Buku PTK Edisi Kedua

Buku PTK EDisi Terbaru

Buku PTK EDisi Terbaru

Belilah buku PTK kami edisi kedua di kota anda. Silahkan menghubungi penerbit indeks di telp. 021 58350047 Fax 021-58350365 atau Pak Wiranto Hp. 081398916712 bag. Marketing

Anies Baswedan Bertemu dengan Komunitas Guru TIK dan KKPI

Hari Pertama di Kelas 8

Originally posted on tmdzaki:

Nama saya Teuku Muhammad Dzaki Syarief. Saya bersekolah di SMP Labschool Jakarta. Sekarang saya siswa kelas 8A. Saya akan memberi pengalaman saya di hari masuk pertama sekolah di kelas 8 setelah libur panjang sekitar 1 bulan karena libur akhir sekolah dan libur lebaran. Hari pertama di kelas 8 sangat berbeda dibandingkan dengan kelas 7 karena sudah banyak mengenal satu sama lain dengan teman, sudah mengetahui tempat-tempat di area sekolah, kenal dengan guru-guru dan, mengetahui peraturan-peraturan yang berlaku di Sekolah, tetapi kita juga sudah jarang sekali belajar karena libur panjang yang kira-kira 1 bulan. Di hari pertama, kita langsung melihat ke daftar kelas karena ingin melihat teman yang sekelas dengan kita sekaligus melihat yang menjadi wali kelas kita.

Di kelas 8, kita dapat bertemu dengan beberapa adik kelas yang satu SD dengan kita. Seperti biasa di hari pertama, kita duduk dengan bersebelahan dengan teman sekelas di kelas 7 atau yang sudah…

Lihat yang asli 238 kata lagi

Jadi Blogger, Cara Guru Bagi Inspirasi Pendidikan

JAKARTA – Guru yang baik tidak hanya menyimpan ilmu yang dimiliki untuk diri sendiri tapi dibagi untuk memperkaya orang lain. Tidak hanya dengan mengajar secara lisan, berbagi ilmu juga bisa dilakukan lewat tulisan.

Namun, masih banyak guru yang mungkin kesulitan untuk menulis dan dibagikan secara luas lewat blog. Padahal, menurut guru yang juga seorang blogger Wijaya Kusumah, menulis bukan pekerjaan yang sulit.

Omjay -begitu sapaan akrabnya- mengatakan, sugesti alam pikiran akan mempengaruhi cara pandang seseorang saat menulis. “Menulis jadi susah ketika pikiran kita membuatnya susah. Dan terasa mudah ketika kita menikmatinya,” ujar Omjay.

Dia mengungkap, inspirasi untuk menulis dalam blog bisa datang dari mana saja. Bisa kejadian sehari-hari, pengalaman pribadi, maupun berbagi materi ajar. Namun, untuk menjadi penulis yang baik, seorang guru harus rajin membaca.

“Mau bisa menulis, kita harus rajin membaca. Sementara minat baca guru-guru kita masih rendah. Berapa orang dari kita (guru) yang menyisihkan pendapatannya untuk membeli buku? Masih sangat minim,” tuturnya.

Menyadari minimnya minat baca dan menulis guru di Indonesia masih rendah, Omjay pun rajin berbagi cerita untuk menginspirasi para guru mengikuti jejaknya. Namun, kata Omjay, motivasi terbesar harus muncul dari diri sendiri.

“Untuk bisa memotivasi orang kita harus bisa memotivasi diri sendiri. Saya ajak lewat berbagai prestasi yang sudah saya rasakan agar mereka terinspirasi. Saya juga buat komunitas sejuta guru ngeblog yang ada di Facebook agar semangatnya bisa menular,” ungkap pria berbadan tambun itu.

Terakhir, Omjay menegaskan jika teknologi hanya alat bantu untuk menyampaikan materi kepada orang lain. Sebab, teknologi yang sesungguhnya ada di dalam diri tiap orang.

“Secanggih apa pun teknologi tapi sebagai guru tidak menguasai materi, maka teknologi tidak ada apa-apanya. Teknologi itu ada di dalam diri kita,” tutur guru TIK itu.

