Tag Archives: wijaya kusumah

Mau Pesan Buku Omjay?

Teman teman terbaik yang omjay sayangi semuanya.

Alhamdulillah semakin banyak yang pesan buku omjay. Luar biasa responnya, omjay sama sekali tidak menyangka sedahsyat ini.

Terima kasih atas kepercayaan membeli buku ini. Sungguh saya tidak menyangka ternyata menulis di blog bukanlah pekerjaan yang sia sia. Banyak peristiwa bisa dituliskan. Omjay banyak belajar dari kawan kawan blogger lainnya.

Blog memang alat rekam yang ajaib. Dengan mantra ajaib “menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi,” omjay menulis dari apa yang disukai dan dikuasai. Menulis adalah sebuah hobi yang mendatangkan rezeki.

Buku menulis blog untuk pendidikan adalah buku ke sembilan dari 10 buku yang omjay tulis. Semoga dapat bermanfaat buat pembaca. Setidaknya dapat memberikan motivasi tersendiri buat guru guru di indonesia. Blog bisa dijadikan media pembelajaran buat para guru dengan muridnya.

Harga buku ini 52 ribu dan belum termasuk ongkos kirim via jne. Bagi yang mau pesan bisa transfer ke bank BRI kcp diknas jakarta rek 122001006537505 a.n. Wijaya Kusumah.

Terima kasih kepada pak Wiranto Indeks yang selalu siap mengantar buku ini ke sekolah labschool hampir setiap hari. Silahkan sms omjay di 08159155515 utk pemesanan buku.

Semoga royalti bukunya lumayan untuk bayar kuliah S3 omjay di pps unj. Mohon doanya cepat wisuda. Aamiin.

tik-buku

Iklan

Berkat Menulis Aku Dapat Ipad

Tak banyak orang tahu kalau saya mempunyai ipad baru dari menulis. Menulis sebuah buku yang diperuntukkan para guru. Para guru yang ingin meneliti di kelasnya sendiri dengan menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK).

Ketika membuat dan menyusun naskah buku PTK itu, banyak halangan dan rintangan saya lalui. Untunglah berkat berbagi tugas dengan Pak Dedi Dwitagama, akhirnya buku itu tersusun juga. Kami pun langsung mencari penerbit yang bisa menerbitkan buku PTK yang telah disusun. Penolakan demi penolakan datang bertubi-tubi.

Kami dianggap bukan pakar yang mampu menulis buku-buku tentang PTK. Waktu itu, penerbit lebih suka menerima buku dari seorang guru besar atau penulis yang berprofesi sebagai dosen. Saya dan Pak Dedi tak patah semangat.

Kami menghubungi Prof. Conny Semiawan, dan berguru langsung kepada beliau tentang penelitian tindakan kelas. Dari masukan-masukan beliau, kami memperbaiki draft buku yang telah disusun. Kami pun melengkapinya dengan contoh-contoh PTK dari para juara nasional. Dari informasi Prof Conny, draft naskah buku mengenal PTK yang disusun kami tawarkan ke penerbit Indeks. Tak beberapa lama kemudian, ada kabar baik dari penerbit indeks. Mereka bersedia menerbitkan buku yang kami susun.

Kami pun bersyukur, karena buku ini ternyata mendapatkan sambutan hangat dari pembaca. Terutama para guru yang benar-benar ingin memperbaiki kinerjanya sebagai guru melalui PTK. Setelah launching buku di pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ), kami banyak menerima permintaan untuk mengisi seminar dan workshop PTK. Kami pun akhirnya berbagi ilmu PTK ke pelosok nusantara. Bahkan Rektor UNJ, Ketua Jurusan Teknologi Pendidikan UNJ, dan jajaran birokrat di kemendiknas turut memberikan sambutan dalam buku PTK ini.

