Penggunaan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia

Judul PTK : Penggunaan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia

 

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah           

 

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi informasi dan komputer (ICT) telah berkembang dengan pesat dalam semua aspek kehidupan kita. Tidak terkecuali terhadap MAN Sidoarjo. Pembelajaran yang menggunakan media berbasis komputer (ICT) merupakan terobosan yang baru di MAN Sidoarjo yaitu dimulai tahun 2004 yang lalu. Pembelajaran dilakukan dengan menggunakan seperangkat komputer atau laptop, LCD, dan perangkat audio. Arah inovasi ini adalah agar pembelajaran menjadi lebih menarik dan efektif.

 

Dalam implementasinya, inovasi ini memang diterima dengan serta-merta sebagai keniscayaan perubahan. Namun demikian, tidak semua guru dapat mengadopsi inovasi ini. Masih banyak di antara guru, khususnya guru senior kurang akrab dengan komputer. Para guru tersebut tetap menggunakan pendekatan konvensional atau telah menggunakan pendekatan pembelajaran yang baru tanpa menggunakan media presentasi pembelajaran berbasis ICT. Sementara itu beberapa guru yunior memang mau menerima inovasi tersebut dan menerapkannya dalam pembelajaran, meskipun media presentasi pembelajarannya bukan hasil karya sendiri melainkan membeli paket-paket yang sudah terjual bebas.


            Demikian pula dengan pembelajaran bahasa Indonesia. Agar pembelajaran menjadi lebih menarik dan berhasil, beberapa guru menggunakan media presentasi pembelajaran dengan cara membeli dan menggunakannya secara langsung. Misalnya media pembelajaran pembacaan puisi, drama, atau film.


            Dalam silabus Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 terdapat beberapa topik pembahasan pembelajaran menggunakan wacana rekaman televisi, Namun demikian penggunaan media pembelajaran yang berhubungan dengan topik ini mengalami kendala. Kendalanya antara lain :

 

a.       Media pembelajaran yang berasal dari televisi khususnya berita belum pernah ada, dan belum pernah dibuat apalagi dijual bebas; padahal topik tersebut beberapa kali muncul dalam silabus KTSP 2006 bahasa Indonesia SMA / MA.

b.      Pembuatan media pembelajaran ini membutuhkan kemampuan yang kompleks dan relatif tinggi, khususnya bidang software & hardware komputer, yaitu desain grafis, pembuatan animasi, editing gambar dan suara.

c.       Pembuatan media pembelajaran harus memiliki langkah-langkah dan prosedur tertentu sehingga cukup layak dianggap sebagai media pembelajaran.

d.      Bila disampaikan hanya dengan metode pemberian tugas, siswa dan guru kesulitan menemukan stasiun televisi mana yang akan menyampaikan topik tertentu, pada hari apa dan jam berapa, karena banyak stasiun televisi.

e.       Siswa sering tidak melaporkan tugas tersebut. Guru juga seringkali terlewatkan acara televisi tersebut. Pembahasan menjadi tidak efektif karena melebar dan seringkali antara guru dan siswa tidak memiliki referensi yang sama akibat selanjutnya memiliki pemahaman yang berbeda.

f.       Penyampaian dengan metode ceramah, pembelajaran menjadi ’teacher centered’ siswa hanya medengarkan saja dan berakibat tidak menarik perhatian siswa dan membosankan.

g.      Saat evaluasi performansi siswa, topik menjadi melebar karena pemahaman atas referensi yang berbeda. (Hasil observasi dan wawancara dengan siswa kelas X-1 dan wawancara dengan guru bahasa Indonesia.)


            Pada 8-14 November 2006 lalu, MAN Sidoarjo yang diwakili oleh peneliti sendiri telah memenangi Medali Perak (Silver Prize) untuk kategori Lomba Pembuatan Media Presentasi Pembelajaran (MPP) yang diselenggarakan oleh Dirjen Pendidikan Menengah Umum Departemen Pendidikan Nasional bersama Departemen Agama.


            Berbekal pengalaman pembuatan media pembelajaran itulah, peneliti merasa sangat perlu membuat media pembelajaran untuk mata pelajaran bahasa Indonesia, khususnya topik rekaman televisi ini. Lebih lanjut, bila media pembelajaran ini dianggap memiliki kelayakan dapat disebarkan pada para guru bahasa Indonesia lain yang membutuhkannya. Demikian langka dan urgennya bagi pembelajaran, maka media pembelajaran ini segara harus dibuat.


            Akhirnya, peneliti membuat Media Presentasi Pembelajaran “Sidoarjo Menangis“ (untuk selanjutnya istilah ini disingkat MPP “SM“). MPP “SM“ ini memuat rekaman berita televisi yang berhubungan dengan bencana yang berada di konteks sosial peneliti, yaitu bencana lumpur panas Lapindo Brantas. Sengaja peneliti mengambil objek ini karena bencana ini telah menjadi wacana nasional yang diperkirakan akan berlangsung hingga 30 tahunan ke depan.


            Problematikanya, apakah Media Presentasi Pembelajaran (MPP) “Sidoarjo Menangis“ ini apakah dapat diterima oleh para siswa dan guru, dapatkah meningkatkan perhatian dan minat mereka dalam belajar, serta mampukah meningkatkan prestasi pembelajarannya.

 

            Berdasarkan uraian di atas dirumuskan judul penelitian :“Penggunaan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Menyimak Siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo“.

1.2 Perumusan Masalah

 

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan sbb :

 

a.       Apakah Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ memiliki kelayakan sebagai media pembelajaran bagi siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo?

b.      Apakah penggunaan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat memotivasi belajar siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo?

c.       Apakah penggunaan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo?

 

1.3 Tujuan Penelitian

 

Sejalan dengan rumusan masalah penelitian di atas, tujuan penelitian ini adalah :

 

a.       Untuk menerapkan Media Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dalam usaha untuk menilai kelayakannya sebagai media pembelajaran bagi siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.

b.      Untuk menerapkan Media Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dalam usaha untuk memotivasi siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.

c.       Untuk menerapkan Media Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dalam usaha untuk dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.

 


1.4. Signifikansi Penelitian

 

Penelitian ini diharapkan memiliki manfaat :

 

a. Bagi guru
   
(1) Untuk dapat mengembangkan profesionalisme guru dalam penerapan strategi

          pembelajaran yang efektif khususnya dalam pokok bahasan menyimak berita     

          televisi
    (2) Sebagai latihan praktik langsung melakukan penelitian tindakan kelas.
    (3) Sebagai sarana untuk menghasilkan karya tulis ilmiah.

 

b. Bagi Siswa

     (1) Untuk meningkatkan perhatian, aktivitas, dan prestasi pembelajaran

     (2) Agar pembelajaran menarik, menyenangkan, dan mudah dipahami

 

c. Bagi Pendidikan dan Pembelajaran
   
Untuk dapat menyempurnakan strategi pembelajaran sehingga semakin efektif  

    penerapannya.

 


1.5 Hipotesis Tindakan

 

Berdasarkan semua uraian di atas dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut :


1. Melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran

    Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“, siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri  

    Sidoarjo menilainya layak sebagai media pembelajaran.


2. Melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran

    Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat memotivasi siswa kelas X Madrasah

    Aliyah Negeri Sidoarjo.


3. Melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran

    Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat meningkatkan hasil belajar menyimak  

    siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

 

2.1 Media Pembelajaran

 

            Belajar adalah suatu proses yang kompleks pada semua orang dan terjadi seumur hidup yaitu sejak masih bayi hingga mati. Tanda-tanda terjadinya pembelajaran bagi seseorang adalah terjadinya perubahan tingkah laku dari tidak tahu menjadi lebih tahu, dan dari tidak bisa menjadi bisa baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor.


