Tag Archives: siti nuryani

Resume Menerbitkan Buku Tanpa Biaya

RESUME

MENERBITKAN BUKU TANPA BIAYA ALA OMJAY

Oleh: Siti Nuryani

Setiap hari guru pasti bergelut dengan kegiatan membaca dan menulis. Dengan demikian membuat buku dan menerbitkannya mestinya bukan pekerjaan yang sulit. Kenyataannya masih banyak guru yang belum pernah membuat buku. Kalau pun ada, kebanyakan mereka selalu mengeluarkan biaya untuk menerbitkan buku. Menurut Omjay, banyak guru yang tidak sabar menerbitkan bukunya sehingga menjadi korban pengusaha buku.

Tidak demikian halnya dengan Omjay. Dari 13 buku yang sudah diterbitkan, tidak satu pun yang mengeluarkan biaya. Bahkan Omjay mendapat uang dari hasil penjualan langsung maupun dari royalty. Omjay bisa seperti itu karena belajar dari teman-teman beliau yang menerbitkan buku tanpa biaya sendiri.

Membuat buku dan menerbitkan sendiri sebenarnya mudah jika tahu cara-caranya. Omjay berbagi cara mudah menyusun buku (new version) ala Omjay. Cara ini sudah dilakukan Omjay dalam melahirkan buku-buku untuk diterbitkan.

Cara mudah membuat buku adalah memiliki komitmen yang tinggi dan harus menulis secara konsisten setiap hari. Jika hari ini tidak menulis, esok harinya harus menulis dobel, sebagai hukuman atas kealpaan kita. Jika setiap hari menulis, maka jika tulisan itu dikumpulkan akan menjadi banyak. Orang lain bisa mengambil manfaat dari tulisan kita tersebut.

Jika setiap hari kita membuat satu artikel, sebulan akan ada 30 artikel. Dalam setahun kita sudah memiliki 360 tulisan. Bila setiap tulisan tersebut terdiri dari 2 lembar, maka dalam setahun kita sudah menulis sebanyak 720 lembar. Jumlah yang cukup besar untuk menjadi buku. Jika mau, buku itu bisa dibuat menjadi beberapa seri, seperti yang dilakukan Mas Wisnu Nugroho (wartawan Kompas).

Setiap orang bisa menulis. Menurut Mas Baban, agar bisa menulis dengan baik ada 5 langkah yang perlu dilakukan, yaitu T.U.L.I.S

  1. Temukan ide
  2. Ukir idenya
  3. Libatkan otak kiri dan kanan
  4. Ilmu dan teknik penulisan dikuasai
  5. Sesuaikan tulisan dengan pembaca

Jika dilatih terus, proses TULIS akan berjalan dengan lancar, seperti Mas Baban dalam 2 tahun ngeblok sudah menerbitkan 6 buku.

Membuat buku itu mudah, kita yang membuat susah. Jika draf buku kita ditolak penerbit, jangan putus asa. Kita bersabar dulu untuk menyusun strategi agar oplah meningkat. Mungkin itu merupakan langkah awal bahwa buku kita akan menjadi bestseller. Hal ini seperti yang dialami Andrea Hirata dan Omjay sendiri. Awalnya, bukunya ditolak penerbit. Dengan kesabaran dan menyusun strategi baru, akhirnya menjadi best seller setelah ditawarkan kepada penerbit lain..

Cara paling mudah membuat buku adalah dengan mengumpulkan sedikit demi sedikit tulisan yang ada di blog untuk dirangkai menjadi buku. Juga dengan menghimpun para komentar dapat menambah ide penulisan buku.

Cara paling jitu membuat buku adalah dengan rajin ke toko buku dan kenali calon pembeli buku. Lihat peluang yang ada. Siapkan mental untuk memulai membuat buku dengan kesungguhan. Buku yang bagus, dibuat dengan melalui proses yang panjang.

Untuk menjadi penulis tidak perlu modal yang banyak. Yang dibutuhkan hanyalah ketekunan. Jika itu sudah dimiliki tinggal menentukan jenis buku yang akan ditulis.

Jenis buku ada beberapa macam.

