Misteri Ikan Dewa

SINOPSIS BUKU “BICARA TENTANG IKAN DEWA”

Oleh : IDA FARIDA NURANI

SMPN I Cigandamekar kab Kuningan

Ida_6001@yahoo.co.id

174558_ikan1

 “Bicara tentang Ikan Dewa” merupakan buku yang bercerita tentang mitos, sejarah, kajian biologi dan upaya konservasi Ikan dewa yang menjadi ikon wisata kabupaten Kuningan. Ikan Dewa atau sering dikenal dengan kancra bodas (kancera) memiliki pesona yang memikat untuk dikaji keberadaanya. Masyarakat kuningan ketika di tanya “apa itu ikan  dewa? Mereka akan menjawab dengan spontan yaitu ikan yang dikeramatkan, ikan yang tidak boleh dimakan atau di ganggu keberadaanya atau ikan jelmaan dari prajurit prabu Siliwangi serta cerita rakyat yang berkembang lainnya yang hampir mirip. Ikan Dewa endemik kawasan taman nasional gunung Ciremai (TNGC) yang terbatas sebaranya di kolam Darmaloka, Cigugur, Cibulan, kebon Balong dan Pasawahan. Keberadaan ikan dewa menjadi sangat penting merupakan bagian dari cerita rakyat kuningan, memiliki nilai sejarah yang tinggi, pesona wisata, dan kita bisa belajar bagaimana masyarakat kuningan melestarikan ikan ini melalui kearifan lokalnya.

Salah satu habitat ikan dewa adalah kolam pemandian Cibulan yang terletak di desa Manis Kidul Kecamatan Jalaksana. Nama Cibulan itu sendiri diduga merujuk pada kata Cai Katimbulan yang berarti mata air. Pada tahun 1939, kolam tersebut dijadikan pemandian dengan mata airnya berada di tengah kolam. Mitos yang berkembang dalam masyarakat Kuningan dan sekitarnya, Ikan dewa yang menghuni kolam pemandian Cibulan adalah jelmaan prajurit prabu Siliwangi.  Ikan dewa atau Kancra Bodas adalah prajurit prabu siliwangi yang dikutuk karena dianggap melanggar  titah raja. Versi lain menyatakan ikan dewa merupakan jelmaan putri cantik.  Menurut kepercayaan masyarakat sekitar ikan ini akan menghilang ketika dikuras, jumlahnya akan tetap, hidupnya puluhan bahkan ratusan tahun. Masyarakat kuningan tidak berani menggangu keberadaannya. Jika ada ikan yang mati pun akan di urus layaknya mayat manusia. Karena menurut beberapa sumber yang bekembang ikan ini jika mati bau bangkainya sangat menyengat.  Masyarakat percaya jika ada yang berani memakan atau mengambil maka akan terjadi musibah.(Noerjito dkk, 2009)

Sejarah keberadaan ikan dewa tidak terlepas dari perkembangan Kerajaan Siliwangi dan keraton kasepuhan Cirebon. Menurut catatan sejarah ikan Dewa pertama kali dipelihara oleh Sunan Gunung Jati pada tahun 1420 M. Saat itu ada pertapa sakti bernama Ki gede Padara yang berusia lebih dari 100 tahun bertemu sunan Gunung jati yang sedang menyebarkan agama islam di daerah Cigugur. Ketika ia menyatakan diri masuk islam ia berniat wudhu dan atas ijin Allah keluarlah mata air di daerah tersebut. Dan setelah wudhu dan mengucapkan 2 kalimah syahadat keinginan untuk meninggal dengan tenang terwujud. Mangkanya daerah ini di sebut Cigugur (gugur/ meninggal). Dalam kolam yang terbentuk dari beberapa mata air yang muncul oleh Sunan Gunung Jati  ditaburkan sejenis ikan bernama Kancra Bodas. Anehnya, sejak zaman Sunan hingga kini, jumlah ikan Kancra Bodas ini tidak pernah berkurang atau lebih dari 300 ekor. Jumlah ini selalu tetap ada larangan untuk memakan ikan ini sejak jaman dahulu. Terlepas benar atau tidaknya mitos tersebut keberadaan ikan dewa menjadi lestari bahkan dipercaya umurnya melebihi 100 tahun. Tidak hanya di kabupaten Kuningan  yang melestarikan ikan dewa ini dengan cara di keramatkan, beberapa daerah seperti sumatra, Jawa tengah, Jawa timur pun  melaporkan hal yang sama sebagai upaya leluhur kita melestarikan ikan langka.