            Sejalan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan masyarakat masyarakat serta budaya berkembang pula tugas dan peranan guru sejalan dengan jumlah anak yang memerlukan pendidikan. Mau tidak mau harus diakui guru bukanlah satu-satunya sumber belajar melainkan hanya salah satunya. Siswa, petugas perpustakaan, kepala sekolah, tutor, tokoh masyarakat, atau orang-orang yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan tertentu di masyarakat juga dapat dijadikan sumber belajar.

 

            Menurut Arief S. Sadiman (2006) sumber belajar dapat digolongkan dalam beberapa jenis, yaitu :
a.  jenis orang (people)

b.  pesan atau informasi (message),
c.  jenis bahan (materials), ke dalam jenis ini sering disebut perangkat lunas (software)  

    yang di dalamnya terkandung pesan-pesan yang perlu disajikan
    dengan alat bantu atau tanpa alat bantu, misalnya : modul, majalah, OHP,
    compact disk (CD) program atau data.
d. Alat (device) atau hardware yang menyajikan pesan, misalnya :projector film, video,  

    TV, Komputer, dan lain-lain.

e. Teknik adalah prosedur rutin atau acuan untuk menggunakan alat, bahan, atau orang

    dan lingkungan untuk menyajikan pesan, misalnya teknik demonstrasi, kuliah,  

     ceramah, tanya-jawab, dan sejenisnya.
f. Lingkungan (setting), yaitu tempat yang memungkinkan siswa belajar. Misalnya :

    gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium, museum, taman, kebun binatang, rumah  

    sakit, pabrik, dan sejenisnya.

 

Sementara itu media teknologi mutakhir, terdiri dari :
a. Media berbasis telekomunikasi, misalnya : teleconfrence, kuliah jarak jauh, dsb.
b. Media berbasis mikroprosesor, misalnya : game komputer, hypermedia, CD / DVD,  

    Computer Assisted Instructional, hypertxet, dsb.

 

            Adapun menurut Gagne, media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa belajar. Sementara itu Briggs menyatakan bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Pada mulanya media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar guru (teaching aids) Alat bantu yang dipakai adalat alat bantu visual, misalnya gambar, model, objek, dan alat-alat lain yang tujuannya dapat memberikan pengalaman konkret, meningkatkan motivasi belajar, mempertinggi daya serap, dan retensi belajar siswa.

 

Dalam proses pembelajaran, kegunaan media pembelajaran adalah :


1.  Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk

     kata-kata tertulis atau lisan belaka)


2.  Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera, misalnya :
     a.  objek yang terlalu besar – bisa digantikan dengan realitas, gambar, film, atau

          model;
     b.  objek yang kecil – dibantu dengan proyektor mikro, film atau gambar;
     c.  gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat, dapat dibantu dengan timelapse atau  

          highspeed photography.
     d.  Kejadian atau peristiwa yang terjadi di masa lalu bisa ditampilkan lagi lewat

    rekaman film, video, foto, maupun secara verbal;
e.  Objek-objek yang terlalu kompleks (misalnya mesin) dapat disajikan dalam model,  

     diagram, dan lain-lain;
f.  Konsep yang terlalu luas (gunung berapi, gempa bumi, iklim, dan lain-lain) dapat

    divisualisasikan dalam bentuk film, gambar, dan sebagainya.


3.  Penggunaan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif  

     anak didik. Dalam hal ini media pembelajaran berguna untuk :
     a. menimbulkan kegairahan belajar;
     b. memungkinkan interaksi lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan

         dengan kenyataan;
     c. memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan

         minatnya.

 

4.   Sifat unik tiap siswa, lingkungan dan pengalaman yang berbeda, kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa, maka guru akan kesulitan bila harus diatasi sendiri. Lebih sulit lagi bila latar belakang lingkungan guru dan siswa juga berbeda. Masalah ini dapat diatasi dengan media pendidikan, yaitu kemampuannya dalam :

      a. memberikan perangsang yang sama;
      b. mempersamakan pengalaman;
      c. menimbulkan persepsi yang sama.

2.2 Media Presentasi Pembelajaran

 

            Perkembangan teknologi komputer dan informasi (ICT) juga semakin mengembangkan bentuk dan variasi media pembelajaran. Menurut Thomson (Elida dan Nugroho, 2003) komputer yang digunakan dalam pembelajaran dapat memberikan manfaat, yakni saat digunakan komputer meningkatkan motivasi pembelajaran. Para siswa akan menikmati kerja komputer ini dan komputer memberikan tantangan di samping komputer menampilkan perpaduan antarteks, gambar, animasi gerak, dan suara secara bersamaan maupun bergantian.


            Sementara ini Bower dan Hilgard berpendapat bahwa komputer bermanfaat besar dibandingkan dengan teknologi pendidikan lainnya karena mampu memberikan presentasi materi yang sangat fleksibel bagi pembelajar dan dapat mengikuti kemajuan sejumlah pembelajar dalam waktu yang sama.

 

Selanjutnya, menurut Woolfolk ada 9 keuntungan menggunakan komputer dalam pembelajaran, yaitu :
a. siswa dapat menyesuaikan dengan kecepatan belajarnya,
b. dapat melatih dengan sabar,
c. dapat dipakai untuk belajar sendiri,
d. dapat disajikan berbagai macam penginderaan,
e. dapat melakukan simulasi,
f. dapat dikembangkan pemecahan masalah,
g. dapat memberikan pujian untuk memperkuat perilaku,
h. dapat membantu manajemen kelas dan sekolah

 

Menurut Luther (Sutopo, 2003:32) ada 6 tahap dalam pengembangan media pembelajaran berbasis komputer, yaitu:

 

a.       Tahap pertama konsep (concept), yaitu mengidentifikasikan tujuan, kebutuhan belajar, atau hal-hal lain yang perlu diungkapkan.

b.      Tahap kedua analisis karakteristik siswa, yaitu disesuaikan dengan minat, bakat, dan kemampuan siswa.

c.       Tahap ketiga merencanakan dan menyusun software. Dalam hal ini ada 3 ketrampilan yang harus dimiliki pengembang sofware yaitu menguasai bidang studi materi yang akan dibahas, menguasai prosedur pengembangan media, dan menguasai program komputer.

d.      Tahap keempat desain (design), yaitu yaitu tahap merancang produk secara rinci agar memudahkan tahap-tahap pembuatan produk selanjutnya.

e.       Tahap kelima pengumpulan bahan (material collecting), yaitu mengoleksi bahan-bahan pendukung untuk memperkaya isi produk media tersebut,

f.       Tahap keenam pembuatan (assembly), yaitu menyusun naskah materi pada setiap frame sehingga menjadi sebuah produk media yang sudah jadi.

g.      Tahap ketujuh uji coba (testing), yaitu melakukan uji coba produk yang akan digunakan secara luas karena itu perlu validasi kelayakannya. Ada dua kriteria dalam ujicoba produk media pembelajaran, yaitu :
(1) kriteria pembelajaran, yang mencakup apakah sesuai dengan kurikulum, tujuan

            pembelajaran, sesuai dengan materinya, dan sebagainya. Jika tidak perlu

            dilakukan revisi.
      (2) Kriteria presentasi, yaitu apakah validasi terkait dengan tampilannya di layar,  

            kelancaran navigasi, kemudahan penggunaan, dan interaksi / komunikabilitas.

h.  Tahap distribusi (distribution), yaitu tahap menyebarluaskan produk pembelajaran dan  

     menjelaskan tujuan produk media pembelajaran tersebut.

2.3 Motivasi Belajar

 

Menurut Oemar Hamalik (2001, 27-28), belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku melalui interaksi dengan lingkungannya. Dalam kegiatan belajar mengajar, motivasi dapat dikatakan sebagai daya penggerak di dalam diri seorang siswa untuk menimbulkan kegiatan belajar dan menjamin kelangsungan kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subyek belajar itu dapat tercapai.     