  1. Berdasarkn isinya buku diklasifikasikan menjadi buku fiksi dan nonfiksi.
  2. Berdasarkan peruntukannya, buku diklasifikasikan menjadi buku umum dan buku sekolah
  3. Berdasarkan tujuannya, buku diklasifikasikan menjadi buku ajar dan buku pengayaan.
  4. Buku Ajar

Menurut Johan Wahyudi, buku ajar adalah buku yang digunakan dalam proses kegiatan belajar. Buku ajar disebut juga buku teks, buku materi, buku paket, atau buku panduan belajar

Tahapan membuat buku ajar:

  • Membaca dan menelaah SK dan KD yang merupakan standar isi buku yang mengacu pada kurikulum yang digunakan
  • Menyusun peta konsep atau sistematika pendistribusian materi, semacam daftar isi
  • Mengumpulkan materi yang relevan dengan SKKD
  • Membaca buku ajar yang telah lolos BSNP
  • Memahami instrumen penilaian buku ajar
  • Mengembangkan materi sesuai peta konsep
  • Merefleksikan koherensi materi dalam satu bab/unit
  • Minta pertimbangan pihak lain untuk memberi kritikan atau masukan
  • Buku siap dicetak
  1. Buku Pengayaan

Buku pengayaan yaitu buku yang disusun untuk memperkaya dan memperkuat materi yang telah disajikan dalam buku ajar.

Tahapan membuat buku pengayaan:

  • Memahami SK dan KD sesuai jenjang pendidikan
  • Mengidentifikasi SK dan KD yang masih memerlukan pengayaan
  • Menyusun mind set (semacam daftar isi)
  • Mengumpulkan bahan
  • Mengembangkan bahan sesuai yang dibuat
  • Meminta pihak ketiga untuk memberi masukan atau kritik
  • Buku siap dicetak

Kesimpulan

Cara jitu membuat buku:

  1. Pelajari cara orang lain membuat buku
  2. Susun rencana pembuatan buku agar sesuai harapan
  3. Temui penerbit dan yakinkan bahwa buku kita mempunyai nilai jual yang tinggi
  4. Jika memiliki jiwa pengusaha dan memiliki modal sendiri untuk menerbitkannya harus berkumpul dengan banyak komunitas

Mendulang Pahala di Awal Dhulhijjah

MENDULANG PAHALA DI AWAL DZULHIJJAH

Oleh: Siti Nuryani

Berdasarkan sidang Isbat yang dilaksanakan hari Sabtu, 11 Agustus 2018, Kementerian Agama menetapkan tanggal 1 Dzulhijjah 1439 H jatuh pada hari Senin, 13 Agustus 2018. Dengan demikian Hari Raya Idul Adha jatuh pada tanggal 22 Agustus 2018.

Dalam Tafsir surat Al Fajr ayat ke-2, Allah berfirman:

Wa layaalin ‘asyr

“Demi malam yang sepuluh,”

Sebagian besar ahli tafsir mengatakan, Allah bersumpah untuk 10 hari-hari awal di bulan Dzulhijjah. Hari-hari dilipatgandakannya pahala dan juga sebagai hari yang menjadi kuburan para pelaku maksiat. Karena akan dilipatgandakannya dosa.

Nabi Muhammad SAW bersabda, yang artinya:

“Tidak ada hari yang amal shalih lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari yang sepuluh ini (sepuluh awal Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya, “Apakah lebih baik daripada jihat fii sabilillah?” Beliau bersabda, “ Iya. Lebih baik daripada jihat fii sabilillah, kecuali seseorang keluar berjihat dengan harta dan jiwa raganya kemudian dia tidak pernah kembali lagi (mati syahid).” (HR Al Bukhari).

Berdasarkan firman Allah dan sabda Rasul tersebut dapat kita simpulkan bahwa sepuluh hari pada awal bulan Dzulhijjah merupakan hari-hari yang terbaik di antara hari-hari yang terdapat dalam satu tahun. Dalam sepuluh hari tersebut terkumpul semua ibadah, antara lain: puasa, takbir dan dzikir, haji, qurban, amal shalih, dan sholat Ied.

