Tag Archives: sumintarsih

Resensi Buku: Cara Omjay Sukses Menulis

Cara Omjay Sukses Menulis

 

Judul   : Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi

Penulis : Wijaya Kusumah, S. Pd., M. Pd.

Penerbit: PT Indeks (2012)

Tebal buku: xii + 290

img_2469

Gerakan Literasi Nasional yang digulirkan oleh pemerintah pada tahun 2015 telah menyeret para guru menjadi penulis. Apalagi didukung beberapa lembaga yang menyelenggarakan berbagai pelatihan menulis secara intensif. Hal ini diikuti bermunculannya banyak buku tentang tips menulis. Sebenarnya sejak dulu pun sudah banyak buku tips menulis, tetapi bukan ditulis oleh guru pada umumnya.

Satu hal yang membedakan adalah, dulu orang membaca buku dengan tanpa mengenal penulis sebelumnya. Sedangkan kini, banyak buku tips menulis dari penulis yang sudah dikenal di kalangan pembaca, yaitu para guru, rekan sendiri. Bahkan, dengan semakin berkembangnya teknologi dan informasi, para pembaca dan penulis sudah saling mengenal sebelumnya. Keakraban telah terbangun lantaran mengikuti pelatihan atau yang tergabung dalam komunitas-komunitas penulis dan berinteraksi dalam berbagai media sosial. Akibatnya, membaca bukunya jadi enak saja, gitu.

Seperti E book  yang baru saja selesai saya baca sejak dua hari lalu. Buku itu tepat saya selesaikan pada 20 Agustus 2018, pukul 22.00. Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi adalah judul buku tersebut, karya Wijaya Kusumah.

Wijaya Kusumah, S. Pd. M. Pd. Seorang guru blogger Indonesia  atau yang memiliki nama panggilan akrab Omjay, adalah seorang blogger yang menikmati kehidupannya sebagai penulis semenjak kuliah S-2. Melalui blog, blog pribadi atau blog kroyokan (kompasiana), facebook, dan twitternya, tulisan Omjay dinikmati banyak orang. Omjay telah membuktikan sendiri berkat komitmennya yang kuat untuk menulis setiap hari. Tentu, hal ini menjadi daya tarik dari buku ini karena pesan yang tersampaikan adalah sebuah aksi nyata. Pesan-pesan yang telah Omjay sampaikan kepada banyak orang lewat blognya, tak ayal banyak yang sudah dibukukan.

Kumpulan artikel dalam buku ini mengalir ringan dengan bahasa santai lebih mengena. Apalagi sudah pernah bertegur sapa walau lewat watsapp, saya merasa sedang berguru langsung di hadapannya. Maka, kadang membacanya sembari senyum, mengangguk, bahkan tak sabar ingin membuktikan nasihat Omjay.

 Menurutnya, menulis bisa dilakukan siapa saja, tidak perlu takut atau malu, berulang kali disebutkan bahwa kekuatan utama ada pada diri sediri.  Omjay mengajarkan bahwa proses menjadi penulis tidaklah sesulit yang dibayangkan banyak orang. Dari judul pertama sampai akhir, saya menganggap semacam alur cerita yang dimulai dengan pengenalan, pemunculan masalah, klimaks, peleraian, dan resolusi.

 Pertama pengenalan yang sangat lembut. Belum menyinggung tentang profesi penulis yang sebagian orang menganggap  sulit dijangkau. Namun, Omjay hanya mengajak pembaca untuk menulis setiap hari, memahmkan bahwa membaca buku itu membuka dunia, jangan memaksakan diri menulis bila sudah mengantuk, dan lain-lain.

Pada pertengahan awal,  Omjay menghadirkan dari mana mulai menulis, asal menemukan ide menulis, manajemen waktu, dan lain-lain. Berikutnya, Omjay menguatkan agar menulis menjadi kebutuhan, membangun kemampuan menulis, atau membangkitkan semangat menulis.

Nah, selanjutnya bagian klimkas,  Omjay menyuguhkan iming-iming atau bonus menulis dengan artikelnya “Alhamdulillah, Omjay Mendapatkan Hadiah Lomba Ngeblog” atau “Mau Dapat Uang Rp408.000.000 dari Menulis Buku?”

Bagian berikutnya, Omjay menggambarkan solusi ketika tulisan menggebu, hasrat menulis memuncak, bagaimana ketika ide menulis macet, dan lain-lain.  Disambung dengan ajakan halus lagi, mari menulis, menulis itu gampang. Namun, di bagian akhir, Omjay menantang pembaca lagi, “Tidak Gampang Menjadi Penulis”. Bukankah ini semacam menanting seberapa sungguh-sungguh kita akan megikuti jejak Omjay?