 

Macam-macam motivasi

           
a. Motivasi Intrinsik 
           
Motivasi intrinsik adalah dorongan dalam diri seseorang yang berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu (Sardiman, 1988). Dilihat dari segi tujuan kegiatan belajar, motivasi intrinsik adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung dalam kegiatan belajar itu sendiri.


b. Motivasi Ekstrinsik          
           
Motivasi ekstrinsik adalah dorongan yang aktif dan berfungsi karena adanya rangsangan dari luar. Motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar tetap penting sebab kemungkinan besar keadaan siswa itu dinamis dan juga mungkin komponen lain dalam proses belajar mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa, sehingga diperlukan motivasi ekstrinsik.

           
            Prayitno (1989) menyatakan bahwa betapapun baiknya potensi anak yang meliputi kemampuan intelektual atau materi yang akan diajarkan dan lengkapnya sarana belajar, namun bila siswa tidak termotivasi dalam belajar, maka belajar tidak akan berlangsung secara optimal. Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Motivasi sangat berhubungan erat dengan bagaimana seseorang melakukan kegiatan atau pekerjaan. Dengan demikian, makin banyak dan tepat motivasi belajar yang didapat siswa, maka aktivitas belajar yang dilakukan oleh siswa akan semakin tinggi sehingga pembelajaran siswa menjadi semakin berhasil.          


            Dengan adanya motivasi yang baik dalam belajar, maka akan menunjukkan hasil yang baik. Dengan kata lain bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan didasari adanya motivasi tinggi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang baik.

2.4 Pembelajaran Menyimak          


            Secara garus besar ketrampilan berbahasa manusia dapat digolongkan menjadi 4 macam, yaitu : menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Berdasarkan penelitian Donald E. Bird aktivitas hidup manusia didominasi aktivitas menyimak (42%), sementara aktivitas berbicara (25%), aktivitas membaca (15%), aktivitas (18%). Realitas tersebut hampir sama keadaanya dengan di Indonesia (Tarigan, 1990:48). Karena itulah, kurikulum 2004 dan 2006 menitikberatkan pembelajaran bahasa, khususnya bahasa Indonesia pada empat ketrampilan berbahasa tersebut.  

 

Menurut Henry Guntur Tarigan, ada beberapa teknik pembelajaran menyimak, yaitu :

(a) dengar-ulang ucap,

(b) dengar tulis (dikte),

(c) dengar kerjakan,

(d) dengar terka,

(e) memperluas kalimat,

(f) menemukan benda,

(g) seseorang bilang,

(h) bisik berantai,

(i) menyelesaikan cerita,

(j) identifikasi kata kunci,

(k) identifikasi kalimat topik,

(l) menyingkat / merangkum, (

m) parafrase, dan

(n) menjawab pertanyaan.      

 

Dalam menyimak, ada empat ketrampilan khusus yang dituntut, yaitu         :
a. penyimak harus melibatkan diri secara total.         
b. penyimak harus menguasai seni mencatat dengan tepat    
c. penyimak harus mencari dan menganalisis sarana penunjang        
d. penyimak harus mencari pola organisasi dan struktur keseluruhan

    (Tarigan, 1994 : 87-89).     

 

 


BAB III METODOLOGI PENELITIAN 

3.1 Pendekatan Penelitian   

 

            Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pelaksanaan penelitian ini mengikuti suatu daur (siklus) yang di dalamnya terdapat kegiatan merencanakan tindakan, melaksanakan tindakan, melakukan pengamatan, dan melaksanakan refleksi pada seluruh tindakan sebelumnya.

           
            Pendekatan yang ditempuh dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yang diterapkan dalam metode PTK. Penelitian ini dilakukan sendiri oleh peneliti. Dalam pelaksanaannya peneliti bertugas mengobservasi, mencatat, dan merekam segala aktivitas dan siswa dalam proses pembelajaran.           

3.2. Lokasi Penelitian           

 

            Lokasi penelitian ini di MAN Sidoarjo dengan alamat Jl. Jenggolo (Belakang Stadion) No. 2 Sidoarjo. Waktu penelitian telah dilakukan sejak 14 – 26 Mei 2007. Pengambilan data dilakukan selama 2 siklus pembelajaran, setiap siklus terdiri atas sekali tatap muka. Untuk validasi instrumen penelitian diperlukan sekali tatap muka pada kelas X-1.

3.3. Subjek Penelitian dan Pembatasan Penelitian           

 

            Subjek penelitian ini adalah siswa MAN Sidoarjo kelas X. Jumlah kelas X ada 10 kelas. Setiap kelas terdiri atas 45-47 siswa. Komposisi kecerdasan siswa tiap kelas relatif sama, karena belum dibedakan berdasarkan prestasi mereka. Karena itu peneliti mengambilnya secara acak dari kelas X, yaitu hanya kelas X-2, dan X-4.        

3.4. Prosedur Penelitian       

 

Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus dan setiap siklus memiliki 4 tahap, yaitu :

(1). Perencanaan tindakan (planning);

(2). Pelaksanaan Tindakan (action);

(3). Observasi (observation); dan

(4). Refleksi (reflection).        

3.5. Instrumen Penelitian     

 

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah :  

 

1. Lembar Pengamatan untuk Siswa dan Guru   
           
Lembar pengamatan ini digunakan untuk mengamati siswa dalam proses pembelajaran hingga evaluasi. Aspek-aspek yang dinilai adalah aktivitas keterlibatan siswa hingga evaluasi.


2. Tes Tanggapan Siswa Terhadap Media
           
Tes tanggapan siswa terhadap media pembelajaran ini digunakan untuk meneliti seberapa tinggi kelayakan MPP “SM“ sebagai media pembelajaran. Dalam hal ini digunakan skala Likert.


3. Tes Motivasi Siswa           
           
Tes motivasi siswa ini digunakan untuk meneliti siswa terkait dengan motivasi dan perhatian siswa terhapap proses pembelajaran. Dalam hal ini pun digunakan skala Likert.


4. Tes Kemampuan Menyimak       
           
Untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyimak, siswa diberikan evaluasi terhadap kemampuan mereka dalam menulis ide-ide pokok dari wacana berita televisi yang telah disimak.          

3.6. Teknik Analisis Data    


Analisis data dilakukan meliputi kegiatan klasifikasi data, penyajian data, dan penilaian keberhasilan tindakan. Kegiatan klasifikasi ini meliputi memilah-milah data yang telah dikelompokkan sesuai dengan jenis datanya.       


Data yang diperoleh dari pengamatan dan angket dilakukan analisis deskriptif melalui : 1) reduksi data, 2) pemaparan data, dan 3) penyimpulan. Reduksi data dilakukan dengan menyederhanakan dan konseptualisasi melalui seleksi, pemfokusan, dan abstraksi data mentah sehingga menjadi informasi yang bermakna. Paparan data dilakukan dengan penyajian data dalam bentuk paparan naratif maupun statistik. Adapun penyimpulan adalah proses mengambil intisari dalam bentuk pernyataan kalimat.


1. Analisis Kelayakan Media           
           
Evaluasi kelayakan media perlu dilakukan terhadap MPP “SM”. Hal ini karena media pembelajaran tersebut baru dibuat peneliti, karena itu perlu diujicobakan sekaligus diuji kelayakannya. Kriteria kelayakan MPP “SM” dinilai pada aspek : kesesuaiannya dengan kurikulum, tujuan pembelajaran, dengan materinya, tampilannya di layar, kelancaran navigasi, kemudahan penggunaan, dan interaksi komunikabilitas.          