Untuk itu, sebagai umat muslim. kita harus berusaha sekuat tenaga untuk melakukan amal-amal shalih semaksimal mungkin. Amalan yang bisa kita lakukan pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah, antara lain:

Kita berusaha untuk bisa melaksanakan puasa selama 9 hari. Mulai tanggal 1 sampai dengan tanggal 9 Dzulhijjah. Sekaligus juga bisa kita niatkan puasa Ayyamul bidh (puasa putih) untuk 3 harinya. Jika tidak mampu kita puasa Dawud, sehari puasa dan sehari berbuka. Jika masih terasa berat kita bisa berpuasa Senin, Kamis, dan tanggal 9. Jika masih tidak mampu, puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah. Dengan puasa tanggal 9 Dzulhijjah atau puasa Arafah, insya Allah dosa-dosa kita diampuni setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Maka pada tanggal tersebut kita usahakan bisa berpuasa.

  1. Takbir dan dzikir

Pada tanggal 1-9 kita bisa memperbanyak takbir mutlak. Takbir yang tidak dibatasi waktu dan tempat. Kita bisa melakukannya di mana saja dan kapan saja. Misalnya kita terus bertakbir di rumah, di sekolah, di kantor, di pasar, di kendaraan, di jalan. Tita  bertakbir seperti layaknya takbiran hari raya.

Pada tanggal 9 Dzulhijjah ba’da Subuh hingga waktu Asyar hari Tasyrik yang terakhir (13 Dzulhijjah) kita memperbanyak takbir muqayyat, yaitu takbir yang kita lakukan setelah shalat lima waktu maupun shalat Sunnah. Takbir tersebut sebaiknya dilakukan setelah dzikir.

  1. Memperbanyak amalan shalih, seperti bersedekah

Pada 10 hari di awal Dzulhijjah, kita usahakan bisa bersedekah. Berapa pun jumlahnya yang penting kita lakukan dengan ikhlas. Amal sedekah yang kita keluarkan dengan ikhlas, pahalanya  akan dilipatgandakan oleh Allah.

  1. Membaca Al Quran

Setiap hari hendaknya kita membaca Al Quran. Berapa pun yang bisa kita baca, istiqamahkan. Mungkin 1 halaman, 2 halaman, atau lebih. Akan lebih bagus lagi jika disertai membaca terjemah atau tafsirnya.

  1. Menuntut ilmu

Kita usahakan pada 10 hari pertama menuntut ilmu. Menuntut ilmu bisa kita lakukan dengan mendatangi kajian-kajian atau mendengarkan ceramah. Bisa juga denga membaca buku-buku keagamaan, membaca postingan yang berisi kajian Al Quran atau hadis. Tujuan kita adalah untuk menghilangkan kebodohan dan menambah ilmu agama.

  1. Memperbanyak doa pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Pada tanggal 9 Dzulhijjah sebaiknya kita memperbanyak bacaan LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIR (tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan, segala pujian, dan Allah yang menguasai segala sesuatu).

Sebaik-baik doa adalah yang kita panjatkan pada hari Arafah. Apa pun bentuknya, kita berdoa kepada Allah. Insya Allah akan dikabulkan.

  1. Shalat Ied dan Qurban

Pada tanggal 10 Dzulhijjah kita lakukan shalat Idul Adha. Jika kita mampu hendaknya menyembelih qurban. Nabi melarang umatnya mendekati tempat shalat jika kita memiliki kelapangan rizki dan tidak mau mengeluarkan qurban.

Pada hari tasyrik (11-13 Dzulhijjah) kita memperbanyak doa sapu jagad (Rabbana aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa adzaaban naar).

Mari kita berdoa agar diberi kekuatan untuk bisa mengamalkan amalan-amalan yang pahalanya dilipatgandakan. Kita juga harus berusaha sekuat tenaga untuk meninggalkan kemaksiatan sehingga kita terhindar dari dosa-dosa yang juga dilipatgandakan.

Semoga Allah meridhoi niat kita. Aamiin ya Robbal Aalamiin.