Kajian biologis ikan dewa banyak diteliti oleh para ahli.  Ikan dewa adalah jenis kancra bodas yang memiliki nama ilmiah Tor douronensis  hasil perbaikan nama sebelumnya Labeobarbus douronensis. Ikan Tor sp ini memiliki banyak nama sering disebut semah (sumatra), Kerling (Aceh), jurung da Ihan (Sumatra utara), kancra bodas (jawa Barat), Soro (Bogor), Senggaring (Belitar, jawa timur), Lempon atau kambangan (jawa Tengah) serta beragam nama untuk jenis Tor sp . Ikan ini terbatas jumlahnya dan hanya pada daerah daerah yang memiliki arus deras, sungai yang kaya oksigen, jernih dan daerah berbatu. Ikan tor adalah pemakan segala (omnivora) memakan alga, serangga, crutacea, ikan kecil, biji-bijian , buah buahan bahkan makanan manusia seperti roti bisa dilahapnya. Morfologi ikan Tor mempunyai ciri khas bersisik besar dan sua mulut yang bisa disembulkan terdiri dari 2 tahap, berduri keras, bentuk tubuh streamline, memanjang.  Membedakan jenis-jenis  ikan Tor terlihat dari variasi bentuk morfologi, jumlah duri, sisik, jumlah sisik linea lateris, sisik lingkar kepala dan warna. Hal ini akan nampak jelas pada saat dewasa sehingga para ahli lebih memilih membedakan berdasarkan variasi pita DNA Berdasarkan kajian pustaka terdapat 21 spesies ikan tor yang berkembang di Indonesia dan Asia.(Asih dan Subagja ,2016);

Kajian konservasi ikan Tor telah dilakukan oleh Kamal dkk (2015) yang menyatakan bahwa upaya konservasi ikan Tor soro di kabupaten kuningan lebih efektif dibandingkan sungai ciliwung. Hal ini didasarkan pada pendekatan kearipan lokal sebagai pendekatan prioritas. Melalui upaya konservasi mampu meminimalisir kerusakan  habitat dan mendorong trean positif terhadap populasi ikan Tor di alam. Upaya konservasi yang berbasis kearipan lokal dengan dijadikannya ikan keramat sehingga tidak diganggu keberadaanya menjadikan ikan ini lestari. Pemerintah daerah kuningan menjaga kelestarian ikan dewa  melalui regulasi dengan dikeluarkanya peraturan daerah no 10 tahun 2009 tentang kelestraian ikan dan burung. Habitat Ikan dewa berada dalam kawasan Taman nasional Gunung Ciremai yang juga dilindungi oleh undang –undang taman nasional. Keberadaan Ikan Dewa merupa daya tarik wisata yang merupakan sumber APBD kabupaten kuningan dan  penghasilan masyarakat sekitar.  Hal ini menjadikan ikan dewa  memiliki nilai ekonomis tinggi tanpa harus di konsumsi sehingga keberadaanya tetap lestari. Ancaman terbesar adalah kerusakan lingkungan hutan sekitar, berkurangnya daya serap air, pencemaran kawasan air yang penting diperhatikan oleh masyarakt sekitar.

Kuningan, 22 September 2017

One response to “Misteri Ikan Dewa

  1. Terimakasih infonya. Jangan lupa kunjungi kami juga http://bit.ly/2Mr7sFC