 

Untuk mengetahui skor kelayakan media ini dilakukan dengan cara

 

a. mengangkakan (kuantifikasi) tanggapan siswa dengan cara :
• pilihan jawaban a (sangat setuju) dinilai skor 5
• pilihan jawaban b (setuju) dinilai skor 4
• pilihan jawaban c (tidak tahu / netral) dinilai skor 3
• pilihan jawaban d (tidak setuju) dinilai angka 2
• pilihan jawaban e (sangat tidak setuju) dinilai angka 1

 

b. menghitung tingkat kelayakan media pembelajaran

Tingkat kelayakan media pembelajaran dihitung dengan rumus berikut :
Rata-rata skor = Jumlah skor kelayakan / Jumlah siswa
Adapun kriteria tingkat kelayakan media ditentukan sebagai berikut :

Tingkat Kelayakan Media

Rata-rata

Skor

Sangat Tinggi

21 – 25

Tinggi

16 – 20

Sedang

11 – 15

Rendah

6 – 10

Sangat Rendah

0 – 5

 

2. Analisis Aspek Motivasi Siswa
Motivasi siswa diidentifikasikan pada saat berlangsungnya pembelajaran yang terdiri atas besarnya motivasi khususnya perhatian mereka dalam memperhatikan pembelajaran tanpa melalaikannya. Hal ini dapat dilihat dari tes tentang motivasi mereka.
Untuk mengetahui skor motivasi dan tingkat motivasi siswa dilakukan dengan cara:


a. mengangkakan (kuantifikasi) motivasi siswa dengan cara :
    pilihan jawaban a (sangat
§

setuju) dinilai skor 5
    • pilihan jawaban b (setuju) dinilai skor 4
    • pilihan jawaban c (tidak tahu / netral) dinilai skor 3
    • pilihan jawaban d (tidak setuju) dinilai angka 2
    • pilihan jawaban e (sangat tidak setuju) dinilai angka 1
b. menghitung tingkat motivasi siswa
    Tingkat motivasi siswa dihitung dengan rumus sebagai berikut :
    Rata-rata skor = Jumlah skor motivasi siswa/ Jumlah siswa
    Adapun kriteria tingkat motivasi siswa ditentukan sebagai berikut :

Tingkat Motivasi Belajar Siswa Rata-rata / Skor
Sangat Tinggi 21 – 25
Tinggi 16 – 20
Sedang 11 – 15
Rendah 6 – 10
Sangat Rendah 0 – 5

3. Analisis Hasil Tes Kemampuan Menyimak
Hasil kemampuan menyimak siswa diidentifikasikan pada saat akhir proses pembelajaran yaitu saat evaluasi pembelajaran. Dalam hal ini dilakukan tes performansi, yaitu praktik menuliskan ide-ide pokok dari wacana rekaman berita televisi. Adapun unsur-unsur yang dinilai adalah : (a) sistematika ide pokok, (b) kelengkapan ide pokok, (c) kerapian penulisan, (d) tidak ada ide lain yang menyimpang, dan (5) banyaknya karangan.
Skor maksimal per siswa adalah 100. Adapun penetuan skornya digunakan kriteria sebagai berikut.

SKOR | Taraf Kemampuan Ketentuan
81 – 100 Sangat Baik 5 unsur terpenuhi
61 – 80 Baik 4 unsur terpenuhi
41 – 60 Cukup 3 unsur terpenuhi
21 – 40 Kurang Baik 2 unsur terpenuhi
0 – 20 Buruk 1 unsur terpenuhi

Hasil akhirnya akan dianalisis dan diinterpretasikan dengan membandingkan skor maupun perlakukan terhadap siklus 1 dan siklus 2 beserta latar belakang penyebabnya.

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA

 

4.1 Penyajian Data
Secara operasional penelitian telah dilaksanakan sebagai berikut:
• Observasi Awal ( 21 Mei 2007)
Observasi awal dilakukan peneliti pada kelas X-1, jam 1-2 . Peneliti melakukannya tanpa menggunakan media presentasi pembelajaran. Hal ini cukup dilakukan di dalam kelas.

 

Tindakan yang dilakukan peneliti adalah :
a. bertanya jawab bagaimanakah langkah-langkah yang dilakukan oleh guru bahasa   

    Indonesianya pada saat pembelajaran dengan wacana berita televisi
b. memberikan apersepsi tentang wacana berita televisi seputar bencana Lapindo Brantas,  

    dan
c. menugasi siswa menuliskan ide-ide pokok berita seputar bencana Lapindo Brantas  

dengan batasan topik :
• dampak bencana Lapindo Brantas,
• bagaimana kehidupan pengungsi, dan
• upaya penanggulangannya, serta
• dialog-dialog yang pernah dilihatnya di televisi.

d. mengumpulkan dan menilai hasil karangan siswa.

 

• Refleksi Awal

 

Hasil yang diperoleh dari observasi awal dan evaluasi terhadap objek kelas X-1 sebagai berikut:

 

1.      Menurut para siswa, karena tidak ada medianya guru sering menghindar saat membahas materi wacana yang berasal dari berita televisi. Sementara itu menurut guru yang bersangkutan, pembelajaran dilakukan dengan menugasi siswa menyimak wacana berita televisi dari rumah masing-masing, menuliskannya, dan melaporkannya di kelas.

 

2.      Pada saat ditugasi oleh peneliti untuk menuliskan ide-ide pokok wacana berita yang telah disimak dari televisi yang pernah didengar dan dilihatnya di rumah, terjadi kasus-kasus berikut :
a. beberapa siswa mengaku belum pernah melihat dari berita dari televisi,
b. beberapa siswa mengaku pernah melihat dari berita dari televisi namun kurang

    perduli
c. ada yang pernah melihat berita televisi tentang bencana Lapindo Brantas, namun  

    telah lupa ide-ide pokoknya,
d. beberapa siswa masih memikir-mikir dulu saat mau menulis. Kelihatan mereka

    bingung terhadap topik yang akan ditulisnya. Setelah beberapa menit kemudian  

    baru mereka menuliskannya.

 

3.      Hasil tulisan siswa menunjukkan :
a. topik yang dibahas melebar karena referensi yang berbeda
b. karangan siswa tidak sistematis ide-ide pokok yang diungkapkannya berbeda   

    antara setiap siswa
c. banyak di antaranya menulis bukan dari menyimak berita televisi terbukti tidak     

    mampu menyebutkan sumber televisi penyampai berita tersebut, melainkan dari  

    pengalamannya dari rata-rata para siswa tinggal relatif tidak jauh dari lokasi   

    bencana
d. topik yang dibahas terlalu banyak (4 topik) sehingga waktu tidak cukup. Banyak di

          antara siswa tidak mampu menyelesaikan topik yang keempat.

• Rencana Tindakan 1


1. Membuat media presentasi pembelajaran “Sidoarjo Menangis”, dan mengemasnya    

    dalam compact disk (CD)
2. Agar waktu yang disediakan cukup yaitu hanya 2 x 45 menit, maka diatur   

   waktunya sebagai berikut :
    a. pengantar : 5 menit
    b. penjelasan awal : 5 menit
    c. presentasi media pembelajaran : 45 menit
    d. siswa menuliskan ide-ide pokok berita : 30
    e penutup : 5 menit
3. Karena menggunakan media presentasi pembelajaran maka diselenggarakan di

    ruang multimedia (moving class).
4. Membuat lembar observasi untuk siswa dan guru
5. Membuat instrumen penelitian berupa angket untuk mengetahui tingkat motivasi  

siswa dan kelayakan MPP “SM”

• Pelaksanaan Tindakan 1 (Siklus 1)


Dalam siklus 1, tindakan yang dilakukan penelitian adalah :
1. Melakukan penelitian pada kelas X-4 (kebetulan saat itu jam 5-6 pengajarnya tidak    

    ada / kosong)
2. Para siswa diajak menuju ruang multimedia, berikut disuruh membawa alat tulis.
3. Peneliti memberikan pengantar dan penjelasan materi selama 10 menit.
4. Peneliti memutar dan menayangkan MPP “SM” pada layar selama 45 menit secara   

    terus-menerus.
5. Setelah selesai penayangan MPP “SM” tersebut, peneliti menugasi siswa selama   

    30 menit menuliskan ide-ide pokok dari wacana rekaman berita televisi dengan   

    urutan topik : dampak bencana, kehidupan pengungsi, dan upaya   

    penanggulangannya.
6. Peneliti mengumpulkan hasil tulisan siswa dan menutup pertemuan tersebut.