(Disarikan dari berbagai sumber)

Aksi Peduli Gempa Lombok

lombokAKSI PEDULI GEMPA LOMBOK

Oleh: Siti Nuryani

Saat ini saudara-saudara kita yang ada di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat sedang berduka. Sejak Minggu pagi, 29 Juli 2018 sampai tanggal 10 Agustus 2018 telah terjadi gempa bumi sekitar 450 kali. Gempa bumi yang awalnya dengan kekuatan 6,4 pada skala Richter (SR) hingga puncaknya pada tanggal 5 Agustus 2018 sebesar 7 SR. Gempa terbesar tersebut dirasakan di seluruh pulau Lombok, Pulau Bali, Pulau Sumbawa, Pulau Madura, Pulau Sumba, Pulau Flores, bahkan Pulau Jawa bagian timur.

Gempa tersebut telah merusak banyak bangunan pada daerah yang terdampak gempa. Kerusakan yang paling parah terdapat di Pulau Lombok sebagai pusat gempa. Gempa bumi telah memporak-porandakan sebagian besar wilayah Lombok. Ribuan rumah mereka rusak. Harta benda mereka habis. Bahkan, ternak dan sawah pun habis terdampak gempa. Tidak sedikit sarana ibadah dan fasilitas umum lainnya rusak parah. Rumah ibadah, rumah sakit, perkantoran, jembatan, dan sekolah rusak. Jaringan telekomunikasi dan listrik pun mengalami kerusakan. Jumlah kerugian akibat gempa tersebut mencapai trilyunan rupiah.

Korban akibat bencana tersebut terus bertambah. Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sampai saat ini warga yang dinyatakan meninggal sekitar 300 orang. Anak-anak menjadi yatim, piatu, bahkan yatim piatu. Bahkan orangtua kehilangan anaknya. Ribuan orang mengungsi.

Di tengah-tengah warga yang menderita, terdapat orang yang jahat. Mereka justru memanfaatkan kesempatan untuk menjarah harta benda milik korban. Rumah yang ditinggal pemiliknya mengungsi, dijarah. Toko-toko yang rusak juga tidak luput dari jarahan mereka. Sungguh, mereka tidak punya rasa kasihan. Mestinya mereka membantu mengamankan harta benda milik korban. Bukannya malah menjarahnya. Akhirnya, sebagian warga bergiliran untuk menjaga harta benda milik korban yang tersisa.

Sejak awal terjadi gempa, banyak pihak yang turut serta membantu para korban. Banyak relawan dan komunitas memberikan bantuan. Mereka tidak hanya dari wilayah tersebut, namun datang dari berbagai penjuru negeri. Bantuan yang datang berupa tenaga, pikiran, bahkan materi. Bantuan terus mengalir. Namun, masih ada beberapa daerah terisolasi belum menerima bantuan.

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, kami juga ikut berduka. Dalam apel pagi kemarin, kami mengetuk hati warga sekolah untuk menumbuhkan rasa empati. Kami mengimbau para siswa untuk ikut serta merasakan derita saudara-saudara kita di Lombok. Ibaratnya seperti tubuh. Jika ada anggota tubuh yang sakit, seluruh badan juga merasakan sakit. Bagamana mungkin kita enak-enakan berpangku tangan. Sementara ada saudara kita sedang mengalami musibah. Mereka sedang mengalami ujian dari Allah yang sangat berat.

Anak-anak yang ada di Lombok tidak bisa bersekolah. Sekolah mereka roboh. Perabotan sekolah rusak. Buku-buku tertimbun tanah. Seragam mereka sudah terkubur tanah. Bahkan sepatu, buku, tas, semuanya tiada. Di sini kami harus bersyukur. Anak-anak bisa bersekolah tanpa dihantui rasa takut akan terjadi gempa susulan. Sementara mereka di sana terus merasa was-was jika terjadi gempa susulan.

Kita bayangkan, bagaimana seandainya kita yang mengalami musibah tersebut. Tentu akan mengalami trauma, sedih, menderita, lapar, kedinginan, tidak bisa bersekolah. Untuk itu, kita harus turut serta merasakan kepedihan mereka. Sisihkan uang saku untuk kita sumbangkan kepada mereka. Sedikit bagi kita, sangat berharga bagi mereka. Besarnya sumbangan tidak ditentukan. Yang penting menyumbang dengan diikuti rasa ikhlas karena Allah. Apa yang disumbangkan akan dibalas oleh Allah dengan balasan yang lebih baik. Selain itu para siswa juga bisa menyumbangkan pakaian layak pakai untuk para korban.

