Monthly Archives: Juli 2017

Belajar dan Berbagi Ilmu Elearning di UBH Padang Sumatera Barat

Sabtu, 29 Juli 2017 tim elearning KOGTIK berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang ilmu elearning kepada kawan-kawan guru TIK di Fakultas Teknik Universitas Bung Hatta Padang, Sumatera Barat.

suardi-padang

Lebih dari 70 orang guru TIK hadir dalam workshop elearning yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru TIK dan KKPI yang disingkat KOGTIK. Kegiatan ini bekerjasama dengan EPSON. Salah satu produk unggulannya adalah slide proyektor.

Baca lebih lanjut

Iklan

Kembali ke Sekolah

Sumber: Kembali ke Sekolah

Kembali ke Sekolah

This is me

Hari Senin tanggal 10 Juli 2017, hari pertamaku sekolah dan kembali menginjakkan kaki di sekolahku yang tercinta ini setelah liburan kenaikan kelas yang panjang. mulai hari ini ku duduk di kelas 8. Aku melangkah masuk ke area SMP dengan perasaan yang amat sangat tegang karena takut dengan kelas baru yang akan ku dapat. Saat aku datang pembagian kelas belum diberitahu yang membuatku menunggu. Sambil menunggu, aku berbincang-bincang dengan teman-teman kelas 7. Kami berbagi cerita tentang perjalanan libur kami.

Beberapa setelah itu, papan coklat bergeser didorong oleh seorang guru yang membuat aku dan teman-temanku penasaran. Ternyata itu adalah papan pengumuman pembagian kelas. Seketika sekitar papan pengumuman langsung ramai. Aku pun memasuki keramaian itu dengan susah payah untuk melihat dimana namaku berada. Sangat sesak saat berada dikerumunan para siswa yang juga ingin melihat namanya. Aku mencari namaku dari kelas 8A sampai ke kelas 8G. Saat ku melihat di bagian kelas 8F, aku…

Lihat pos aslinya 433 kata lagi

Olimpiade TIK Nasional (OTN)

Yuk ikut Olimpiade TIK Nasional tanggal 4 sampai 6 Agustus 2017 di Aula Gedung A Kemdikbud Senayan Jakarta. Info lengkap bisa dilihat di http://kogtik.or.id

poster-otn-2017

Baca lebih lanjut

Belajar Menulis dan Mengelola Blog

20161103_102225

Blog adalah bentuk Aplikasi Web. Blog pada dasarnya merupakan bagian dari situs website yang dapat diakses secara online yang memiliki fungsi utama memuat tulisan-tulisan, video, dan gambar (dimuat dalam posting) pada setiap halaman web. Blog bisa dijadikan media untuk belajar menulis.

Baca lebih lanjut

Urgensi Mata Pelajaran TIK & Terputusnya Mata Rantai Digital

Slide1

[URGENSI MAPEL TIK, PUTUSNYA MATA RANTAI DIGITAL]

Saat dialog sudah dijalankan, saat diskusi sudah dilakukan, saat bertukar pikiran sudah dilaksanakan, bahkan beberapa rekan guru rela dan ikhlash hati pergi ke Senayan untuk bertemu langsung dengan Pak Menteri saat itu sampai saat ini dan belum juga membuahkan sesuatu hal yang baik, maka kekuatan Media Sosial menjadi sedikit jalan kecil untuk menyuarakan suara hati para guru TIK/ KKPI di seluruh Indonesia.

Sudah hampir 4 tahun saat digulirkan oleh Menteri Pendidikan kala itu, TIK menjadi polemik. Entah apa yang ada di benak Pak Menteri saat itu saat menggulirkan Kurikulum baru dengan dana yang sebegitu besarnya tetapi menepikan TIK dalam posisi terkucilkan.

Barulah saat pro kontra bermunculan dengan berbagai isu dan kepentingan terbitlah Permendikbud No. 68 Tahun 2014 ketegangan dan kepanikan para Guru TIK/KKPI mulai agak mereda walau sebenarnya masih banyak yang berharap mapel TIK/KKPI dimasukkan kembali dalam struktur kurikulum bukan “sekedar bimbingan”. Permendikbud No. 68 Tahun 2014 yang kemudian “diperkuat dan diperjelas” lagi dengan Permendikbud No. 45 Tahun 2015 sangat jelas menerangkan “nomor kursi” tempat duduk guru TIK dalam Bis “Kurikulum 13”.

Tapi yang terjadi di lapangan benar seperti yang sudah diperkirakan oleh banyak Guru TIK/KKPI sebelumnya, para pemangku kepentingan pendidikan di tingkat daerah atau sekolah belum sepenuhnya memahami kejelasan regulasi tersebut. Tidak mengherankan jika sampai sekarang banyak guru TIK/KKPI merasa “terdzalimi” dengan Regulasi tersebut akibat belum dijalankannya amanat regulasi tentang Peran Guru TIK/KKPI di sekolah dalam Kurikulum 13 ini.

Berkaca pada kenyataan di lapangan saat implementasi Kurikulum 13 ini dijalankan yang terjadi adalah : BK/TIK tidak dijalankan entah dengan alasan tidak ada jam, implementasi kurang jelas, tenaga dibutuhkan untuk mengajar mata pelajaran lain, atau beragam alasan yang lain. Walau sebagian sekolah sudah “terbuka” wawasan dalam memahami arti regulasi guru TIK/KKPI dalam memberikan 1 jam pelajaran dalam waktu 1 minggu pelajaran masuk kelas, bukan hanya sekedar masuk jam “ekstra krikuler”.

Banyak guru TIK/KKPI yang beralih profesi menjadi guru mata pelajaran lain dengan alasan jam mapel tersebut kelebihan. Inilah potret pendidikan di Indonesia, bagaimana sebuah ilmu diberikan tanpa keluasan ilmu dari sang pemberi ilmu, kalau dalam agama Islam ilmu itu terputus sanad-nya. Meminjam istilah barat “The Right Man in The Wrong Place”.

Urgensi TIK bagi siswa tidak hanya sekedar siswa mampu bermain media sosial di HP karena TIK tidak hanya sekedar “mengetik”. Kalaupun mungkin TIK hanya sekedar mengetik tentulah anak-anak seperti Mbak Afi tidak akan mudah melakukan plagiasi sehingga dijuluki “AFI (Asli Flagiator Indonesia)”. TIK mengajarkan moral dan akhlaq bagaimana menghormati HAKI sehingga tidak mungkin bangsa Indonesia menjadi Bangsa Plagiator kalau betul belajar TIK-nya.

Siswa sekarang yang mengalami K13 akan menjadikan mata rantai digital TIK di dalam karakter pendidikan akan hilang, sehingga jangan salahkan mereka jika kelak dewasa dalam pekerjaan mereka mereka akan bingung mengoperasikan komputer jangankan saat bekerja, sebagai persiapan Ujian Nasional Berbasis Computer pun mereka akan bingung.

Jangan bandingkan kemampuan satu anak dalam bidang TIK sama dengan yang lain, karena masih banyak anak-anak yang bahkan sampai kelas IX SMP masih belum pernah mengoperasikan komputer karena ketakutannya memegang mouse atau mengetik menggunakan keyoard.

Inilah yang seharusnya disadari khususnya pemangku kepentingan dalam pendidikan, walau mungkin TIK bukan lagi sebuah mata pelajaran dan itu sudah menjadi kebijakan yang boleh dibilang “blunder” fatal dan menggantinya dengan “BK/TIK”. Apapun regulasinya seharusnya diterapkan bukan mengabaikannya dan menjadikan guru TIK sebagai guru “hangabehi”.

Bayak rekan guru TIK khususnya yang GTT ataupun di mengajar di sekolah swasta akhirnya tidak mendapatkan jam (NOL JAM) karena sekolah menganggap BK/TIK tidak begitu penting. Hanya karena rasa kemanusiaan saja mereka masih diperkerjakan dengan diberi jam mata pelajaran lain semisal prakarya atau seni budaya. Lagi-lagi guru TIK seakan menjadi korban “kesemrawutan” Kurikulum 13. Lagi-lagi seseorang dengan kompetensi yang berbeda “dipaksakan” untuk bekerja dengan “kompetensi” lain. Bagaimana kemampuan anak bisa optimal jika kompetensi gurunya bukan di bidangnya?

Pemenuhan guru TIK sebagai guru BK/TIK bukan hanya sekedar menjadikan tunjangan profesi guru tersebut akan berjalan dengan lancar, bukan itu pokok permasalahannya. Tetapi pemenuhan hak sebagai seorang pengajar untuk mengajar sesuai dengan kompetensi dan keahliannya bukan sebagai “penambal” untuk mata pelajaran lain. Andaikan berjalan sebagai guru TIK dan menjadi BK/TIK, logikanya bagaimana bisa membimbing? Ketemu anak saja tidak pernah?

