari 24 jam. Mengapa kesalahan tersebut baru terdeteksi ketika saya dan teman-teman berada pada puncak harapan akan cairnya tunjangan tsb, seperti yang sudah dinikmati oleh teman-teman saya yg lulus tahun sebelumnya. Apakah alasan ini sengaja dicari untuk menghambat pencairan tunjangan yg sudah menjadi hak kami? Seandainya betul kesalahan hanya terdapat pd beberapa orang guru, lalu di mana letak keadilan? Mengapa kami yg sudah nyata2 lulus dg baik disamaratakan dengan yg lulus dg catatan masih kurang jam mengajarnya? Begitukah karakteristik kaum birokrat di Indonesia? Oh iya, saya guru di sebuah SMP Negeri di Kota Bogor. Terima kasih atas responnya. Kota Bogor memang selalu beberapa langkah ketinggalan dari kota2 dan kabupaten2 mana pun dalam segala hal, lebih2 kalau sudah menyangkut urusan pencairan tunjangan, pembayaran rapel kenaikan gaji dan sejenisnya.

Menganalisis dua kasus di atas, nampaknya ada sesuatu yang harus diperbaiki dalam administrasi pengelolaan sertifikasi guru. Sebab kedua masalah diatas seringkali menimpa para guru. Mereka kebingungan hendak kemana mencari informasi. Ada yang sudah lulus tetapi belum dapat pencairan tunjangan dan ada yang belum dinyatakan lulus lalu berkasnya hilang.

Saya tak mau saling menyalahkan. Saya hanya ingin mencari solusi. Nampaknya memang ada hal-hal yang harus dibenahi. Ada informasi dan komunikasi yang belum nyambung antara pengelola dengan para guru yang mengikuti sertifikasi guru.

Buat mereka yang telah mendapatkan tunjangan profesi (TPP) tentu ini merupakan anugerah, tetapi buat guru yang belum mendapatkan tunjangan dan berkasnya hilang ini merupakan musibah.

Sertifikasi guru memang melelahkan. Saya pun pernah mengalaminya ketika berkas saya hilang tak jelas kemana. Masing-masing pengelola saling menyalahkan. Pihak Pemda menyalahkan UNJ, dan UNJ menyalahkan pihak Pemda. Karena tak menemukan solusi, saya langsung pergi ke dirjen PMPTK  depdiknas Senayan. Begitulah yang saya alami. Namun, berkat kerja keras dan pantang menyerah, akhirnya saya bisa juga dinyatakan lulus sertifikasi guru dan sudah menerima TPP. Setelah saya mengikuti PLPG di fakultas Teknik UNJ. Dari semua peserta PLPG itu, belum semua mendapatkan tunjangan sertifikasi guru. Mereka juga masih bingung kemana lagi harus mencari informasi.

Sertifikasi guru nampaknya harus dievaluasi dan dibenahi sistem administrasinya. jangan sampai ada terjadi ketidakadilan. Semoga saja mendiknas yang baru nanti, dapat membenahi kekurangan-kekurangan yang terjadi pada sertifikasi guru. Sertifikasi guru harus menjadi anugerah bagi para guru untuk menjadi guru profesional dan bukan musibah.

Salam Blogger Kompasiana

Omjay

Kejujuran Guru Dalam Sertifikasi Guru

Seminar Nasional menjadi Serbuan para Guru

Seminar Nasional menjadi Serbuan para Guru

Terus terang saya sedih juga melihat ada teman-teman guru yang memalsukan dokumen portofolionya. Hal yang paling sedih adalah bila ada teman yang minta dibikinkan sertifikat seminar atau minta sertifikat seminar secara terang-terangan kepada saya padahal mereka tak ikut seminar. Ada juga yang ikut seminar tapi cuma mau sertifikatnya saja sehingga ilmu yang didapatkan setelah seminar menguap entah kemana. Padahal begitu banyak ilmu bertebaran dalam kegiatan seminar. Melihat kenyatan ini saya sungguh sedih. Haruskah kejujuran guru dalam sertifikasi guru tergadaikan hanya untuk mendapatkan penghargaan sebagai guru profesional?
Baca lebih lanjut