Usai apel pagi ini, kami kembali mengingatkan, bahwa hari ini mereka diminta menyumbangkan sebagian uang sakunya. Pengurus OSIS mengambil tempat di depan untuk menerima sumbangan. Para siswa ada yang menyumbangkan uangnya langsung ada juga yang dikoordinir oleh ketua kelasnya. Mereka secara bergantian memasukkan sumbangannya di kardus yang sudah disiapkan.

Kami merasa bangga melihat antusiasme para siswa. Mereka sangat bersemangat untuk menyumbang para korban. Ternyata mereka mimiliki kepedulian yang cukup tinggi. Rasa sosial, solidaritas, empati, peduli kepada sesama memang harus ditanamkan sejak dini. Harapan kita, kelak setelah dewasa anak-anak sudah terbiasa dengan karakter yang baik.

Semoga apa yang kami lakukan bermanfaat untuk para korban gempa di Lombok. Demikian juga, semoga musibah tersebut dapat memperkuat rasa nasionalisme bangsa Indonesia. Peristiwa tersebut juga bisa membentuk karakter bangsa agar lebih baik lagi. Mengingat, akhir-akhir ini karakter bangsa sudah mengalami degradasi akibat berbagai faktor.

Sulitnya Membangun Kebiasan Sholat

SULITNYA MEMBANGUN KEBIASAAN SHALAT

Oleh: Siti Nuryani

Menjalankan shalat merupakan kewajiban setiap muslim. Di sekolah kami, semua siswa, guru, maupun staf Tata Usaha beragama Islam. Untuk menanamkan kebiasaan shalat di sekolah merupakan tantangan tersendiri. Dibutuhkan tenaga dan pikiran yang luar biasa untuk menumbuhkan pembiasaan tersebut.

Sekolah kami menerapkan 6 hari masuk sekolah. Hari Senin sampai dengan Kamis, pelajaran berakhir pukul 14.00. Kebanyakan siswa maupun guru rumahnya cukup jauh. Jika mereka shalat di rumah, tentu akan kehabisan waktu shalat. Kami membuat program shalat dhuhur secara berjamaah di sekolah.

Program pembiasaan shalat dhuhur berjamaah di sekolah sudah tersusun. Panitia dan petugas sudah ditetapkan. Shalat dhuhur dilaksanakan saat istirahat kedua. Awal pembiasaan, hampir seratus persen siswa mengikuti shalat berjamaah. Kami sangat senang melihatnya. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, siswa yang tidak shalat terus bertambah. Meskipun sudah diterapkan tanda tangan presensi, masih saja terdapat siswa yang tidak shalat.

Melihat situasi seperti ini, kami mengambil inisiatif. Shalat dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama, siswa laki-laki shalat terlebih dahulu. Guru perempuan memastikan semua siswa laki-laki menuju ke mushola. Ibu-ibu guru menggiring siswa dan menyisir semua tempat. Tahap kedua siswa perempuan dan Ibu-ibu giliran shalat. Bapak-bapak guru yang selesai shalat, bertugas menggiring anak perempuan ke mushola.

Awalnya, kegiatan berjalan dengan lancar. Kami sangat senang melihat situasi seperti ini. Anak-anak antusias menuju mushola. Namun, beberapa saat kemudian, para guru juga merasa bosan. Setiap hari harus menggiring anak ke mushola. Kesadaran anak untuk shalat berjamaah juga belum tumbuh.  Jumlah siswa yang shalat juga terus menurun. Anak laki-laki terkadang bersembunyi di kolong meja. Ada juga yang bersembunyi di balik tembok sekolah. Bahkan ada yang di gudang. Anak perempuan pun tidak mau shalat dengan dalih berhalangan atau tidak membawa mukena.

Melihat kenyataan seperti ini, kami kembali mencari solusi. Bagaimana caranya supaya anak mau shalat berjamaah tanpa harus disuruh. Kami kembali mengadakan rapat. Banyak usulan yang diberikan oleh para guru. Akhirnya kami sepakat untuk menggunakan kartu tanda shalat. Dengan dibantu para siswa, kami menyiapkan kartu tersebut.