Buku PTK kami pun habis, dan dicetak ulang. Dari penulis menjadi pembicara ternyata bukanlah pekerjaan mudah. Saya belajar dan terus belajar bagaimana menjadi pembicara yang baik. Di akhir sesi setiap kali memberikan materi, kami selalu meminta peserta memberikan masukan sebagai evaluasi diri. Rata-rata dari peserta sangat puas dengan cara-cara kami dalam memberikan materinya. Kami pun mendapatkan kritik dan saran dari mereka untuk menjadi lebih baik lagi. Terus berbagi ilmu PTK ke pelosok negeri.

Ketika Mas Iskandar Zulkarnaen (admin kompasiana) menuliskan tentang ipad di kompasiana, saya pun langsung jatuh cinta dengan gadge baru ini. Saya harus melakukan aksi nekat bila ingin punya ipad seperti mas Iskandar. Saya pun terus menerus mempromosikan buku yang disusun melalui berbagai media, terutama blog di internet. Alhamdulillah, royalti penjualan buku mengenal PTK cukup banyak.

Saya dan pak Dedi langsung membeli ipad dari royalti pertama buku kami. Wah bahagia sekali rasanya. Dari menulis aku dapat ipad. Setiap kali memberikan materi, ipad selalu saya bawa untuk memberikan motivasi kepada para peserta. Mereka saya ajak untuk aktif menulis, dan membuat karya tulis berbentuk buku. Dengan menulis banyak pesan yang kita sampaikan, dan dengan menulis pula akan banyak keajaiban yang akan ditemui bila kita komitmen, dan konsisten dalam melakukannya.

Menulis sebelum tidur menjadi pekerjaan rutin yang dilakukan oleh alam bawah sadar saya setiap harinya. Menulis setiap hari telah menjadi motto hidup saya. Hasilnya sungguh luar biasa. Lebih dari 1000 artikel tercipta begitu saja. Andapun pasti bisa seperti saya.

Salam blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/wijayalabs/berkat-menulis-aku-dapat-ipad_5500e90aa33311be0b510d59

Ketika TIK Bukan Sebagai Mata Pelajaran

Mata saya tak bisa terpejam, membaca satu demi satu kata-kata yang tersusun dalam salinan permendikbud nomor 45 tahun 2015. Tadinya ingin optimis dengan adanya permendikbud baru pengganti permendikbud nomor 68 tahun 2015.
 
TIK sebagai mata pelajaran harus didukung oleh semua

TIK sebagai mata pelajaran harus didukung oleh semua

Peran guru TIK dan KKPI masih tetap sama dengan sebelumnya. TIK tetap saja sebagai bimbingan, dan bukan mata pelajaran. Artinya, kemdikbud belum mampu mengabulkan permohonan guru TIK dan KKPI agar matpelnya kembali seperti dalam kurikulum 2006.
 
Matpel TIK diganti prakarya dalam kurikulum 2013 dengan alasan 30 persen sekolah belum teraliri listrik. Pertanyaannya adalah haruskah kita mengorbankan siswa yang 70 persen? Sungguh ini menjadi tidak adil dan ketika pendidikan dilakukan tidak berdasarkan rasa keadilan, maka tunggulah kehancurannya.

Baca lebih lanjut

Labschool Rumah Keduaku

Tulisan ini dibuat setelah omjay menonton video anak-anak alumni SMP Labschool Jakartadi youtube. Videonya keren abis dan membuat kita semakin sayang sama Labschool. Mereka senang belajar di Labschool, dan rasanya seperti berada di rumah sendiri. Tak salah kalau semua anak dan guru mengatakan, “Labschool rumah keduaku”.

Keceriaan anak-anak di sekolah menggambarkan bahwa sekolah adalah taman yang indah untuk tempat anak-anak berbagi kreativitas dan inspirasinya. Senang dan gembira menyatu dalam hati mereka. Pembelajaran terselenggara dari interaksi antara guru dan siswanya yang selalu saling menghargai, menghormati, dan memahami. Sehingga tercapailah apa yang dinamakan kebersamaan yang didapat lebih dari di rumah sendiri. Mereka belajar dengan penuh kebahagiaan. Tak ada ketegangan karena pembelajaran dilakukan atas dasar kebermanfaatan. Siswa tahu untuk apa dia belajar dan menguasai ilmu pengetahuan. Dengan begitu pembelajaran terlaksana dengan sendirinya tanpa harus dipaksakan. Sebab belajar adalah sebuah kebutuhan yang menguntungkan. Bila tak belajar maka siswa akan merasakan haus dan dahaga pengetahuan. Hal itulah yang omjay temui di rumah keduaku “Labschool”.