(rfa)

http://news.okezone.com/read/2014/11/25/65/1070634/jadi-blogger-cara-guru-bagi-inspirasi-pendidikan

Omjay Kebanggaan Kompasiana

Wijaya Kusumah (dengan tambahan huruf “h”) atau lebih dikenal sebagai Omjay (dalam dunia maya dan dunia nyata) telah mengukir sejarah bagi kompasiana.com. Sosoknya telah hadir di Harian Kompas tanggal 28 Mei 2013. Tidak sembarangan orang bisa dihadirkan dalam rubrik Sosok dalam Harian Kompas, salah satu harian terbesar di Indonesia. Kehadirannya di Harian Kompas pun bukan semata-mata karena ia super aktif di kompasiana.com.

Bagi kompasianer, memang nama Omjay sudah tidak asing lagi. Dengan munculnya sosok Omjay di Harian Kompas secara utuh dan lengkap maka genaplah penilaian serta penghargaan yang diperoleh oleh pribadi Omjay. Ternyata sosok tinggi besar, berkumis dan berjenggot ini memiliki produktivitas tinggi dengan energi yang tak putus-putus untuk terus menulis dan menulis. Tampaknya menulis sudah jadi nafasnya. Barangkali, ia baru akan berhenti menulis kalau nafasnya juga berhenti.

Kalau dilihat dari profilnya yang telah memperoleh gelar juara I Tingkat Nasional Lomba Karya Tulis Ilmiah pada tahun 2005, memang rupanya Omjay ini sudah memiliki kemampuan menulis yang luar biasa. Kemampuan menulis ini kemudian didorong oleh Dedi Dwitagama, sahabatnya, untuk menulis di blog pada tahun 2007. Jadilah ia penulis blogger yang paling produktif. Apalagi telah tersedia lahan yang subur di dataran kompasiana. Makin suburlah ia berkembang.

Profesi utamanya sebagai guru bidang studi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di SMP Labschool Jakarta yang dilakukannya sejak 1992 yaitu ketika masih menjadi mahasiswa di Institut Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (IKIP), sekarang berubah nama menjadi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), menjadi landasan utama hasrat untuk menyebarluaskan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya.

Dengan menyandang gelar S2 dalam bidang Program Studi Elektro di UNJ, Omjay semakin melengkapi dirinya untuk terus memperdalam ilmunya dalam profesinya sebagai seorang pengajar. Mungkin kesetiaannya mengajar di SMP Labschool terlampau besar sehingga ia tidak menjadi dosen di alma maternya, UNJ. Mungkin waktunya sudah habis untuk berbagai kegiatan membagi ilmunya kepada sesama rekan guru lainnya dan kepada masyarakat dunia maya melalui blog nya.

http://www.kompasiana.com/djohans/omjay-kebanggaan-kompasiana_553011866ea834661b8b4595

Dengan aktivitasnya yang luar biasa tersebut, maka Omjay sudah memiliki manajemen waktu yang efektif dan efisien. Dan tentu saja ia tidak akan melupakan relasi dengan keluarganya. Sebab dukungan serta perhatian keluarga merupakan faktor utama bagi sukses atau gagalnya seseorang. Dan rupanya Omjay telah memperolehnya tanpa menjadi “lupa daratan” ….. Selamat bagi Omjay, kebanggaan kompasiana kita!

Benarkah Materi TIK Sudah Jadul?

Ada yang harus direnungkan oleh kawan-kawan guru TIK dan KKPI. Apakah benar materi TIK sudah jadul? Kalau memang benar, kenapa masih diajarkan? Apakah karena gurunya yang tak ikuti perkembangan zaman atau kondisi sekolah yang menyebabkan gurunya mati gaya? Sebuah tanya tak terjawab bila anda belum pernah jadi guru TIK. Apalagi jadi guru TIK dengan fasilitas yang serba kekurangan. Guru TIK seperti dewa yang serba bisa di dalam TIK.

Omjay Guru TIK

Omjay guru TIK

5 Tuntutan Guru TIK dan KKPI Indonesia

Berikut ini adalah 5 tuntutan guru tik dan kkpi yang telah disebarkan ke berbagai sosial media.

Tuntutan guru tik dan kkpi indonesia yaitu:

  1. Kembalikan mata pelajaran tik dan kkpi ke dalam struktur kurikulum nasional.
  2. Berikan diklat guru tik dan kkpi agar mampu mengembangkan keilmuannya dengan baik di sekolah. Bukan diklat bimbingan tik tapi diklat matpel tik yg berdiri sendiri.
  3. Tolak bimbingan tik karena tik bukan bimbingan konseling seperti bk. Oleh karena itu permen 68 ttg peran guru tik dan kkpi harus segera direvisi.
  4. Mendikbud anies baswedan harus berdialog dengan perwakilan komunitas guru tik dan tokoh tokoh tik indonesia untuk mendengarkan masukan ttg urgensi tik agar bangsa ini berdaulat di bidang tik.
  5. Generasi emas indonesia harus terdidik tik dengan baik dan oleh karena itu jam matpel tik minimal 2 jam pelajaran dan bukan 1 jam pelajaran.