 

• Observasi 1

  1. Siswa antusias sekali saat menyimak tayangan media presentasi pembelajaran. Beberapa di antara siswi mengaku sedih bahkan ada yang menitikkan air mata, khususnya ketika tayangan intro disampaikan.
  2. Pada saat menyimak, ada beberapa siswa yang membuat catatan kecil terhadap materi yang ditayangkan. Peneliti membiarkan dan tidak melarangnya.
  3. Pada saat ditugasi menulis hasil simakannya, beberapa siswa menunjukkan kebingungannya karena harus mengingat-ingat apa yang telah disimak sebelumnya.
  4. Peneliti menemukan beberapa yang janggal dalam MPP “SM”, yaitu :
    a. Ada space kosong di tengah, perlu diberikan gambaran background layer
    b. Background mestinya sama, setelah tayangan video berita dan menuju tombol skip.
    c. Akan lebih indah bila huruf judul tertentu diberikan blow effect.
    d. Tidak ada file autorun 

• Refleksi 1

 

1.      Siswa terlihat antusias dan bahkan ada yang terbawa perasaannya saat melihat    tayangan MPP “SM” karena sesuai dengan konteks siswa dan menimbulkan kesan  mendalam pada pemahaman dan perasaan mereka.

2.      Pada saat menyimak, ada beberapa siswa yang membuat catatan kecil  menunjukkan siswa masih berusaha memerlukan bantuan ingatan saat akan  menuliskannya nanti.

3.     

Beberapa kejanggalan dalam media perlu disempurnakan.

 


• Rencana Tindakan 2


1. Diperlukan tayangan intro relatif lebih lama untuk membawa suasana hati siswa    

    kondusif terhadap situasi bencana yang memang menyedihkan.
2. Agar siswa tidak mengalami kesulitan mengingat apa yang telah disimaknya, peneliti   

    akan menayangkannya secara bertahap sebagai berikut:
    a. Tahap 1 :
        -  penyampaian topik dampak bencana selama 15 menit
        -  dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit
    b. Tahap 2 :
        -  penyampaian topik kehidupan pengungsi selama 15 menit
        -  dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit
    c. Tahap 3 :
        -  penyampaian topik upaya penanggulangan selama 15 menit
        -  dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit
3. Siswa akan disarankan membuat catatan kecil sebagai alat bantu mengingat siswa.

• Pelaksanaan Tindakan 2 (Siklus 2) (Kamis, 24 Mei 2007)

 

Dalam melakukan penelitian pada siklus 2 ini, peneliti melakukan hal-hal sebagai berikut.

 

1. Penelitian dilakukan pada kelas X-2 pada hari Kamis, 24 Mei 2007 Jam ke-5-6

    dengan minta ijin guru yang bersangkutan, dan para siswa diajak ke ruang  

    multimedia.
2. Peneliti memberikan pengantar materi.
3. Peneliti menayangkan media presentasi pembelajaran sesuai dengan tahap-tahap   

    yang direncanakan, yaitu :
     a. Tahap 1 :
                 - penyampaian topik dampak bencana selama 15 menit
                 - dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit
     b. Tahap 2 :
                 - penyampaian topik kehidupan pengungsi selama 15 menit
                 - dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit
     c. Tahap 3 :
                 - penyampaian topik upaya penanggulangan selama 15 menit
                 - dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit


4.  Peneliti mempersilakan para siswa membuat catatan kecil sebagai alat bantu  

            mengingat.
       5.  Peneliti mengumpulkan hasil pekerjaan siswa, dan menutup pertemuan tersebut.

• Observasi 2

 

  1. Siswa kelas X-2 juga sangat antusias dalam menyimak tayangan media presentasi pembelajaran “Sidoarjo Menangis”. Sebagaimana kelas X-4, para siswa kelas ini mengaku sedih sekali khususnya tayangan intro.
  2. Pada saat menyimak, siswa membuat catatan kecil terhadap materi yang ditayangkan sebagaimana peneliti telah perintahkan.
  3. Pada saat menuliskan ide-ide pokok rekaman berita, para siswa langsung menuliskannya tanpa berpikir panjang, mengacu catatan kecil yang dibuatnya.
  4. Waktu pelaksanaan hingga akhir molor 10 menit, menunggu seluruh tulisan siswa selesai.
  5. Peneliti masih menemukan beberapa yang janggal dalam media presentasi pembelajaran “Sidoarjo Menangis”, yaitu :
    a. ada beberapa file yang tidak gayut dan sebaiknya dihapus, yaitu :

                file master, file bank, dan file test.
            b. File flash player perlu dimasukkan cd

• Refleksi 2 (Akhir)

 

1.      Secara umum siswa tertarik dan antusias dalam menyimak MPP “SM”. Bahkan intro-nya mampu membawa penyimaknya dalam suasana sedih, khususnya para siswa wanita.

2.      Penyampaian materi secara bertahap dibantu siswa membuat cacatan kecil sangat membantu siswa dalam menyimak ide-ide pokok wacana berita televisi kemudian langsung menuliskannya.

3.     

Secara umum, siswa melihat desain media pembelajaran sudah sangat bagus dan mereka menyatakan layak sebagai media pembelajaran, meskipun menurut amatan penulis masih perlu disempurnakan.

 

4.2 Analisis Data

 

1. Data Aktivitas Guru dan Siswa

 

Data aktivitas guru diperoleh melalui observasi partisipan oleh peneliti sendiri sesuai instrumen 01. Adapun data aktivitas siswa diperoleh melalui observasi langsung yang dilakukan oleh peneliti sesuai instrumen 02.


Adapun data hasil observasi terhadap aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran sebagai berikut.

Tabel 4.1
Data Aktivitas Guru dalam Proses Pembelajaran

Aktivitas Siklus 1 Siklus 2 Frekuensi / % Frekuensi / %
a. Membuka pelajaran 1 x (1,54%) 1x (1,56%)
b. Memberikan apersepsi 1 x (1,54%) 1x (1,56%)
c. Memberikan petunjuk 1 x (1,54%) 1x (1,56%)
d. Memutar MPP “SM” 10 x (18,51%) 10x (15,62%)
e. Pause MPP “SM” 6 x (11,11%) 6x (9,37)%)
f. Menugasi siswa menyimak 10 x (18,51%) 10x (16,62%)
g. Menugasi siswa membuat catatan – 10x (16,62%)
h. Menugasi siswa menulis 6 x (11,11%) 6x (9,37)%)
i. Mengamati siswa 18 x (33,33%) 18x (28,12%)
j. Menutup pelajaran 1 x (1,54%) 1x (1,56%)

Tabel 4.2
Data Aktivitas Siswa dalam Proses Pembelajaran

Aktivitas Siklus 1 Siklus 2 % siswa % siswa
a. Memperhatikan penjelasan guru 45 (100%) 42 (100%)
b. Menyimak MPP “SM” 45 (100%) 42 (100%)
c. Membaca buku 0 0
d. Membuat catatan sendiri terkaitmateri menyimak 9 (20%) 40 (88%)
e. d. Menulis sesuai perintah guru 45 (100%) 42 (100%)
f. Bertanya jawab relevan sesuai dengan materi pelajaran 0 0
g. Menyampaikan ide / pendapat 0 0
h. Aktivitas tidak relevan dengan pembelajaran 2 (4%) pada 5 menit pertama 0

 

Data tabel 4.1 dan 4.2 di atas menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang mencolok yang telah dilaksanakan oleh guru dan siswa dalam pembelajaran siklus 1 dan siklus 2. Secara umum tindakan yang dilakukan oleh guru tidak ada hambatan. Demikian pula semua siswa (100%) terlibat sangat aktif dalam pembelajaran menyimak MPP “SM”.