Salah satu pesan dahsyat Omjay pada halaman 210, “Jangan pernah berhenti untuk menulis. Sebab ketika Anda berhenti untuk menulis, maka Anda akan kehilangan momen indah dalam perjalanan hidup Anda yang indah ini. HIDUPLAH DENGAN MEMBERI SEBANYAK-BANYAKNYA, BUKAN MENERIMA SEBANYAK-BANYAKNYA. Percayalah.”

Ya, ini salah satu motivasi yang bagus bahwa sebenarnya semua orang berkesempatan untuk berbagi kepada sesama.

Iming-iming atau jaminan yang lain Omjay tuliskan di halaman 222, “Bila Anda merasakan bahwa membaca dan menulis sebagai sebuah kebutuhan yang tak bisa dipisahkan, maka saya ucapkan selamat kepada Anda. Sebab Anda telah masuk ke dunia tulis-menulis yang tak pernah lekang dikejar zaman. Itu akan selalu hidup mengikuti irama yang terjadi di masyarakat. Oleh karena itu, biasakan membaca dan menulis dalam keseharian Anda.”

Hal ini salah satu yang diulang-ulang tentang pentingnya budaya membaca dan menulis. Tentu saja semakin mengingatkan kepada pembaca agar menjadi pembaca yang baik bila ingin menjadi penulis yang baik.

Tekat kuat yang Omjay miliki sangat terasa di semua tulisannya dan otomatis membuka mata bagi pembaca. Seakan mengatakan, “Omjay saja bisa, Anda juga bisa.”

Coba kita buka halaman 252. Tekat Omjay menjadi blogger untuk menulis dan terus menulis sampai akhir menutup mata. Berbagi dan terus berbagi ke seluruh negeri. Membaca dan terus membaca sebagai makanan penting seorang blogger.

Luasnya pergaulan dan wawasan Omjay terbukti dari sekian tokoh yang sudah Omjay temui dalam menambah keterampilan menulisnya. Demikian juga banyaknya referensinya, bukti bahwa Omjay benar-benar penikmat buku.

Pengulangan materi yang ada dalam buku ini bukanlah kekurangan, justru menunjukkan bukti bahwa Omjay menulis setiap hari, seperti kehendak hati saat itu juga. Dari tabungan tulisannya setiap hari, disulap menjadi buku. Bahkan, ada artikel yang hanya 1,5 halaman (19). Hal itulah yang sangat Omjay ingin sampaikan kepada pembaca. Ajakan untuk menulis setia hari. Namun, alangkah bagusnya bila urutan artikel ibarat alur, seperti yang saya jelaskan di atas bisa disusun lebih rapi.

Akhirnya, pengakuan sepenuhnya dari saya bahwa mustahil pembaca tidak terpengaruh dan termotivasi dari buku ini.

Omjay sudah menulis setiap hari dan sudah membuktikan apa yang terjadi. Giliran kita, yang merasa sebagai guru penulis pemula, kapan membuktikannya?*

Penulis: Sumintarsih (Guru SMP Al Irsyad Purwokerto)

Email: sumintarsihpurwokerto@gmail.com

HP: 085726427549

Guru Penebar Virus

Guru Penebar Virus

Sumintarsih, guru SMP Al Irsyad Purwokerto

 kaos-guru

Berstatus sebagai guru aku sandang 18 tahun sudah. Sebuah masa yang tidak sebentar. Terbukti, sudah puluhan undangan pernikahan sering aku terima dari para murid yang hendak mengakhiri masa lajangnya. Sebuah rasa syukur tersendiri. Sebagai guru SMP-nya, aku masih mereka ingat untuk menyaksikan hari bersejarah mereka.

Banyak kenangan tentunya, yang telah terangkai menjadi penghias  hari-hariku membersamai mereka. Ya, tepatnya sejak Pebruari 2000, awal aku melibatkan seluruh perhatian dan pengabdianku untuk membantu menyiapkan penerus masa depan bangsa di dunia pendidikan.

Dari pintu ke pintu, kucoba tawarkan nama….

Sepotong syair itu dari penyanyi kawakan, Ebiet G. Ade, pernah mengiringi perjalananku pada awal menjadi guru. Kegiatan pemasaran dari pintu ke pintu pernah aku lakukan. Aku yang baru saja bergabung di yayasan tempatku sekarang bekerja, diberi  tantangan merasakan layaknya sales girl.

Sebagai sekolah swasta yang sepi peminat, semua guru dikerahkan untuk menjaring siswa. Kala itu, awal sistem dan kurikulum baru akan diterapkan. Sekolah biasa bahkan berlabel sekolah “buangan”, bermimpi ingin menjadi sekolah unggulan.

Seiring berjalannya waktu, aneka program dan kegiatan dilakukan sudah. Target akademis dan nonakademis digenjot pula. Waktu telah menjawab, masyarakat pun semakin mengakui kini. Input yang aneka rupa, diupayakan untuk bagus dalam akademis, hafalan Alquran, serta pembiasaan berperilaku dan beribadah.

Dan kini, aku melakukan hal yang sama seperti 18 tahun lalu. Dari pintu ke pintu. Tentunya bukan untuk menjual sekolah lagi. Akan tetapi, dengan bangga dan bermurah-murah senyum, kuucapkan, “Ibu, saya datang bersilaturahmi dan ingin menunjukkan dua buku karya saya. SMP Al Irsyad Purwokerto, Perjalanan Menuju Sekolah Unggulan dan Ada Bioskop di  Sekolah (perjalanan pribadi 18 tahun menjadi guru).” Dua buku ini sebagai hasil pelatihan bersama Mediaguru akhir 2017 dan awal 2018. Mereka pun dengan senang hati menghargai karyaku.

Alhamdulillah, sejak memiliki buku, aku makin percaya diri mengajar di depan kelas. Terlebih bila aku mengajak dan memotivasi murid-muridku untuk membaca dan menulis. Rupanya memang guru harus menjadi teladan dalam segala hal agar nasihat dan  ilmu yang diberikan lebih mantap  disampaikan. Bisa kita ingat kembali Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005.

Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama: mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada penddikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Disebutkan juga bahwa suatu pekerjaan profesional jelas memerlukan keahlian, kemadirian, atau kecakapan, dan sebagainya.

Pengalaman lain yang selalu terkenang adalah tatkala pantunku dihargai lima juta rupiah.

Tahun 2006, saat aku menjadi moderator bedah buku biografi Bapak Suchari di depan ratusan siswa dan guru. Sang Pembicara, Pak Eling, orang tua siswa yang merupakan salah satu putra pengusaha/ pendiri Sambas Purbalingga, akan menutup pembicaraan. Saya lancarkan pantun sanjungan dan penyemangat untuk Sambas Grup. Seketika itu juga, takdir dari Allah, Pak Eling kontan menyerahkan catatan, sedekah lima juta rupiah. Alhamdulillah, pantunku membuahkan lima juta rupiah untuk para guru. Seusai acara itu, beredarlah berita “pantun 5 juta” di kalangan para guru. Sejak saat itu pula, aku lebih PD berpantun di dalam forum-forum kegiatan guru, apalagi di dalam kelas.

Syukur dan haruku yang tengah kurasakan kini, sukses mengumpulkan  53 naskah cerita alumni dari tahun lulusan 2002 sampai 2018,  tujuh belas angkatan. Dan ternyata, di antara rekan guru, tinggal aku seorang yang tersisa sebagai saksi sejarah keberadaan mereka, khususnya angkatan-angkatan awal.

Setelah satu per satu naskah aku baca, ada rasa syukur dan bangga bahwa beberapa nasihatku dulu masih mereka ingat. Aku pun menyimpulkan bahwa menjadi guru harus bersyukur karena bisa menebarkan nasihat dan kebaikan. Apalagi, keteladanan dalam pembentukan karakter para peserta didik.

Alhamdulillah, tuntas sudah mimpiku sebagai penggagas dan editor buku Apa Kata Mereka Saja, Antologi Cerita Alumni SMP Al Irsyad Purwokerto 2002 – 2018. Buku cantik berkover hitam elegan dengan judulnya bertuliskan warna emas. Buku ini sebagai persembahan dan dedikasiku untuk sukses pendidikan sekolah Islam.

Tidak berlebihan bila aku katakan bahwa menjadi guru itu keren sekali. Setiap hari bisa memvirusi banyak kepala dan kepala-kepala itu adalah masa depan Indonesia.  Semangat yang aku punya tidak untuk diriku saja. Insyaallah, semoga aku bisa terus memberikan sesuatu yang berarti.*

Biodata Penulis

Nama:Sumintarsih, guru SMP Al Irsyad Purwokert

            Jalan Prof. Dr. Suharso, Purwokerto

Email: sumintarsihpurwokerto@gmail.com

(085726427549)