Saat upacara bendera, kami umumkan bahwa semua siswa wajib shalat dhuhur berjamaah di sekolah. Mengingat mushola yang kecil, shalat dilaksanakan secara bertahap. Setelah shalat, siswa akan memperoleh kartu bernomor. Siswa kelas 7 memperoleh kartu berwarna biru, kelas 8 warna kuning, dan kelas 9 warna merah. Kartu tersebut harus diserahkan kepada guru yang mengajar jam ke-7. Siswa yang tidak menyerahkan kartu, harus melaksanakan shalat terlebih dahulu. Setelah itu,  baru boleh mengikuti pembelajaran.

Program ini ternyata cukup efektif. Saat waktu shalat dhuhur tiba, guru piket cukup memberi pengumuman. Muadzin yang mendapat giliran, segera mengumandangkan adzan. Siswa yang rajin, segera menuju ke mushola. Siswa yang malas masih enggan untuk segera ke mushola. Mereka berusaha mengulur-ulur waktu. Namun, akhirnya mereka pun shalat. Alhamdulillah, para guru tidak lagi berkeliling sekolah untuk menyisir para siswa.

Para siswa kelihatan antusias untuk menunaikan shalat berjamaah di mushola. Setelah bel istirahat berbunyi, mereka menuju ke mushola. Anak-anak perempuan lebih antusias dibanding anak laki-laki.

Dalam melaksanakan shalat, masih ada siswa yang shalatnya tidak khusyu. Mereka terkesan shalat hanya agar bisa memperoleh kartu. Menurut pengamatan kami, anak laki-laki ada yang shalat sambal menoleh kanan atau kiri. Shalat sambil berbicara dengan teman, bahkan shalat sambil bergurau. Hal ini merupakan tantangan bagi kami. Kami harus memutar otak, bagamana caranya agar siswa bisa shalat dengan khusyu.

Semula, pembagian kartu dilaksanakan setelah shalat. Siswa yang bertugas membagi kartu berdiri di depan mushola. Siswa harus antri untuk mengambil kartu. Namun kebiasaan untuk antri juga masih belum membudaya. Para siswa tidak mau mengantri, khususnya siswa laki-laki. Mereka berebut untuk mendapatkan kartu. Akibatnya, jamaah yang shalat pada tahap berikutnya terganggu. Suara gaduh terdengar sampai di dalam mushola.

Pembagian kartu di luar mushola tidak efektif. Terdapat beberapa siswa yang tidak shalat tetapi meminta kartu. Pembagian kartu kita ubah. Kartu dibagikan kepada siswa sebelum shalat di dalam mushola. Mereka pun berebut untuk mendapat kartu. Suasana pun menjadi gaduh. Akhirnya, kartu kami letakkan di tempat masuk mushola. Tempatnya terpisah antara laki-laki dan perempuan. Siswa bisa mengambil kartu ketika masuk mushola. Cara ini lebih efektif untuk mengantisipasi kecurangan yang dilakukan para siswa. Dengan cara pemberian kartu ini, mudah-mudahan semangat para siswa untuk shalat berjamaah terus terjaga.

Membiasakan shalat memang butuh konsistensi dari semua pihak. Sekali saja kita bosan untuk mengingatkan, mereka tidak akan shalat. Kecuali, anak-anak yang sudah tertanam kebiasaan positif di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Pembiasaan sesuatu di sekolah akan mudah dilaksanakan jika didukung oleh semua pihak. Di sekolah semua warga sekolah ikut berpartisipasi. Di rumah orang tua juga harus selalu mengingatkan putra-putrinya.

Sekolah sudah mati-matian membiasakan anak-anak untuk melaksanakan shalat. Namun, jika di rumah orang tua melakukan pembiaran, niscaya anak akan merasa malas untuk shalat. Jadi kerjasama yang baik antara sekolah dengan keluarga sangat penting. Hal ini akan menjadikan anak-anak terbiasa melakukan hal-hal yang positif. Mereka tidak akan berat untuk melaksanakan shalat lima waktu.