Perjalanan dari rumah sendiri di Jatibening Bekasi menuju rumah kedua tak terasa ketika kita tahu bahwa rumah kedua adalah tempat yang sangat menyenangkan. Tak ada beban di sana-sini. Tak ada hal yang kurang menyenangkan terjadi di rumah kedua. Labschool menjadi tempat yang aman, dan nyaman melalui mottonya, IMAN, ILMU, DAN AMAL.

Labschool memang rumah keduaku. Di sekolah ini kami menghabiskan waktu bersama untuk meraih cita-cita. Tempat yang nyaman bagi anak Indonesia yang ingin melukis wajah Indonesia yang menawan. Tempat yang super keren dan tempat bermain yang mengasyikkan ada di Labschool. Kebersamaan selalu dijaga dalam suka maupun duka. Pokoknya di rumah keduaku banyak orang merasa menemukan kebahagiaannya. Kalau kagak percaya, lihatlah kebahagian mereka di https://youtu.be/-SqK8Zut1nY.

Kebahagiaan, keceriaan, dan kegembiraan terpancar dari wajah-wajah generasi emas Indonesia yang bersekolah di Labschool. Kami membebaskan mereka untuk berkreativitas dan berinovasi dengan rambu-rambu yang disepakati bersama. Alhasil banyak produk siswa yang melahirkan prestasi tinggi. Tak salah bila kemudian rumah keduaku ini memberikan catatan sejarah sebagai sekolah yang unggul di masyarakat. Banyak orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di rumah keduaku. Setiap kali dibuka pendaftaran siswa baru, rumahku selalu diserbu oleh mereka yang tahu kehebatan sekolahku.

Tak terasa sudah lebih dari 20 tahun mengabdi di rumah keduaku. Ada perasaan haru sekaligus bangga. Kebanggaan itu terasa ketika membagikan raport yang berisi hasil belajar siswa selama satu semester. Ketika nilai anak-anak bagus dan berpretasi, maka sangat lega hati ini. Namun bila ada nilai yang kurang, maka diri ini merasa termotivasi untuk membantunya.

Tak ada anak yang bodoh, yang ada adalah anak yang malas. Kalau kita rajin, dan mau berlatih pasti akan pandai. Rajin belajar akan membuat kita naik kelas. Sebuah motivasi yang selalu kuingat untuk memotivasi peserta didikku.

Guru dituntut untuk membuat pembelajaran yang menyenangkan sekaligus mengasyiikan. Oleh karena itu lesson plan atau rencana pelaksanaan pembelajaran harus dibuat sebelum masuk ke kelas. Kata orang bijak, masuk kelas tanpa persiapan, maka keluar kelas tanpa penghormatan. Artinya guru harus mempersiapkan dirinya agar mampu tampil prima di kelasnya sendiri. Guru menjadi aktor atau artis yang merangkap sutradara. Pemberdayaan siswa harus dilakukan agar terjadi interaksi dalam pembelajaran. Berbagai metode pembelajaran harus diuji cobakan agar selalu ada inovasi dalam setiap pembelajarannya di kelas.

Sikap ingin tahu siswa atau kepo harus dimunculkan, agar siswa tahu lebih luas kebermanfaatan ilmu yang didapatkannya. Percaya kepada nalar tidak cukup disimpan dalam hati. Guru berkewajiban membuat siswa memiliki sikap unggul dengan kenalarannya. Sehingga siswa merasa mandiri, bertanggung jawab, rendah hati, dan peka terhadap lingkungannya. Suasana pembelajaran yang nyaman dan mengasyikkan harus diciptakan oleh guru yang membuat lesson plannya dengan baik.