 

Tidak ada aktivitas siswa yang tidak relevan dengan pembelajaran, misalnya bolos keluar, tidur, menggambar, menulis-nulis atau membaca materi pelajaran lainnya, mengobrol sendiri, dan sejenisnya. Hanya ada 2 siswa (4%) pada siklus 1 yaitu kelas X-4 yang terpaksa harus keluar kelas sebentar pada 5 menit pertama pembelajaran karena menuju kamar kecil.

 

Adapun perbedaannya, pada siklus 1 ada 9 siswa (20%) yang aktif membuat catatan kecil saat menyimak. Padahal guru tidak menganjurkannya apalagi memerintahnya. Guru pun tidak melarang aktivitas ini.


            Namun melihat efektifitasnya, maka pada siklus 2 guru mengajurkan siswa untuk membuat catatan kecil untuk membantu mengingat saat menyimak yang kemudian menuliskan ide-ide pokok dalam rekaman wacana berita televisi.
Akhirnya pada siklus 2 sejumlah 40 siswa (95,23%) membuat catatan kecil saat menyimak.

2. Data Hasil Tanggapan Kelayakan Media Pembelajaran


            Penelitian ini tidak bisa dilepaskan dari tes kelayakan media pembelajaran. Hal ini karena penelitian ini menggunakan media pembelajaran buatan peneliti sendiri yang belum pernah diujicobakan. Perlu diketahui kelayakan MPP “SM” ini. Dalam hal ini digunakan tes tanggapan yang menggunakan instrumen 03.


            Adapun data hasil tes tanggapan siswa terhadap kelayakan MPP “SM” sebagai media pembelajaran sebagai berikut.           

Tabel 4.3
Skor Hasil Tes Kelayakan MPP “SM”
Sebagai Media Pembelajaran
Siklus 1 (Kelas X-4)

No. Nama Siswa Skor No. Nama Siswa Skor
1 Achmad Nafi 19 26 M. Rachmanto 19
2 Adam Lukman F 21 27 M. Hardianto S 20
3 Aisyah Nurdeka 19 28 M. Irvan R 20
4 Alfiyah Nur K 20 29 M. Agung S 18
5 Aulia Alfi Ismi I 19 30 M. Azam Zur’ain 21
6 Ayu Rohmah P 18 31 Nashrulloh Ibadi 16
7 Chusnul Ch 19 32 Nita Apri Rosalina 19
8 Desi Dwi A 19 33 Nur Afifah 17
9 Dimas Dwi A 20 34 Nur Mayasari 17
10 Eka Retno O 20 35 Olvy Trismayuni 17
11 Fajar Adi P 16 36 Rani Rahmawati 17
12 Fitri Muttafaqoh 21 37 Ria Rilla R ===
13 Henik Nur A 20 38 Rina Puspita Ningsih 20
14 Hindriyani R 17 39 Risca Faiqotin 19
15 Ike Oktavianis 24 40 Rizky Amelia 20
16 Istikhomah 14 41 Rusvita Efendi 19
17 Juwita Tri Septasari 20 42 Sherly Dwi KA 19
18 Khoirun Nisak 16 43 Siti Mutrofin ===
19 Khusniatin N 16 44 Siti Rosyidah 17
20 Lailatul M 17 45 45. Winda S. 18
21 Lailis Savitri 16 46 Wulan Indah C 22
22 Larastika DW 21 47 Yudhi Aprianto 19
23 Luluk Nuraini M 19 Total 824
24 M. Arifuddin 18 Jumlah Siswa 45
25 M. Nurul Burhani 19 Rata-rata 18,31

Tabel 4.4
Skor Hasil Tes Kelayakan MPP “SM”
Sebagai Media Pembelajaran
Siklus 2 (Kelas X-2)

No. Nama Siswa Skor No. Nama Siswa Skor
1 Ach. Rifai Romly 19 26 M. Syaifuddin 18
2 Ainul Latifah 23 27 M. Zainuddin 20
3 Ainur Rochmah 19 28 Machmud 17
4 Ali As’ad 18 29 Mita Pratiwi 20
5 Amri Yahya === 30 Moh. Nasrudin 22
6 Aridatul Saidah 18 31 Mufidatus S. ===
7 Aulia Akbar 20 32 Muthoyibatu Aw 24
8 Ayu Novieanthi 20 33 Najwa Farah S 22
9 Ayu Rizka 21 34 Nikmahatus R 17
10 Bagus Suprayogi 25 35 Nuril Hidayati 20
11 Eka Sussiani 21 36 Nurul Umami 23
12 Fadilah 20 37 R. Awaluddin Yusuf 18
13 Fathir Fathoni 19 38 Raisa Hakim 19
14 Futischatis F 20 39 Risaatul Lailiyah 19
15 Ginarti SW 20 40 Sholihatun 24
16 Iis Sugiyati 23 41 Siti Aisyah 18
17 Imroatul M 19 42 Siti Latifah ===
18 Istifadatul M 23 43 Ulfa Oktaviana 16
19 Izzati Choirina 23 44 Wildah Faiz PH 20
20 Khusniatur R 21 45 Yona Nus D ===
21 Latifati A Ch 20 46 Zumrotus S. 19
22 Lianatus S 19 Total 826
23 Lia Andriani 16 Jumlah Siswa 42
24 Lina Wayu Fitria 20 Rata-rata 19,64
25 M. Fanani SM 21

 

            Tabel 4.3 menunjukkan bahwa tanggapan siswa terhadap kelayakan MPP “SM” rata-rata skornya 18,31. Sementara itu dalam tabel 4.4 di atas menunjukkan bahwa tanggapan terhadap kelayakan MPP “SM” rata-rata skornya 19,64. Berdasarkan atas kriteria kelayakan media pembelajaran di atas MPP “SM” tergolong tinggi. Artinya, MPP “SM” memiliki kelayakan yang tinggi sebagai media pembelajaran bahasa Indonesia.

3. Data Hasil Tes Motivasi Belajar


            Tes terhadap motivasi belajar siswa terdapat pada instrumen 04. Pada siklus 1 tes motivasi belajar diberikan kepada kelas X-4, dan pada siklus 2 tes motivasi diberikan kepada kelas X-2.


Adapun data hasil tanggapan kelayakan media pembelajaran sebagai berikut.


Tabel 4.5
Skor Hasil Tes Motivasi Belajar Siswa
Siklus 1 (Kelas X-4)

No. Nama Siswa Skor No. Nama Siswa Skor
1 Achmad Nafi 22 26 M. Rachmanto 23
2 Adam Lukman F 22 27 M. Hardianto S 20
3 Aisyah Nurdeka 20 28 M. Irvan R 20
4 Alfiyah Nur K 21 29 M. Agung S 20
5 Aulia Alfi Ismi I 24 30 M. Azam Zur’ain 23
6 Ayu Rohmah P 18 31 Nashrulloh Ibadi 23
7 Chusnul Ch 19 32 Nita Apri Rosalina 20
8 Desi Dwi A 20 33 Nur Afifah 19
9 Dimas Dwi A 21 34 Nur Mayasari 22
10 Eka Retno O 21 35 Olvy Trismayuni 21
11 Fajar Adi P 19 36 Rani Rahmawati 17
12 Fitri Muttafaqoh 22 37 Ria Rilla R ===
13 Henik Nur A 21 38 Rina Puspita Ningsih 20
14 Hindriyani R 19 39 Risca Faiqotin 21
15 Ike Oktavianis 24 40 Rizky Amelia 21
16 Istikhomah 18 41 Rusvita Efendi 21
17 Juwita Tri Septasari 21 42 Sherly Dwi KA 20
18 Khoirun Nisak 20 43 Siti Mutrofin ===
19 Khusniatin N 18 44 Siti Rosyidah 20
20 Lailatul M 22 45 45. Winda S. 23
21 Lailis Savitri 19 46 Wulan Indah C 21
22 Larastika DW 24 47 Yudhi Aprianto 21
23 Luluk Nuraini M 21 Total 933
24 M. Arifuddin 19 Jumlah Siswa 45
25 M. Nurul Burhani 22 Rata-rata 20,73