Save tik dan kkpi harga mati.

Surat untuk Mendikbud Anies Baswedan

Jakarta, 17 Agustus2015

Kepada Yth.

Prof. Anies Baswedan

Menteri PendidikanNasional

di Senayan, Jakarta

Assalamualikum Wr.Wb.

Bersama surat ini,saya bermaksud untuk menyampaikan keprihatinan saya dengan kurikulum2013 khususnya implementasi teknologi TIK di dunia pendidikan.

Saya melihat guruTIK & TIK di sekolah sebagai kunci dan aset yang sangat strategisuntuk bangsa Indonesia ke depan. Khususnya untuk memenuhi hak azasibangsa menjadi pandai dan dapat mengeksplorasi pengetahuan tanpa dibatasi oleh struktur sekolah, ruang kelas, bangunan dan waktu. Inipenting karena sistem pendidikan konvensional, hanya mampu menjamin10% dari bangsa menjadi sarjana. 90% lainnya harus gigit jari karenadibatasi oleh ruang, waktu dan biaya.

Saya bermimpi agarada pemberdayaan guru TIK untuk mentransformasikan sekolah menjadie-learning / e-school / Ujian National Computer Based Test (UN-CBT)tanpa menjadikan para guru TIK sebagai sales tanpa dibayar olehvendor software proprietary yang tidak open source. Ini sangatpenting agar bangsa ini menjadi Berdaulat dan Merdeka tidak di jajahsoftware proprietary yang tidak open source. Semoga keberadaane-school bisa membantu menaikan throughput pendidikan agar anak kitayang masuk SD dapat jaminan menjadi sarjana 16 tahun kemudian.

Saya prihatinmendengarkan cerita guru TIK yang harus menjelma menjadi guru BK,guru-guru mapel lain, bahkan menjadi jajaran birokrasi di Dinas.DIKNAS kehilangan aset yang luar biasa dan harus memulai banyak haldari NOL jika ini dibiarkan. DIKNAS harus cepat mengubah arah gerakanini agar fondasi pendidikan tidak goyah dan mampu untuk mendukungperubahan bangsa menuju knowledge based society.

Usulan penguatanfondasi pendidikan yang terkait TIK adalah:

  • Mata Pelajaran TIK tetap di pertahankan. Lebih baik lagi jika di kembang untuk menunjang transformasi seluruh sekolah menjadi e-learning / e-school.
  • Ubah isi mata pelajaran TIK menjadi penunjang explorasi pengetahuan siswa. Dengan kondisi yang ada di sekolah terutama di daerah, tidak mungkin kita mengandalkan guru-guru mata pelajaran normal untuk membantu explorasi pengetahuan berbasis TIK. Saran saya, ubah isi TIK dari skill menggunakan komputer menjadi keterampilan untuk explorasi pengetahuan, seperti, simulasi berbagai bidang ilmu, akses ke e-library, online learning menggunakan moodle, dll.
  • Berdayakan guru TIK agar mendukung explorasi pengetahuan & e-learning berbasis open source. Proses transformasi sekolah menjadi sekolah berbasis TIK hanya di mungkinkan jika kita memberdayakan dengan baik guru TIK. Kita perlu menyiapkan modul sekolah berbasis TIK dan Training of Trainer bagi para guru TIK bahkan menyekolahkan mereka ke jenjang yang lebih tinggi.
  • Membuka kemungkinan bagi sekolah-sekolah yang mampu untuk secara agresif mengadopsi TIK dan mengimplementasikannya secara swadaya masyarakat bekerjasama dengan berbagai mitra di wilayahnya tanpa mengganggu APBN dan APBD.

Saya yakin Pak Aniessebagai MENDIKNAS akan legowo dan berbesar hati untuk menanamkanfondasi yang kuat dalam dunia pendidikan agar bangsa ini dapatmenjadi bangsa yang besar di wilayah Asia Tenggara.

Semoga Allahmemberikan kekuatan dan membalas budi baik Pak Anies.

Wassalam Wr. Wb.

Onno W. Purbo

Tembus: