Tag Archives: sekolah

Membangun Ekosistem Sekolah Berbasis TIK

https://wijayalabs.com/2018/12/14/membangun-ekosistem-sekolah-berbasis-tik/

guru-bloger-hijau

Bagaimana mengembangkan ekosistem sekolah berbasis TIK?

Bagaimana mengembangkan ekosistem sekolah berbasis tik?

ekosistem

Pertanyaan di atas muncul ketika saya dkk diminta untuk melaksanakan kegiatan workshop pengembangan ekosistem sekolah berbasis tik.

Baca lebih lanjut

Merajut Asa di Sekolah

Merajut Asa Dakwah Di Sekolah
Oleh :Siti Romdiyah

surakarta

Menjadi Guru adalah cita-citaku. Walau awalnya tiada restu dari orang tuaku.
Karena berpendidikan formal tingkat SMA dan lulus Madrasah di Ma’had, itu sudah menjadi status tertinggi menurut orang-orang di sekelilingku termasuk keluargaku.

Aku memaklumi semua itu. Karena memang di keluargaku tidak ada satupun yang berstatus sebagai guru. Terutama guru yang berstatus PNS.

Hanya aku saja yang teguh pendirian untuk sekolah lagi dan bercita-cita menjadi seorang guru. Banyak hambatan dan tantangan dalam perjalananku menjadi seorang guru. Mulai cibiran dari keluarga ayah dan ibuku, hingga biaya kuliahku. Hambatan dan tantangan itu justru menjadi motivasi terindah bagiku.

Walau harus kuliah sambil bekerja di rentalan komputer atau kuliah sambil menerima les privat. Semua aku jalani dengan penuh semangat, hingga gelar sarjana aku dapatkan.

Bayangan untuk menjadi guru, tetap tertambat di hatiku. Lagi-lagi hambatan datang menghadang. Statusku sebagai asisten dosen di sebuah perguruan tinggi harus aku lepaskan demi pernikahan.

Sudah menjadi adat di keluargaku, seorang wanita yang sudah menikah seyogyanya berada di rumah, mengurus rumah dan keperluan lainnya.

Betul-betul masa depan menjadi guru sudah hal yang tidak mungkin lagi aku raih. Meskipun statusku adalah sarjana fakultas tarbiyah.

Saat aku pindah ikut suami, disitulah baru aku tahu bahwa kesempatanku menjadi guru masih terbuka lebar. Karena mertua dan suamiku memiliki yayasan pendidikan. Mulai dari TK, MI dan Pondok pesantren putra maupun putri.

Tanpa aku sangka, saat itu salah satu guru di MI sedang purna. Dan guru kelas di lembaga itu kurang. Mengetahui aku seorang sarjana dan punya pengalaman mengajar juga, tanpa basa-basi dan berdasarkan kesepakatan pengurus yayasan aku diminta sebagai guru di sana.

Bagaikan kejatuhan bulan, tawaran itu aku terima dengan senang hati.
Suka duka sebagai guru tidak tetap pada lembaga swasta aku jalani penuh semangat dan keikhlasan. Walau gajiku tidak seberapa namun bisa mentransfer ilmu dan pengalaman, itu sungguh membahagiakanku.

Pagi, siang, sore hingga malam hari anak-anak dari MI adalah prioritas keduaku. Tidak jarang mereka juga tidur di rumahku demi bisa belajar bersamaku. Kebersamaan yang saat ini sulit sekali aku dapatkan.

Target bisa meraih nilai UN tertinggi se Kecamatan disetiap tahunnya, dan bisa mewakili diajang aksioma pada tingkat provinsi Alhamdulillaah selalu terwujud.

Peribahasa ada gula ada semut, aku rasakan saat itu. Yang awalnya jumlah siswa di MI tersebut selalu di bawah 85. Lambat laun selalu bertambah hingga 150 siswa. Bahagia hatiku saat itu tiada tara.

Namun, Allah berkehendak lain. Di tahun 2003 ada rekrutmen guru honorer dan PNS. Akupun didaftarkan oleh suami didua jalur bersama dengannya. Dan Alhamdulillaah suami diterima menjadi PNS sedang aku di jalur honorer, hingga membawaku menjadi PNS.

Mau tidak mau aku harus meninggalkan tempat berdakwahku. Sedih rasanya harus berpisah dengan keluarga besar MI ku. Namun aku harus tetap maju demi keluarga dan masa depanku. Motivasi dari suami sebagai modal utamaku.

Akupun melangkah untuk berdakwah di sekolah yang jaraknya sekitar 17 km dari rumahku. Namun tetap berdakwah di YPI “Darul ‘Ulum” melalui program tambahan pelajaran pada sore hari hingga sekarang tetap menjadi prioritasku.

Kebahagiaan tersendiri bagiku, tatkala para alumni disetiap tahunnya berkunjung ke rumahku. Melihat mereka berkembang iman, ilmu dan amalnya membuat diriku bangga.

Benar kata bijak yang aku dengar, “bangganya seorang guru bukan karena gajinya. Tapi bangganya seorang guru karena keberhasilan muridnya.”

Dan ada satu lagi yang membanggakanku, saat ini status guru dan gelar sarjana telah merambah serta berkembang di lingkungan keluargaku. Subhaanallaah menjadi pioner dalam dunia keguruan sungguh membanggakanku.

Semoga Allah selalu meridhoi langkah dakwahku di sekolah untuk meraih mardhotillah. Aamiin

Blitar, 1 Agustus 2018

MENGOPTIMALKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA DI SEKOLAH DENGAN JUMLAH SISWA SEDIKIT

ARTIKEL ILMIAH

Artikel Ilmiah SD (1)

Sunarto, M. Pd

SDN GEDONGOMBO II PLOSO JOMBANG JAWA TIMUR

PENDAHULUAN

       Sekolah sebagai institusi pendidikan menjadi bagian utama dalam melaksanakan peran meningkatkan mutu pendidikan. Masalah mutu pendidikan merupakan salah satu isu sentral dalam pendidikan nasional, terutama berkaitan rendahnya mutu pendidikan setiap jenjang dan satuan pendidikan, terutama jenjang pendidikan dasar dan menengah. Jika menyebutkan jenjang pendidikan dasar, termasuk di dalamnya Sekolah Dasar.

      Baca lebih lanjut

Pemanfaatan TIK di Sekolah

Mendikbud Hapus Ujian Nasional

mendikbud

Jakarta – Mendikbud Muhadjir Effendy memutuskan untuk menghapus Ujian Nasional (UN). Keputusan ini tinggal menunggu Instruksi Presiden (Inpres).

“Dimoratorium, di tahun 2017 ditiadakan,” kata Muhadjir saat dihubungi, Jumat (25/11/2016).

Ujian akhir bagi siswa sekolah didesentralisasi. Pelaksanaan ujian akhir bagi siswa SMA-SMK dan sederajatnya diserahkan ke pemerintah provinsi. Untuk level SMP dan SD sederajatnya diserahkan ke pemerintah kabupaten/kota.

“Pelaksanaannya tetap standard nasional. Badan Standardisasi Nasional akan mengawal, mengontrol, mengendalikan prosesnya. Jadi tidak ada lagi itu supply-supply soal ke daerah dikawal polisi,” ujar mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini.

Kelulusan siswa akan ditentukan oleh pihak sekolah. Hasil ujian akhir jadi salah satu pertimbangan, bukan jadi satu-satunya faktor penentu kelulusan. Presiden, kata Muhadjir, sudah setuju.

“Saya sudah dipanggil Pak Presiden, sebelum jumatan tadi saya dipanggil. Prinsipnya beliau sudah menyetujui, tinggal menunggu inpres,” tutur Muhadjir.

Muhadjir mengatakan UN akan kembali digelar jika level pendidikan di Indonesia sudah merata. Sembari memoratorium UN, Kemendikbud akan mengupayakan peningkatan kualitas pendidikan agar merata se-Indonesia.

“Ujian Nasional tetap akan saya lakukan sesuai dengan amanah Mahkamah Agung kalau semua pendidikan di Indonesia sudah bagus. Makanya nanti akan pemetaan saja. Nanti kita lihat apakah perbaikan di 2017 cukup signifikan,” ujar Muhadjir.

Lalu bagaimana dengan tahun 2018, apakah akan ada UN?

“Hampir pasti belum ada. Itu kan tidak bisa setahun dua tahun (peningkatan kualitas sekolah secara merata),” ujar Muhadjir.

“Sekolah-sekolah kita yang di atas standar nasional sekarang hanya 30 persen, itu yang harus kita treatment,” imbuhnya.
(tor/fjp)

Wahai Guru Datanglah Lebih Pagi Dari Muridmu!

1070084_686259724734622_784135770_nWahai guru datanglah lebih pagi dari muridmu! Pastikan engkau sudah berada di depan pintu gerbang sekolah menyambut murid-muridmu. Berikan senyum terbaikmu, dan jabat erat tangan murid-muridmu. Dengan begitu, mereka akan semakin bersemangat belajar di rumah keduanya.

Tataplah wajah mereka satu persatu, dan beri mereka penguatan dengan menyapanya. “Selamat pagi anak-anak”.

Betapa indahnya suasana pagi bila seperti itu. Guru menyambut kedatangan muridnya dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan. Tak ada wajah penderitaan di sana. Tak ada wajah-wajah kesedihan ketiba tiba di sekolah. Guru harus pandai membahagiakan murid-muridnya. Mereka pun akan berkata, “Sekolahku adalah surga dunia bagiku!”

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com