Tabel 4.6
Skor Hasil Tes Motivasi Belajar Siswa
Siklus 2 (Kelas X-2)

No. Nama Siswa Skor No. Nama Siswa Skor
1 Ach. Rifai Romly 20 26 M. Syaifuddin 19
2 Ainul Latifah 22 27 M. Zainuddin 18
3 Ainur Rochmah 20 28 Machmud 17
4 Ali As’ad 20 29 Mita Pratiwi 20
5 Amri Yahya === 30 Moh. Nasrudin 22
6 Aridatul Saidah 20 31 Mufidatus S. ===
7 Aulia Akbar 20 32 Muthoyibatu Aw 22
8 Ayu Novieanthi 20 33 Najwa Farah S 22
9 Ayu Rizka 23 34 Nikmahatus R 22
10 Bagus Suprayogi 22 35 Nuril Hidayati 22
11 Eka Sussiani 20 36 Nurul Umami 24
12 Fadilah 22 37 R. Awaluddin Yusuf 19
13 Fathir Fathoni 21 38 Raisa Hakim 19
14 Futischatis F 20 39 Risaatul Lailiyah 21
15 Ginarti SW 20 40 Sholihatun 23
16 Iis Sugiyati 23 41 Siti Aisyah 20
17 Imroatul M 22 42 Siti Latifah ===
18 Istifadatul M 22 43 Ulfa Oktaviana 21
19 Izzati Choirina 19 44 Wildah Faiz PH 21
20 Khusniatur R 20 45 Yona Nus D ===
21 Latifati A Ch 21 46 Zumrotus S. 22
22 Lianatus S 19 Total 869
23 Lia Andriani 16 Jumlah Siswa 42
24 Lina Wayu Fitria 22 Rata-rata 20,69
25 M. Fanani SM 21

 

            Tabel 4.5 di atas menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa kelas X-4 rata-rata skornya 20,73. Sementara itu dalam tabel 4.6 di atas menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa kelas X-2 rata-rata skornya 20,69.


            Jadi, berdasarkan atas kriteria motivasi belajar di atas, maka motivasi belajar tergolong tinggi. Artinya, siswa kelas X memiliki motivasi yang tinggi dalam pembelajaran menyimak yang menggunakan MPP “SM”.    

4. Data Hasil Tes Kemampuan Menyimak

 

            Penelitian terhadap kemampuan menyimak siswa, dilakukan segera setelah menayangkan MPP “SM”. Pada siklus 1 dilakukan tes kemampuan menyimak pada kelas X-4 dan pada siklus 2 dilakukan pada kelas X-2.           
Hasil kemampuan menyimak siswa dituliskan dalam tabel sebagai berikut.
Tabel 4.7        
Skor Hasil Tes Kemampuan Menyimak         
Siklus 1 (Kelas X-4)   

No. Nama Siswa Skor No. Nama Siswa Skor
1 Achmad Nafi 66 26 M. Rachmanto 66
2 Adam Lukman F 86 27 M. Hardianto S 73
3 Aisyah Nurdeka 90 28 M. Irvan R 53
4 Alfiyah Nur K 73 29 M. Agung S 90
5 Aulia Alfi Ismi I 60 30 M. Azam Zur’ain 66
6 Ayu Rohmah P 73 31 Nashrulloh Ibadi 83
7 Chusnul Ch 73 32 Nita Apri Rosalina 86
8 Desi Dwi A 80 33 Nur Afifah 80
9 Dimas Dwi A 90 34 Nur Mayasari 73
10 Eka Retno O 70 35 Olvy Trismayuni 86
11 Fajar Adi P 73 36 Rani Rahmawati 66
12 Fitri Muttafaqoh 90 37 Ria Rilla R ===
13 Henik Nur A 66 38 Rina Puspita Ningsih 73
14 Hindriyani R 80 39 Risca Faiqotin 90
15 Ike Oktavianis 76 40 Rizky Amelia 96
16 Istikhomah 83 41 Rusvita Efendi 63
17 Juwita Tri Septasari 73 42 Sherly Dwi KA 90
18 Khoirun Nisak 73 43 Siti Mutrofin ===
19 Khusniatin N 66 44 Siti Rosyidah 80
20 Lailatul M 86 45 45. Winda S. 93
21 Lailis Savitri 76 46 Wulan Indah C 86
22 Larastika DW 93 47 Yudhi Aprianto 76
23 Luluk Nuraini M 76 Total 3431
24 M. Arifuddin 90 Jumlah Siswa 45
25 M. Nurul Burhani 70 Rata-rata 77,24

Tabel 4.8
Skor Hasil Tes Kemampuan Menyimak
Siklus 2 (Kelas X-2)

No. Nama Siswa Skor No. Nama Siswa Skor
1 Ach. Rifai Romly 86 26 M. Syaifuddin 83
2 Ainul Latifah 96 27 M. Zainuddin 90
3 Ainur Rochmah 93 28 Machmud 93
4 Ali As’ad 93 29 Mita Pratiwi 100
5 Amri Yahya === 30 Moh. Nasrudin 100
6 Aridatul Saidah 100 31 Mufidatus S. ===
7 Aulia Akbar 60 32 Muthoyibatu Aw 100
8 Ayu Novieanthi 100 33 Najwa Farah S 100
9 Ayu Rizka 100 34 Nikmahatus R 100
10 Bagus Suprayogi 100 35 Nuril Hidayati 93
11 Eka Sussiani 100 36 Nurul Umami 100
12 Fadilah 100 37 R. Awaluddin Yusuf 80
13 Fathir Fathoni 100 38 Raisa Hakim 100
14 Futischatis F 86 39 Risaatul Lailiyah 100
15 Ginarti SW 90 40 Sholihatun 100
16 Iis Sugiyati 100 41 Siti Aisyah 96
17 Imroatul M 100 42 Siti Latifah ===
18 Istifadatul M 100 43 Ulfa Oktaviana 100
19 Izzati Choirina 100 44 Wildah Faiz PH 100
20 Khusniatur R 100 45 Yona Nus D ===
21 Latifati A Ch 96 46 Zumrotus S. 93
22 Lianatus S 90 Total 3758
23 Lia Andriani 100 Jumlah Siswa 42
24 Lina Wayu Fitria 96 Rata-rata 89,47
25 M. Fanani SM 90

            Tabel 4.7 di atas menunjukkan bahwa kemampuan menyimak siswa kelas X-4 pada siklus 1 rata-rata skornya 77,24. Sementara itu dalam tabel 4.8 di atas menunjukkan bahwa kemampuan menyimak siswa kelas X-2 pada siklus 2 rata-rata skornya 89,47.
Berdasarkan atas kriteria kemampuan menyimak di atas maka kemampuan menyimak siswa kelas X-4 tergolong baik, adapun kemampuan menyimak siswa kelas X-2 tergolong sangat baik.

            Hasil tersebut juga menunjukkan bahwa ada peningkatan nilai rata-rata kemampuan menyimak siswa, disamping peningkatan kelayakan MPP “SM”. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari perbedaan perlakuan yang semakin disempurnakan (pada silus 2) dari perlakuan sebelumnya (pada siklus 1). Hal ini dapat dilihat pada bagan berikut.