Pembelajaran efektif selalu berfokus kepada siswa. Di rumah keduaku itu pengembangan pengetahuan peserta didik dilakukan melalui pembelajaran yang memungkinkan siswa mendapatkan pengetahuan yang seluas-luasnya.  Pengenalan dan pelatihan keterampilan dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan berbagai keterampilan. Sehingga keterampilan yang diajarkan melekat kuat ke dalam long time memori siswa. Itulah yang kami lakukan agar pembelajaran menjadi berkualitas dan bermakna. Sebab semua materi memiliki nilai-nilai pemahaman yang terkait dengan kesempatan yang dialami dan diamalkan oleh siswa dalam kehdiupannya sehari-hari.

Contohnya pembelajaran membuat blog di internet. Siswa diarahkan untuk membuat konten-konten kreatif melalui tulisannya, foto, dan video. Siswa diajarkan bagaimana mengelola blog pribadinya dengan baik. Mereka diminta menulis dari apa yang disukai dan dikuasainya. Muncul minat dan kreativitas siswa untuk menulis. Dari tulisan itulah terbentuk karakter siswa yang mampu menuliskan apa yang telah dilakukannya. Hal inilah yang membedakan siswa di rumah keduaku dengan rumah-rumah lainnya. Tak terasa sudah banyak yang mengupload konten-konten yang baik di rumah keduaku. Kalau tidak percaya lekaslah membuka internet, lalu ketiklah “Labschool”. Jangan kaget kalau anda mendapatkan informasi yang sangat oke banget dari rumah keduaku.

Budaya sekolah di rumah keduaku tergambar sangat jelas dari hasil siswa-siswaku menulis di blog dan mempublikasikannya di internet. Itulah mengapa sekolahku semakin terkenal karena banyak siswa yang ikut menulis dan menceritakannya di blog mereka masing-masing. Pembelajaran menulis melalui blog di internet terus menerus aku kembangkan dan bahkan menjadi bahan desertasiku. Semoga rumah keduaku semakin jaya dan terkenal di seantero dunia.

Jadi Blogger, Cara Guru Bagi Inspirasi Pendidikan

JAKARTA – Guru yang baik tidak hanya menyimpan ilmu yang dimiliki untuk diri sendiri tapi dibagi untuk memperkaya orang lain. Tidak hanya dengan mengajar secara lisan, berbagi ilmu juga bisa dilakukan lewat tulisan.

Namun, masih banyak guru yang mungkin kesulitan untuk menulis dan dibagikan secara luas lewat blog. Padahal, menurut guru yang juga seorang blogger Wijaya Kusumah, menulis bukan pekerjaan yang sulit.

Omjay -begitu sapaan akrabnya- mengatakan, sugesti alam pikiran akan mempengaruhi cara pandang seseorang saat menulis. “Menulis jadi susah ketika pikiran kita membuatnya susah. Dan terasa mudah ketika kita menikmatinya,” ujar Omjay.

Dia mengungkap, inspirasi untuk menulis dalam blog bisa datang dari mana saja. Bisa kejadian sehari-hari, pengalaman pribadi, maupun berbagi materi ajar. Namun, untuk menjadi penulis yang baik, seorang guru harus rajin membaca.

“Mau bisa menulis, kita harus rajin membaca. Sementara minat baca guru-guru kita masih rendah. Berapa orang dari kita (guru) yang menyisihkan pendapatannya untuk membeli buku? Masih sangat minim,” tuturnya.

Menyadari minimnya minat baca dan menulis guru di Indonesia masih rendah, Omjay pun rajin berbagi cerita untuk menginspirasi para guru mengikuti jejaknya. Namun, kata Omjay, motivasi terbesar harus muncul dari diri sendiri.

“Untuk bisa memotivasi orang kita harus bisa memotivasi diri sendiri. Saya ajak lewat berbagai prestasi yang sudah saya rasakan agar mereka terinspirasi. Saya juga buat komunitas sejuta guru ngeblog yang ada di Facebook agar semangatnya bisa menular,” ungkap pria berbadan tambun itu.