Akhir tulisan ini, saya hanya ingin menegaskan buat rekan-rekan guru TIK, katakan dengan tegas SAYA Guru TIK, bukan guru olahraga, bukan guru seni budaya, bukan guru prakarya! Kembalikan mapel TIK atau jalankan amanat regulasi dengan memberi waktu 1 jam masuk kelas bukan sekedar ekstra kurikuler!

Penulis adalah Guru TIK

Baca lebih lanjut

Keterampilan Menulis

Keterampilan menulis sebagai salah satu aspek keterampilan berbahasa merupakan tahapan akhir yang harus dikuasai siswa, karena siswa dapat menulis dengan baik apabila serangkaian tahapan/aspek keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, dan membaca), telah dikuasai siswa secara utuh. Menulis adalah keterampilan berbahasa yang keempat dan sudah seharusnya dikuasai oleh siswa di sekolah.

Untuk dapat menulis secara efektif dan efisien bukanlah hal yang mudah, sebab diperlukan serangkaian proses. Proses tersebut melalui tahapan-tahapan dalam pembelajaran Bahasa, khususnya dalam pembelajaran menulis. Salah satu tahapan dalam pembelajaran menulis adalah menulis lanjutan, yang diberikan setelah tahapan menulis permulaan dikuasai siswa dengan baik[1].

Menulis merupakan suatu kegiatan komunikasi berupa penyampaian pesan (informasi) secara tertulis kepada pihak lain dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya. Aktivitas menulis melibatkan beberapa unsur, yaitu: penulis sebagai penyampaian pesan, isi tulisan, saluran atau media, dan pembaca.[2]

Menulis selama ini masih dianggap beban yang sangat berat bagi siswa. Mereka menganggap bahwa menulis itu sulit. Kenyataan saat ini di sekolah kemampuan menulis siswa rendah, dan perlu dilatih dengan berbagai cara. Hal itu berdasarkan pengalaman dan pengamatan kami sebagai guru di sekolah. Banyak siswa yang belum terampil menulis. Mungkin karena guru belum menemukan metode atau media yang tepat untuk berlatih menulis. Mungkin juga karena lemahnya membaca siswa. Rabun membaca akan membuat lumpuh menulis. Mereka yang jarang membaca biasanya akan mengalami kesulitan dalam menulis. Begitulah kenyataannya di sekolah.Hal ini menjadi masalah yang perlu dipecahkan.

Sebenarnya jika dicermati dasar menulis dapat dilatih melalui semua mata pelajaran, bukan hanya melalui pelajaran Bahasa Indonesia saja. Sebagai contoh dalam pembelajaran sejarah, siswa bisa menulis tentang kisah perjuangan para pahlawan, dari urutan kejadian-kejadian yang dialami dalam melakukan perjuangannya sampai akhir hayat dalam perjalanan hidupnya.  Begitu juga dalam mata pelajaran lainnya, dimana kemampuan menulis menjadi sesuatu yang sangat penting dikuasai siswa. Oleh karena itu keterampilan menulis perlu dibina, diajarkan, dan dikembangkan sejak dini yang dimulai dari pembinaan yang intensif dari sekolah dengan berbagai media sebagai saluran penyampai pesan. Media online di internet bisa dijadikan salah satu cara belajar menulis dan dapat dibaca langsung tulisannya oleh banyak orang.

Keterampilan menulis sebenarnya tidak hanya sekedar menulis simbol grafis sehingga membentuk kata dan selanjutnya membentuk kalimat yang memiliki arti atau makna dan dapat mengomunikasikan kepada pembaca dengan berhasil. Tetapi dibalik itu keterampilan menulis memerlukan latihan terus menerus, sehingga penulis memahami apa yang akan ditulis. Selain itu penulis harus mampu berpikir secara tepat untuk memilih kata dan juga variasi kalimat yang akan digunakan sehingga tulisannya dapat dipahami oleh pembaca.[3] Dengan semakin majunya teknologi informasi dan komunikasi (TIK), maka menulis tidak lagi dilakukan secara offline tapi juga secara online. Apa yang dituliskan langsung terbaca oleh orang lain di seluruh dunia.

Banyak beredar media online untuk berlatih menulis. Salah satu media online yang dapat digunakan untuk berlatih menulis adalah blog di internet. Blog di internet dapat digunakan sebagai alat bantu atau media untuk berlatih meningkatkan keterampilan menulis siswa. Bila blog ini dikelola dengan baik, maka itulah kunci suksesnya seorang blogger. Banyak orang akan berkunjung ke blognya. Siswa harus pula diajari cara mengelola blog di internet. Guru dapat menjadi model bagi siswa untuk belajar mengelola blog dengan baik. Salah satunya dengan membuat konten kreatif atau tulisan kreatif yang bermanfaat buat pembaca blog. “Content is the King”. Konten adalah raja bagi pengelola blog.

Blog adalah bentuk Aplikasi Web. Pada dasarnya merupakan bagian dari situs website yang dapat diakses secara online yang memiliki fungsi utama memuat tulisan-tulisan dan gambar (dimuat dalam posting) pada setiap halaman web. Blog biasanya dikelola oleh pengguna tunggal. Siswa dapat belajar mengelola blognya sendiri dengan panduan dari guru. Siswa sudah mulai berani menulis dari apa yang disukai dan kuasainya. Mereka dengan senang hati menulis apa saja yang menarik hatinya lalu dibagikan kepada pembaca setia blog pribadinya. Hal ini akan membuat siswa belajar jujur menulis karya sendiri dan menjauhkan plagiasi. Mereka akan malu sendiri apabila tulisan mereka copy paste dari tulisan orang lain. Siswa diajarkan kreatif dalam menulis karya tulisnya sendiri.

Dari hasil pengamatan dan wawancara baik lisan maupun tulisan dengan siswa kelas 8 SMP Labschool Jakarta, belum banyak siswa yang terampil menulis dan mengelola blognya dengan baik.[4] Hal ini terlihat dari banyaknya blog yang dibuat dan dikelola oleh siswa, sangat miskin tulisan dan sedikit komentar. Blog yang dibuat sepi pengunjung dan belum terlihat ada tulisan siswa yang menarik hati pembaca untuk berkomentar di dalamnya. Siswa nampak sekali belum mampu mengelola blognya dengan baik. Mereka belum menggunakan blog sebagai media untuk berlatih menulis. Permasalahan nyata ini tentu harus dicarikan solusi melalui penelitian. Guru TIK juga perlu memberi contoh pengelolaan blog di internet, dan membuat link alamat antar url blog semua siswa kelas 8 SMP Labschool Jakarta. Masalah rendahnya keterampilan menulis siswa sangat jelas terlihat dari tulisan siswa di blog pribadinya. Guru perlu meningkatkannya dengan melakukan penelitian melalui blog.

Blog adalah alat rekam yang ajaib untuk mendokumentasikan tulisan-tulisan kita. Keajaibannya akan terasakan bila dikelola dengan sangat baik secara kolaboratif. Siswa diajari melakukannya secara berjamaah. Blog seperti buku diary yang mampu dijadikan tempat menulis secara online. Siapa saja bisa menulis di sana secara gratis dan berbayar. Mereka bisa berbagi ilmu pengetahuan dan kisah-kisah yang menginspirasi pembaca ke seluruh dunia. Siapa saja bisa dengan mudah membuat blog di internet asalkan memiliki email, terkoneksi ke internet dan akan lebih ramai pengunjung bila saling terhubung (link) dan sering di update. Namun, isi blog jauh lebih penting daripada pernak perniknya.

Blog sangat mudah dibuat secara gratis di internet, diantaranya di wordpress.com dan blogspot.com. Penulis sendiri telah merasakan nikmatnya menulis di kedua blog tersebut. Pembaca bisa membukanya di https://wijayalabs.wordpress.com  dan http://wijayalabs.blogspot.com.

Blog dapat digunakan sebagai salah satu alat atau media online untuk meningkatkan keterampilan menulis. Keterampilan menulis ini dapat diasah dari menulis setiap hari di blog. Siswa dapat berlatih menulis terus menerus dengan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh guru. Dari blog siswa belajar menulis dan berusaha keras untuk menulis tulisannya sendiri. Kejujuran dalam menulis bisa melatih siswa untuk tidak melakukan plagiasi atau melakukan copas tulisan orang lain. Mereka sudah harus diberitahukan bahwa budaya plagiasi sangat berbahaya bagi masyarakat akademik. Menulis di blog membuat siswa jujur menulis tulisannya sendiri dan lebih percaya diri ketika tulisannya ditanggapi dengan komentar yang saling menyemangati. Keterampilan menulis siswa semakin meningkat bila mereka mendapatkan apresiasi dan tulisan mereka dibukukan dalam rangka pengembangan kampanye Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dan literasi TIK.

Guru harus menjadi pemandu siswa agar mampu menulis di blog dan mengelolanya dengan baik di internet. Tentu ini akan menjadi semakin baik bila ada kolaborasi antara guru TIK dan guru bahasa Indonesia di sekolah serta blogger guru lainnya sebagai kolaborator. Kolaborasi antar ketiganya diduga dapat meningkatkan keterampilan menulis siswa di sekolah sekaligus praktik nyata pembelajaran kolaborasi. Pembelajaran kolaborasi atau kolaboratif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang dipercaya banyak orang mampu meningkatkan keterampilan menulis siswa. Guru perlu membuktikannya melalui penelitian.

Pembelajaran kolaborasi dapat membantu para siswa membina pengetahuan yang lebih bermakna jika dibandingkan dengan pembelajaran secara individu. Inti pembelajaran kolaborasi atau kolaboratif adalah bahwa para siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang dipantau oleh guru. Antar anggota kelompok saling belajar dan membelajarkan untuk mencapai tujuan bersama. Keberhasilan kelompok adalah keberhasilan individu dan demikian pula sebaliknya.

Pembelajaran kolaboratif adalah suatu strategi pembelajaran di mana para siswa dengan variasi yang bertingkat bekerjasama dalam kelompok kecil kearah satu tujuan. Dalam kelompok ini para siswa saling membantu antara satu dengan yang lain. Jadi situasi belajar kolaboratif ada unsur ketergantungan yang positif untuk mencapai kesuksesan. Pendapat lain mendefinisikan pembelajaran kolaboratif sebagai filsafat pembelajaran yang memudahkan para siswa bekerjasama, saling membina, belajar dan berubah bersama, serta maju bersama pula.

Collaborative Learning atau pembelajaran kolaboratif dapat menjadi strategi pembelajaran dalam meningkatkan keterampilan menulis siswa. Ada bukti sangat kuat bahwa collaborative learning (pembelajaran kolaborasi) memberikan banyak keuntungan apabila dijalankan dengan baik. Tujuan pembelajaran kolaboratif adalah untuk membangun pribadi yang otonom, pandai mengartikulasikan pikiran, dan mampu berpikir kritis-rasional. Hal ini sangat penting dikuasai oleh siswa di sekolah.

Berdasarkan hal-hal uraian di atas, guru dapat memanfaatkan dan mengelola blog di internet sebagai salah satu media berkolaborasi untuk meningkatkan keterampilan menulis siswa. Sifat blog yang sangat terbuka dan bisa saling melihat di internet membuat blog sangat cocok dikelola secara kolaboratif. Oleh karena itu, pengelolaan blog di internet secara kolaboratif diduga dapat meningkatkan keterampilan menulis siswa. Guru dapat saling berkolaborasi dan mengajari siswa menulis yang baik dari mulai pembukaan, isi tulisan sampai penutup. Guru juga dapat membantu siswa untuk membuat tulisan-tulisan yang menarik dari apa yang disukai dan dikuasai siswa. Blog dapat digunakan sebagai salah satu tempat atau media untuk menuliskannya dan dibaca banyak orang di seluruh dunia. Kolaborasi antar guru TIK dan Bahasa Indonesia menjadi sangat penting dalam proses pembelajaran koaboratif dan diperlukan disain sistem pembelajaran kolaboratif yang saling melengkapi. Hal ini akan dapat diwujudkan melalui penelitian action research atau penelitian tindakan yang peneliti pilih sebagai metode penelitiannya.

[1]Zuleha H.M. Saleh, Terampil Menulis di Sekolah Dasar (Tangerang: Pustaka Mandiri, 2013), h. 4

[2]Dalman. H, Keterampilan Menulis (Jakarta: Rajawali Press, 2016), h.3

[3]Zuleha H.M. Saleh, Terampil Menulis di Sekolah Dasar (Tangerang: Pustaka Mandiri, 2013), h.31

[4]Data blog siswa kelas 8 SMP Labschool Jakarta