Aspek Siklus 1 Siklus 2 Keterangan
Aktivitas Guru – membuka pembelajaran
– memberikan penjelasan Awal

- membuka pembelajaran
– memberikan penjelasanawal

- aktivitas sama
– aktivitas sama

- menugasi menyimak terus menerus (45 menit)
– menugasi menulis 3 topik sekaligus (30 menit)
– menugasi menyimak pertopik (15 menit) kemudian menulis (10 menit)
– perbaikan cara

- tidak menghimbau siswa membuat catatan kecil
– menghimbau siswamembuat catatan kecil
– perbaikan cara

- melakukan observasi
– menutup pelajaran
– melakukan observasi
– menutup pelajaran
– aktivitas sama
– aktivitas sama

Aktivitas Siswa – menerima penjelasan Awal

- menerima penjelasan awal

- aktivitas sama
– menyimak terus menerus (45 menit)
– menulis 3 topik sekaligus (30 menit) hasil simakan
– sebagian kecil siswa (20%) membuat catatan kecil

- menyimak bertahap (15 menit menyimak dan 10 menit menuliskannya) hingga 3 tahap
– sebagian besar siswa (88%) membuat catatan kecil
– perbaikan cara
– perbaikan cara

MPP “SM”

- space kosong di tengah
– background mestinya samasetelah skip
– huruf statis monoton
– belum diberi autorun – space kosong di tengah sudahdiperbaiki
– membuat background samasetelah skip
– huruf di blow effect
– diberi autorun
– perbaikan desainmedia

Kelayakan MPP “SM” Skor rata-rata 18,31 Skor rata-rata
19,64 – peningkatan skor  rata-rata 1,33

Motivasi Siswa Skor rata-rata
20,73 Skor rata-rata
20,69 – perbedaan skor
rata-rata 0,04

Kemampuan Menyimak Skor rata-rata
77,24 Skor rata-rata
89,47 – peningkatan
Skor rata-rata
12,23

4.3 Interpretasi

 

Berdasarkan rangkaian penelitian hingga analisis data dapat diketahui bahwa :
(1) MPP “SM” dinilai tinggi kelayakannya sebagai media pembelajaran.
      MPP “SM” ini dinilai layak berdasarkan hal-hal berikut :
a. Materi MPP “SM” sudah sesuai dengan silabus Kurikulum 2006 (KTSP)
b. Desain gambar, warna, tulisan, maupun komposisi suara dan filmnya sudah baik
c. MPP “SM” mudah digunakan atau dipakai dalam pembelajaran
d. Navigasi menu-menu dan tombol dalam MPP “SM” sudah jelas dan tidak
    membingungkan
e. MPP “SM” sudah komunikatif artinya mudah dipahami para siswa.

 

Bertolak hal tersebut berarti hipotesis tindakan 1 dapat dibuktikan bahwa melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“, siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo menilainya layak sebagai media pembelajaran.

(2) Berdasarkan analisis terhadap motivasi belajar siswa menunjukkan bahwa siswa memiliki motivasi yang tinggi. Bahkan dalam observasi terhadap aktivitas pembelajaran semua siswa (100%) terlibat aktivitas aktif dalam pembelajaran. Hal ini menunjukkan hipotesis tindakan 2 dapat dibuktikan bahwa melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat memotivasi siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.

(3) Berdasarkan analisis terhadap kemampuan menyimak menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar yaitu rata-rata skornya 77,24 (tingkatan baik) pada siklus 1 meningkat menjadi rata-rata skor 89,47 (tingkatan sangat baik). Terjadi peningkatan skor rata-rata 12,23. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari adanya perbaikan dan peningkatan perlakuan dari siklus pembelajaran sebelumnya, melalui perbaikan MPP “SM” serta memberikan kesempatan kepada para siswa untuk membuat catatan kecil pada saat proses menyimak. Hal ini dapat membantu mengingat siswa terhadap materi yang disimaknya.

 

Berdasarkan hal itu maka hipotesis tindakan 3 dapat dibuktikan bahwa melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo. 

BAB V PENUTUP


5.1 Simpulan


Dari seluruh rangkaian penelitian sebelumnya akhirnya dapat dirumuskan simpulan sebagai berikut.

 

1.      Siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo menilai kelayakan tinggi terhadap MPP “SM” sebagai media membelajaran bahasa Indonesia.

2.      Siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo memiliki motivasi tinggi pada saat pembelajaran bahasa Indonesia dengan topik menyimak rekaman berita televisi dengan menggunakan MPP “SM” sebagai media membelajaran.

3.      Penerapkan MPP “SM” dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.

 

5.2 Saran


Disamping mampu membentuk kompetensi siswa, pembelajaran memperhatikan hal-hal berikut:

1.      Guru harus mengusahakan media pembelajaran yang mampu menarik perhatian dan minat siswa dalam belajar

2.      Media pembelajaran disamping gayut dengan topik pembelajaran perlu pula dinilai kelayakannya

3.     

Pada era ICT (Information Computer & Technology) banyak media pembelajaran dapat dihasilkan dengan bantuan komputer. Karena itu para guru perlu belajar dan menguasai teknologi pembelajaran berbasis komputer ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara.
Chandra. 2005. Menu Interaktif Flah MX 2004. Palembang : Maxiikom.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Fathoni, A.R. 1993. Pengembangan Komputer Pembelajaran (Unit II CIA). Surabaya University Press IKIP Surabaya.
Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.
Kurniawan, Yahya. 2006. Belajar Sendiri Macromedia Flash 8. Jakarta : PT Elex Media Komputindo.
Madya, Suwarsih. 2006. Teori dan Praktik : Penelitian Tindakan. Bandung : Alfabeta.
Mudhoffir. 2001. Prinsip-prinsip Pengelolaan Pusat Sumber Belajar. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Mukminan. 2001. Desain Pembelajaran. Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta Press.
Parera, Jos Daniel. 1997. Linguistik Edukasional. Jakarta : Erlangga.
Pramono, Andi. 2001. Presentasi Multimedia dengan Macromedia Flash 8. Yogyakarta : CV Andi Offset.
Prayitno, E. 1989. Motivasi dalam Belajar. Jakarta. Depdikbud.
Rachman, Saiful. dkk.. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya : SIC & Dinas P dan K Provindi Jawa Timur.
Sardiman, Arief S. dkk. 2006. Media Pendidikan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Suyatno.2004. Teknik Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya : SIC.
Tarigan, Henry Guntur. 1990. Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa. Bandung : Angkasa.
———————. 1990. Teknik Pengajaran Ketrampilan Menyimak. Bandung : Angkasa.
———————. 1994. Menyimak : Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa.
Uno, Hamzah B.. 2007. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta : Bumi Aksara
Wiriatmadja, Rochiati. 2007. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung : PT Remaja Roskakarya.

 

 

About these ads

11 responses to “Penggunaan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia

  1. Assalaamu’alaikum Wr. Wb.
    syukron pak buat PTKx

  2. BAGUS SAYA JUGA SUKA PAKAI MEDA PRESENTASI UNTUK PEMBELAJARAN SUPAYA SISWA TIDAK JENU.
    rojaki, s.[d.
    sma negeri 2 sekayu muba sumsel

  3. smart lho pak, komentar saya untuk membuat media pembelajaran itu sebenarnya mudah tapi perangkatnya lho pak yang susah kalau sekolah masih jadul

  4. baginda syarif hrp

    sya setuju dgn pendapat nurul,klw faktor penunjngnya kurang sama saja,,,

    mahasiswa unimed(fbs)

  5. Kalau kita kreatif, fasilitas no sekian, hehehe

  6. tHenkzZ y…sangaD memBantu….

  7. ini contoh PTK yang cukup bagus. meski saya bukan guru b.indo saya bisa mengambil manfaat dr tulisan anda. trimksh

  8. Terima kasih pak, PTK ini membantu saya dalam penyusunan skripsi saya :-)

  9. bagus juga saya lihat, walau saya bukan guru bhs. indonesia,

  10. Ya, terima kasih infonya!

  11. ariyani purwaningsih

    terimakasih, tulisan anda bisa menjadi acuan dalam penyampaian pembelajaran bhs indonesia di kelas, krn selama ini penyampaian materi bhs indonesia termasuk sulit.