Terakhir, Omjay menegaskan jika teknologi hanya alat bantu untuk menyampaikan materi kepada orang lain. Sebab, teknologi yang sesungguhnya ada di dalam diri tiap orang.

“Secanggih apa pun teknologi tapi sebagai guru tidak menguasai materi, maka teknologi tidak ada apa-apanya. Teknologi itu ada di dalam diri kita,” tutur guru TIK itu.

(rfa)

http://news.okezone.com/read/2014/11/25/65/1070634/jadi-blogger-cara-guru-bagi-inspirasi-pendidikan

Omjay Kebanggaan Kompasiana

Wijaya Kusumah (dengan tambahan huruf “h”) atau lebih dikenal sebagai Omjay (dalam dunia maya dan dunia nyata) telah mengukir sejarah bagi kompasiana.com. Sosoknya telah hadir di Harian Kompas tanggal 28 Mei 2013. Tidak sembarangan orang bisa dihadirkan dalam rubrik Sosok dalam Harian Kompas, salah satu harian terbesar di Indonesia. Kehadirannya di Harian Kompas pun bukan semata-mata karena ia super aktif di kompasiana.com.

Bagi kompasianer, memang nama Omjay sudah tidak asing lagi. Dengan munculnya sosok Omjay di Harian Kompas secara utuh dan lengkap maka genaplah penilaian serta penghargaan yang diperoleh oleh pribadi Omjay. Ternyata sosok tinggi besar, berkumis dan berjenggot ini memiliki produktivitas tinggi dengan energi yang tak putus-putus untuk terus menulis dan menulis. Tampaknya menulis sudah jadi nafasnya. Barangkali, ia baru akan berhenti menulis kalau nafasnya juga berhenti.

Kalau dilihat dari profilnya yang telah memperoleh gelar juara I Tingkat Nasional Lomba Karya Tulis Ilmiah pada tahun 2005, memang rupanya Omjay ini sudah memiliki kemampuan menulis yang luar biasa. Kemampuan menulis ini kemudian didorong oleh Dedi Dwitagama, sahabatnya, untuk menulis di blog pada tahun 2007. Jadilah ia penulis blogger yang paling produktif. Apalagi telah tersedia lahan yang subur di dataran kompasiana. Makin suburlah ia berkembang.

Profesi utamanya sebagai guru bidang studi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di SMP Labschool Jakarta yang dilakukannya sejak 1992 yaitu ketika masih menjadi mahasiswa di Institut Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (IKIP), sekarang berubah nama menjadi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), menjadi landasan utama hasrat untuk menyebarluaskan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya.

Dengan menyandang gelar S2 dalam bidang Program Studi Elektro di UNJ, Omjay semakin melengkapi dirinya untuk terus memperdalam ilmunya dalam profesinya sebagai seorang pengajar. Mungkin kesetiaannya mengajar di SMP Labschool terlampau besar sehingga ia tidak menjadi dosen di alma maternya, UNJ. Mungkin waktunya sudah habis untuk berbagai kegiatan membagi ilmunya kepada sesama rekan guru lainnya dan kepada masyarakat dunia maya melalui blog nya.

http://www.kompasiana.com/djohans/omjay-kebanggaan-kompasiana_553011866ea834661b8b4595

Dengan aktivitasnya yang luar biasa tersebut, maka Omjay sudah memiliki manajemen waktu yang efektif dan efisien. Dan tentu saja ia tidak akan melupakan relasi dengan keluarganya. Sebab dukungan serta perhatian keluarga merupakan faktor utama bagi sukses atau gagalnya seseorang. Dan rupanya Omjay telah memperolehnya tanpa menjadi “lupa daratan” ….. Selamat bagi Omjay, kebanggaan kompasiana kita!

Video

wijaya kusumah (omjay) di Pecha Kucha

presentasi wijaya kusumah